Fenomena Incumbent Tumbang, Pengamat : Head to Head Sulitkan Petahana

339
  • 29
    Shares
Pilkada Serentak/INT

MAKASSAR – Belakangan ini banyak orang tercengan dengan tumbangnya para incumbent dalam pertarungan pemilihan kepala daerah. Sejatinya incumbent sebagai pemegang kendali kekuasaan akan mudah memenangkan pertarungan dibanding dengan pendatang baru atau penantang.

Selain telah memperlihatkan hasil kerja selama satu periode, Incumbent juga memiliki kukuatan menggerakkan sumber daya yang dimiliki untuk mengarahkan dukungan kepadanya.

Namun kenyataannya, tidak sedikit incumbent yang justru kalah pada saat pemilihan, hal itu setidaknya tah meruntuhkan opini jika incumbent adalah calon kuat yang sulit terkalahkan.

Pada Pilkada serentak di Sulsel 2015 lalu, dari 11 kabupaten yang melakukan pilkada, 5 kabupaten diikuti incumbent justru kalah. belum lagi pilkada Takalar yang baru selesai digelar 15 Februari 2017 ini, menambah catatan jumlah Incumbent yang kalah.

Fenomena Incumbent Tumbang, Pengamat : Head to Head Sulitkan Petahana 1

Sementara untuk Pilkada serentak 2018 mendatang di Sulsel, dari 12 kabupaten kota yang akan menggelar pesta demokrasi lima tahunan itu, 7 diantaranya diikuti oleh Incumbent. antara lain, Makassar, Jeneponto, Bone, Sinjai, Pare-pare, Enrekang dan Palopo.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Dr. Firdaus Muhammad menilai, tumbangnya incumbent dalam event pilkada bisa dilihat dari beberapa faktor.

“Penyebabnya, masyarakat belum puas dengan kinerja incumbent dan berharap pada pendatang baru dengan program yang lebih menjanjikan,” kata Firdaus kepada SULSELSATU.com, Kamis 23 Februari 2017.

Selain itu, lanjut Firdaus, faktor kesolidan partai pengusung juga bisa menjadi penyebab tumbangnya incumbent yang telah berkuasa selama 1 periode.

“Kinerja partai pengusung yang tidak solid, misalnya Golkar dan partai lain yang terjadi di Takalar,” tambah mantan Aktifis PMII itu.

Belum lagi jika Incumbent bertarung Head To Head dengan penantang, hal jelas Firdaus, akan semakin menyulitkan posisi Incumbent.

“Posisi head to head sangat menyulitkan Incumbent karena masyarakat condong membandingkan kedua pasangan berdasar kinerja atau harapan dari pendatang baru,” tutup pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah itu.

Akbar

Fenomena Incumbent Tumbang, Pengamat : Head to Head Sulitkan Petahana 2

Rekomendasi Berita

Baca Juga