Makna “Uang Panai” Saat Meminang Gadis Bugis-Makassar

145
Uang Panai, Tradisi Uang Panai, Uang Panai Mahal, Budaya Uang Panai, Pernikahan Bugis-Makassar, Budaya Bugis Makassar, Tradisi Bugis Makassar, Sejarah Uang Panai, Sejarah Tradisi Uang Panai
Ilustrasi. (INT)

SULSELSATU.com, MAKASSAR– Tradisi “Uang Panai'” atau uang mahar telah lama berlaku di Bugis-Makassar. Namun, Uang Panai ini biasanya menjadi beban bagi pria untuk melamar wanita idamannya.

Sebab, nilai Uang Panai ini biasanya jumlahnya selangit. Nilainya bahkan bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Uang Panai memiliki kelas sesuai dengan strata sang wanita, mulai dari kecantikan, keturunan bangsawan, pendidikan, hingga pekerjaannya.

Pengaruh faktor pendidikan misalnya, jika gadis yang akan dilamar memiliki pendidikan sebagai sarjana strata 1, harga panai akan lebih mahal dari gadis lulusan SMA, sedangkan perempuan lulusan S2 akan jauh lebih mahal dari perempuan lulusan S1.

Sebagai contoh, jika Uang Panai bagi perempuan lulusan SMA senilai Rp 50 juta, maka Uang Panai bagi gadis berpendidikan S1 diperkirakan Rp 75 juta hingga Rp 100 juta. Untuk perempuan berketurunan bangsawan, nilai Uang Panai bisa mencapai miliaran rupiah.

Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi nilai Uang Panai, seperti sang gadis misalnya sudah berhaji atau belum. Meski demikian, nilai Uang Panai biasanya masih bisa didiskusikan oleh keluarga kedua calon mempelai.

Mengapa mahal?. Seperti dikutip dari Kompas.com, konon zaman dulu, para orangtua ingin melihat keseriusan sang pria dalam melamar anak wanitanya sehingga sang pria betul-betul berusaha mengupayakan Uang Panai untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya.

“Makanya susah untuk mendapatkan orang suku Bugis Makassar, tapi susah pula lepasnya atau bercerai. Dalam artian, tingginya harga panai akan membuat pihak lelaki akan berpikir seribu kali untuk menceraikan istrinya karena ia sudah berkorban banyak untuk mempersunting istrinya. Pada Uang Panai itulah dilihat kesungguhan sang pria untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya,” kata Budayawan Sulawesi Selatan Nurhayati Rahman.

Dosen Universitas Hasanuddin ini mengatakan, Uang Panai merupakan penghargaan pria kepada sang gadis yang ingin diperistri.

Menurut dia, Uang Panai menunjukkan dengan jelas bahwa warga Bugis sangat menghargai keberadaan perempuan sebagai makhluk Tuhan yang sangat berharga sehingga tak sembarang orang dapat meminang wanita Bugis.

Rekomendasi Berita

Baca Juga