Lakukan Eutanasia, Dokter Ini Nekat Bunuh Diri

91

MEMILIKI pekerjaan idaman tidak mampu menjamin seseorang memiliki hidup bahagia. Tekanan dan tuntutan pekerjaan yang tidak sesuai bayangan mampu menimbulkan rasa stres.

Melansir Oddity Central, Chien Chih-Cheng, seorang dokter hewan di Taiwan memilih mengakhiri hidupnya. Dia membunuh dirinya dengan melakukan eutanasia. Tindakan nekat ini dilakukannya karena merasa bersalah setelah membunuh ratusan binatang.

Eutanasia sendiri merupakan tindakan menyuntikan obat yang dapat menghentikan pernapasan. Umumnya tindakan ini dilakukan oleh dokter pada pasien yang memiliki harapan hidup rendah dan ingin mempercepat kematiannya.

Kisah menyedihkan bermula saat Chih-Cheng, seorang pecinta hewan memutuskan bekerja di tempat penampungan binatang di Distrik Sinwu, Taoyuan. Mulanya ia bekerja di tempat itu untuk membantu binatang terlantar mendapatkan keluarga baru.

Sayang, pekerjaan tersebut juga mengharuskan Chih-Cheng menyuntik mati para binatang yang tidak kunjung diadopsi.

Tindakan itu kemudian membuat banyak aktivis dan pecinta hewan melakukan protes terhadap wanita yang juga menjabat sebagai direktur tempat penampungan tersebut.

Wang Hao Yu, Dewan Kota Taoyuan menuliskan dalam akun facebooknya, Chih-Cheng telah mendapatkan banyak kecaman atas tindakannya. Para aktivis dan pecinta hewan yang kesal bahkan menyebutnya “tukang jagal”.

“Beberapa aktivis dan pecinta hewan melepaskan serangan mereka pada penampungan Sinwu dan Chih-Cheng jadi sasarannya. Hal itu sangat menyakiti hatinya mengingat ia sendiri adalah pecinta hewan,” tulis Yu.

Kecaman yang terus datang membuat Chih-Cheng tidak dapat menahan rasa bersalah. Dengan obat eutanasia yang ia gunakan untuk menyuntik para binatang, wanita 31 tahun itu memilih mengakhiri hidupnya.

Sebelum bunuh diri, ia sempat menuliskan pesan yang berisi pesan terhadap pemerintah untuk membiarkan binatang liar tetap hidup.

“Saya harap, dengan kepergianku kalian sadar bahwa binatang juga makhluk hidup. Saya harap pemerintah mengerti bagaimana mengendalikan sumber masalah,” tulis Chih-Cheng.

Kejadian tersebut rupanya mampu menyadarkan pemerintah. Pemerintah akhirnya melakukan revisi terhadap undang-undang dengan membuat ‘nol eutanasia’ atau pelarangan suntik mati terhadap binatang liar. Peraturan itu mulai berlaku 4 Febuari 2017.

Tidak hanya itu, pemerintah juga berencana melakukan investasi sebesar US$5,8 juta (Rp77 miliar), dan membuat peraturan denda sebesar US$125 (Rp1,6 juta) terhadap pemilik yang meninggalkan peliharaannya di tempat penampungan.

(sumber: CNNIndonesia/sulselsatu)

Lakukan Eutanasia, Dokter Ini Nekat Bunuh Diri 1

Rekomendasi Berita

Baca Juga