Mengapa Medsos Tempat Sebar Hoax Paling Efektif? Alasannya

8
Media sosial telah dimanfaatkan bukan cuma untuk bertemu dengan kawan lama, tetapi juga mencari dan berbagi informasi. Sayang, banyak pihak menyalahgunakan media sosial untuk menyebar berita bohong dan menjadikannya sebagai saluran favorit menyebar hoax. (Sulselsatu.com/INT)
Ilustrasi. (Int)

SULSELSATU.com, Media sosial telah dimanfaatkan bukan cuma untuk bertemu dengan kawan lama, tetapi juga mencari dan berbagi informasi. Sayang, banyak pihak menyalahgunakan media sosial untuk menyebar berita bohong dan menjadikannya sebagai saluran favorit menyebar hoax.

Menurut riset yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada Februari 2017, penyebaran hoax paling banyak diterima melalui media sosial yang mencapai 92,4 persen. Media sosial yang dimaksud di sini termasuk Facebook, Twitter, Instagram, Path, Line, WhatsApp, dan Telegram.

Masih menurut riset Mastel, penyebaran konten hoax juga dilakukan pada media lain seperti situs web (34,9 persen), televisi (8,7 persen), media cetak (5 persen), email (3,1 persen), dan radio (1,2 persen).

Survei ini dilakukan secara online oleh Mastel yang melibatkan 1.116 responden dan rilis ke publik dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (13/2).

Pemerintah Indonesia telah menyadari peredaran hoax terbesar dilakukan lewat media sosial, dan oleh karena itu Kementerian Komunikasi dan Informatika bakal meminta Facebook untuk melakukan filter konten terhadap publikasi berita bohong, seperti yang dilakukan Facebook di Jerman dan Prancis.

Kemkominfo juga telah merangkul Dewan Pers dan komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia untuk bersama mengatasi isu hoax.
Dari hasil survei Mastel diketahui, topik yang paling banyak dibahas dalam hoax-hoax itu adalah seputar sosial-politik, terutama terkait pemilihan kepala daerah dan pemerintahan. Selain itu, isu SARA juga menjadi topilk yang paling sering diangkat dalam berita palsi.

Rekomendasi Berita

Baca Juga