Memilih Pemimpin

51
Luthfi Andi Mutty (Anggota DPR RI Fraksi NasDem)
Luthfi Andi Mutty (Anggota DPR RI Fraksi NasDem)

SULSELSATU.com – Vox Populi Vox Dey. Suara Rakyat Suara Tuhan. Itu dalil dalam sebuah negara demokrasi. Sejalan dengan itu Abraham Lincoln menegaskan bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari oleh dan untuk rakyat.

Terkait dengan hal tersebut, maka di negara demokrasi, penentuan pemimpin sepenuhnya di tangan rakyat. Partai sebagai lembaga yang memperoleh mandat secara konstitusional hanya melakukan seleksi kader2 atau orang yang dianggap layak untuk jadi pemimpin, yang kemudian ditawarkan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan untuk dipilih.

Adapun pertimbangan utama bagi rakyat dalam memilih pemimpin adalah rekam jejak (track record). Artinya, rakyat yang cerdas di negara demokrasi tidak akan memilih pemimpin seperti membeli kucing dalam karung. Tidak diketahui apakah kucing itu sehat, kucing kurap ataukah kucing garong.

Rakyat di sebuah negara demokrasi, boleh saja di anggap tidak bermoral, tidak peduli atas nilai-nilai agama, tetapi dalam memilih pemimpin mereka sangat memperhatikan moral sosial calon pemimpin.
Maka, Edward (Ted) Kennedy, salah seorang dari clan politik terpandang di AS, tidak pernah lolos menjadi bakal calon presiden karena pada pemilihan internal di Partai Demokrat saja dia sudah gagal meraih dukungan. Apa sebabnya?

Ternyata, dalam track record Ted Kennedy, dia tercatat pernah nyontek saat ujian di tingkat SMP. Bagi orang Amerika, nyontek itu adalah perilaku yang tidak jujur. Orang Amerika yang sangat menjunjung nilai-nilai kejujuran sepakat tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak jujur.

Sebab kedua, pada suatu waktu Ted Kennedy yang dalam keadaan agak mabuk berkendara bersama sekretarisnya seorang wanita kembali dari night club. Dalam perjalanan ternyata mobilnya jatuh ke danau. Ted selamat berenang ke tepi danau meninggalkan sekretarisnya yang tewas tenggelam karena tidak bisa berenang.

Di mata orang Amerika tindakan Ted yang membiarkan sekretarisnya mati tenggelam adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Dan orang Amerika tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana mungkin seorang presiden bisa menyelematkan ratusan juta warga Amerika jika menyelamatkan satu orang saja dia tidak mampu?

Dari uraian diatas dapat disimpulkan:

1. Keputusan tertinggi dalam memilih pemimpin ada di tangan rakyat.

2. Dalam memilih pemimpin, penting sekali melihat track record si calon.

Oleh karena itu, mereka yang ingin jadi pemimpin atau pejabat publik harus bersedia “ditelanjangi” agar rakyat pemilih mengetahui moral sosial dari si calon. Maka, sudah saatnya calon pemimpin di Indonesia, pada semua level dan semua jenis, dibuka rekam jejaknya kepada rakyat pemilih agar mereka tahu segala kebaikan dan keburukan calon.

Jangan biarkan rakyat memilih pemimpin seperti membeli kucing dalam karung. Partai Politik harus bertanggung jawab menjadikan rakyat menjadi pemilih cerdas.

Penulis : Luthfi Andi Mutty
(Anggota DPR RI Fraksi NasDem)
Editor : Arput Rh

Rekomendasi Berita

Baca Juga