Usaha Partai Penguasa Rebut Ibukota Demi Gengsi

78
Pilkada DKI Jakarta, Pilgub DKI, Quick Count Pilgub DKI, Ahok-Djarot, Anies-Sandi, SBY, Prabowo Subianto, Anies-Sandi Menang, Megawati Soekarno Putri, Megawati, Makassar, Sulsel, Media di Sulsel, Sulselsatu, Terkini dan Terbaru tentang Sulsel
Ketua Umum PDIP megawati Soekarnoputri saat menggelar jumpa pers pasca rilis Quick Count Pilgub DKI Jakarta, Rabu 15 Februari 2017/INILAH.com

JAKARTA – Pilgub DKI Jakarta benar-benar menyita perhatian masyarakat nasional. Pertarungan tiga pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur bersaing ketat, meski pada akhirnya paslon nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Silvyana Murni (Agus-Silvy) yang diusung oleh Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN kandas lebih dahulu dibandingkan dua paslon lainnya yakni Basuki Tjahja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) yang diusung PDIP, Partai Golkar, Partai NasDem, PBB dan Partai Hanura dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) yang diusung Partai Gerindra dan PKS.

Pada putaran kedua Pilgub DKI Jakarta, partai penguasa sebagai pengusung Ahok-Djarot, PDI Perjuangan berambisi mengumpulkan mayoritas kekuatan politik untuk menghadapi Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Instrumen Koalisi Indonesia Hebat (KIH) bakal dimaksimalkan. Merebut Ibu Kota Jakarta menjadi harga mahal yang harus diperjuangkan. Berhasilkan PDI Perjuangan?

Nama besar PDI Perjuangan dipertaruhkan dalam hajat politik lokal DKI Jakarta pada putaran kedua mendatang. Merebut Ibu Kota dalam kontestasi Pilkada menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Ibukota Jakarta secara politik memiliki daya tarik yang luar biasa.

Ada gengsi politik bagi siapa saja yang memenanginya. Lebih dari itu, Jakarta juga menjadi etalase politik nasional yang mudah diakses publik. Resonansi politik Jakarta mempengaruhi perebutan kursi Presiden dalam suksesi politik 2019 mendatang.

Usaha Partai Penguasa Rebut Ibukota Demi Gengsi 1

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam rapat Rakor Pemenangan Pilgub DKI Jakarta, Selasa (21/2/2017) mengatakan pihaknya akan memaksimalkan semua potensi kekuatan yang dimiliki partai berlambang moncong putih tersebut. Menurut Mega, pihaknya akan memaksimalkan dukungan dari partai Koalisi Indonesia Hebat (KIH).
“Termasuk melobi partai yang ada di dalam KIH,” sebut Presiden Kelima RI itu.

Pernyataan Mega ini memang cukup kontekstual. Karena memang dalam Pilkada DKI Jakarta ini, tidak semua partai politik di barisan KIH masuk menjadi pendukung pasangan Ahok-Djarot seperti PKB, PAN dan PPP dalam Pilkada putaran pertama justru mendukung pasangan Agus-Sylvi.

Kendati dalam praktik Pilkada di sejumlah daerah, irisan koalisi KIH tidak tercermin dalam proses Pilkada. Tidak jarang antarpartai di KIH justru saling berseberangan. Karena koalisi KIH hanya berada di level pusat, bukan koalisi keseluruhan hingga ke daerah.

Sementara Sekretaris Jenderal DPP PPP Arsul Sani mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu hasil hitung resmi KPU. Hanya saja, Arsul menegaskan untuk menghadapi Pilkada putaran kedua pihaknya melakukan konsultasi publik di internal PPP.

“Kita bertanya kepada jajaran konstituen kita kelompok partai, para alim ulama sebaiknya PPP seperti apa?,” ujar Arsul di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (21/2/2017).

Selain itu, anggota Komisi III DPR RI ini juga menyebutkan pihaknya juga akan mengkonfirmasi kepada tiga mitra politiknya yang tergabung dalam koalisi Agus-Sylvi dalam Pilkada putaran pertama pertengahan Februari lalu.

“Kita ingin mendengar bagaimana mereka menyerap aspirasi dari akar rumput mereka,” cetus Arsul.

Sebelumnya, Forum Pimpinan Cabang PPP DKI Jakarta Saiful Rahmat Dasuki mengatakan desakan konstituen DKI Jakarta di akar rumput menginginkan mendukung pasangan Anies-Sandi.

“Ini desakan dari bawah,” kata Rahmat dalam deklarasi penyampaian dukungan di Posko Pemenangan Anies-Sandi di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/2/2017).

Awal pekan ini, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melakukan pertemuan dengan Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar di Kantor DPP PKB Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Tidak ada kesepakatan yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut. Hasto berkilah bila pertemuan tersebut merupakan silaturahim rutin di antara partai koalisi pemerintah.

Sementara Wakil Ketua Umum DPP PAN Hanafi Rais mengklaim kader dan pengurus partai PAN menginginkan gubernur baru yang dicintai oleh rakyat dan tidak berkata arogan.
“Kita menginginkan gubernur baru dan sosok gubernur yang mencintai dan dicintai rakyat yang tidak arogan dan membawa terobosan-terobosan untuk membangun Jakarta. Untuk alasan itu ya pasangan nomor tiga yang akan didukung PAN,” cetus Hanafi lugas.

Keinginan PDI Perjuangan menggandeng KIH untuk memuluskan langkah Ahok bukanlah perkara mudah. Apalagi dalam konteks partai politik yang berbasis Islam, Pilkada DKI Jakarta selain memiliki irisan politik juga diyakini terkait dengan irisan keyakinan terhadap larangan memilih pemimpin non-muslim, setidaknya itu yang dipahami oleh pemilih partai politik Islam seperti PKB, PAN dan PPP.

Sumber : INILAH.com

Rekomendasi Berita

Baca Juga