Saat Freeport Kembali Mempermainkan Pemerintah

25
Menteri Keuangan Sri Mulyani/Int

JAKARTA – Perusahaan tambang asal Amerika Serikat, PT Freeport benar-benar sedang mempermainkan pemerintah dengan tidak mengikuti aturan pajak yang ditetapkan oleh Pemerintah.

PT Freeport menginginkan aturan pajak yang sama dalam aturan KK yakin nail down dan bukan mengikuti IUPK yakni prevailing.
Perusahaan tambang emas ini telah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) yang sebelumnya berstatus Kontrak Karya (KK).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun tampak geleng-geleng kepala melihat keinginan PT Freeport, menurutnya masalah Freeport merupakan masalah yang lintas dimensi yang harus dilihat lebih detail.

“Sebetulnya persoalannya tidak hanya pada masalah pajak saja. Kontrak dengan Freeport menyangkut banyak dimensi,” kata Sri Mulyani saat ditemui di Kantornya yang dikutip dari INILAH.com.

Terkait masalah ‘nego’ pajaknya, Menkeu Sri mengaku masih dalam tahap pembicaraan dilingkungan kementeriannya dan sedang menghitung-hitung besaran pajaknya dalam aturan IUPK.

“Kami dari Kemenkeu adalah dari sisi menghitung kewajiban dan membandingkannya antara KK yang selama ini dilakukan oleh Freeport dan berapa jumlah penerimaan negara berdasar KK itu, dengan apabila terjadi perubahan melalui apa yang disebut IUPK kita akan menghitungnya,” katanya

“Ini semua perlu untuk dicerminkan dalam kontrak yang baru yang tentu saja di sisi lain kita perlu melakukan negosiasi yang teliti, yang baik, agar kepentingan negara tetap terjaga, namun dari sisi lain kita juga perlu memberi kepastian kepada para pengusaha, sehingga mereka perlu untuk melakukan planning,” tambahnya.

Sayangnya jawaban Menkeu Sri belum memberi kepastian perhitungan fiskal seperti apa yang telah khusus di ramu pemerintah untuk menjawab tekanan Freeport.

“Jadi dua kepastian, yaitu kepastian bagi republik untuk mendapatkan haknya yang lebih baik, dan kepastian bagi mereka supaya mereka bisa merencanakan investasinya dalam jangka panjang dan jumlahnya signifikan, baik di pertambangannya maupun di hilirnya,” katanya.

Rekomendasi Berita

Baca Juga