Colliq Pujie, Perempuan Intelektual Penggerak Zaman yang Terlupakan

140
Monumen Colliq Pujie/INT

UNTUK memperingati keberhasilan kaum perempuan dalam berbagai bidang, PBB menetapkan tanggal 8 Maret sebagai hari perempuan internasional/International Women Days (IWD).

Maraknya gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi saat memasuki abad ke-20 mengakibatkan dampak buruk bagi buruh perempuan. Kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah menjadi pemicu kaum perempuan membentuk serikat buruh.

Berbagai peristiwa mengawali perayaan IWD ini, diantarnya peringatan kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada tahun 1911 yang mengakibatkan 140 nyawa perempuan melayang.

Puncaknya pada 8 Maret 1857 di New York City, kaum perempuan mengadakan sejumlah protes namun berakhir dengan penyerangan dan pembubaran paksa oleh aparat kepolisian.

(Colliq Pujie, Perempuan Perkasa Tanah Bugis)

Di Indonesia sendiri, tak banyak tokoh perempuan yang terkenal. Kita hanya mengenal Kartini, Cut Nyak Dhien atau Kristina Martha Tiahahu. Sosok Colliq Pujie, nyaris tak ada yang mengenalnya.

Dr. Ian Caldwel sejarawan Inggris mengatakan “Terlalu kecil kalau seorang sekaliber Colliq Pujie dikurung dalam tempurung Indonesia, ia adalah milik dunia. Karyanya, epos “I Lagaligo” adalah ikon kebudayaan Indonesia yang menjadi kanon sastra dunia yang kemudian menjadi sumber inspirasi banyak orang dalam merekonstruksi sejarah dan kebudayaan Indonesia”.

Colliq Pujie adalah wanita bangsawan berdarah Bugis-Melayu yang lahir pada abad ke -19 di Tanete Barru Sulawesi Selatan. Perannya dalam menentang kekuasaan belanda mengakibatkan ia harus diasingkan ke Makassar.

Di tengah pengasingannya itulah colliq pujie bersama dengan matthes menyalin naskah I Lagaligo di atas kertas selama 20 tahun. Colliq pujie dan matthes pertama kali bertemu pada bulan Agustus 1852 di Tanete.

Salah satu jasa Colliq Pujie yang tak bisa terlupakan adalah salinan tangannya tentang La Galigo sebanyak 12 Jilid yang kini tersimpan di Perpustakaan universitas Leiden, Belanda. La Galigo ini merupakan Lokal genius, intelektual publik yang dimiliki oleh orang-orang Bugis dan diakui banyak ahli sebagai karya dengan kualitas penulisan yang baik.

FAKTA UNIK DIBALIK SOSOK COLLIQ PUJIE yang tak banyak orang ketahui. Yang pertama, Sebagai Penyalin naskah La Galigo. Colliq Pujie menyalin cerita La galigo sebanyak 12 Jilid, setebal 2851 halaman folio saat dirinya diasingkan ke Makassar. Ke duabelas jilid tersebut merupakan rangkaian episode yang sambung menyambung, membangun satu alur pokok cerita dari awal hingga akhir.

Fakta kedua, sebagai penulis sejarah kerajaan tanete. Dalam Naskah Lontaraqna Tanete, Colliq pujie bercerita seputar kehidupan istana dan raja-raja Tanete terdahulu. Mulai dari raja Tanete pertama sampai raja ke-20. Setiap tokoh diceritakan detail mulai dari kelahiran, romansa percintaan hingga ke perkawinan. Fakta ketiga, Colliq Pujie sebagai penyalin La Toa.

La Toa adalah sejenis lontaraq dari Tana Bone. Penulisan Lontaraq La Toa di duga mulai pada masa raja Bone VII yang bernama La Tenrirawe Bongkangnge (1560-1578). La Toa dijadikan sebagai tuntunan bagi penguasa, terutama dalam menjalankan pemerintahan dan melaksanakan peradilan. Fakta keempat, Colliq Pujie sebagai Pencipta Aksara Bilang-Bilang.

Aksara bilang-bilang diciptakan untuk menulis surat-surat rahasia saat dirinya melakukan pemberontakan melawan Belanda. Karena khawatir surat-surat yang ditulisnya di baca oleh orang yang tidak berhak, maka Coliiq Pujie menciptakan aksara bilang-bilang yang hanya diketahui oleh segelintir orang.

Kutipan Surat-surat matthes yang dikirim kepada NBG (Nederland Bijbelgenoschap) tanggal 7 Mei 1861, tentang Colliq pujie

“Yang lebih bermanfaat ialah perkenalanku dengan puterinya, Aroe Pantjana(Colliq Pujie), sekarang seorang janda yang umurnya sekitar 40 tahun. Dia sungguh-sungguh wanita berpengetahuan sastra, yang mengarang surat penting untuk ayahnya. Bukan hanya bahasa kedaton Bone yang dikuasainya, bahkan ia mahir dalam bahasa La Galigo yang kuno yang sekarang tidak digunakan lagi”

Surat yang kedua tentang kondisi Colliq pujie dalam pengasingan. ” Jika membaca syair kepahlawanan Bugis yang lama, sastra La Galigo yang sering dibicarakan dan menjadi keahlian ratu tersebut (Aroe Pantjana), saya menemui bahwa dahulu segala sesuatu dibuat dari emas atau dihiasi dengan emas yang banyak. Tetapi harus dikatakan zaman sudah sangat berubah. Ya, saya mau bertaruh bahwa kalau anda dengan pukulan tongkat sihir ditempatkan di istana teman bugis saya ini, anda tidak berpendapat itu sebuah istana, tapi sebuah kandang babi. Ya, juga hampir anda tidak berani makan sesuatu dari makanannya yang enak. Untung akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan segala sesuatu, tetapi tidak menyenangkan hidup diantara pribumi senantisa”

Colliq pujie adalah sosok perempuan besar yang hidup melampaui batas-batas zaman meskipun sosoknya saat ini nyaris dilupakan, namun La Galigo membuktikan bahwa dirinya merupakan sosok Intelektual Penggerak Zaman. Tak salah jika almarhum Prof. DR. Fachruddin Ambo Enre menyebutnya “Pahlawan yang terlupakan”

Selamat Hari Perempuan Internasional…

Rekomendasi Berita

Baca Juga