Pancasila Bangkit Lagi?

11
H.M Luthfi A. Mutty
H.M Luthfi A. Mutty

SULSELSATU.com – Bagaikan mumi yang bangkit dari kubur, tiba-tiba saja Pancasila muncul dimana-mana. Dalam diskusi, dalam Instagram, dalam pameran foto hingga dalam bentuk upacara.

Terkait dengan itu, saya teringat pesan guru panutan saya, sekitar 30-an tahun lalu, ketika pemerintah Orba dengan gencarnya memasyarakatkan Pancasila lewat program P4. Yang beliau katakan ketika itu adalah, program pemassalan Pancasila saat ini tidak lebih dari sekedar sakralisasi Pancasila. Pancasila menjadi mantra dalam berbagai upacara ritual, dan berhenti pada retorika belaka.

Padahal, yang diperlukan adalah menghadirkan Pancasila dalam kenyataan hidup sehari-hari. Pancasila harus hadir dalam semua kebijakan negara. Pancasila harus hadir di kantor-kantor pemerintah, di kantor polisi, di kejaksaan, di pengadilan. Bahkan Pancasila harus hadir di pasar-pasar.

Pancasila sebagai ideologi perlu sosok sebagai personifikasi yang dapat menjadi contoh. Seperti dalam sosok Mao Zedong untuk ideologi komunis Cina. Atau dalam sosok Ho Chi Minh bagi bangsa Vietnam.

Nah bagi kita, naga-naganya sulit menemukan sosok yang bisa menjadi rujukan sebagai personifikasi Pancasila.

Demikian pula, kita sulit menunjukkan bahwa Pancasila telah hadir di kantor-kantor. Ketika tender masih bisa diatur, ketika kriminalisasi masih terjadi, ketika hukum masih menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan, ketika pejabat masih mempertontonkan pola hidup mewah dari hasil KKN, ketika kepentingan pribadi dan golongan mengalahkan hikmat kebijaksana dalam pengambilan keputusan di lembaga-lembaga perwakilan kita.

Yang terjadi saat ini adalah, peringatan hari lahirnya Pancasila berlangsung di tengah perbedaan dan jurang antara kata dan perbuatan. Ketika pemimpin begitu gampang melupakan janjinya. Ketika rakyat begitu sulit menemukan sebutir keadilan sosial di tengah lautan kehidupan yang luas dan carut marut. Ketika tiba-tiba saja para penjahat ekonomi terserang penyakit jiwa berat dengan slogan membela bhinneka tunggal ika, NKRI harga mati, rela mati untuk Pancasila.

Ketika para patriot mendadak atau mendadak patriot ini lupa bagaimana kaum pribumi didiskriminasi dan dilecehkan di tempat-tempat kerja mereka di lingkungan perusahaan para patriot mendadak itu. Ketika jaringan pers milik mereka, tanpa malu-malu dan tanpa merasa berdosa mendramatisir slogan-slogan kosong, seraya menyudutkan dan mengecilkan teriakan mayoritas rakyat yang nyata-nyata mengalami penderitaan akibat dari kepincangan sosial ekonomi produk negara ini.

Perlu diingat bahwa ketidakadilan sosial adalah produk dari sistem. Bukan hasil proses alamiah dan pasti bukan takdir. Itu adalah produk sistem negara. Dengan begitu maka negara sesungguhnya tidak punya lagi basis moral untuk memaksa rakyat tunduk pada kebijakan yang terbukti sudah gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.

Masyarakat adil dan makmur semakin jauh menghilang dalam angan-angan masyarakat pada lapisan bawah. Dalam mimpi pun sudah tak pernah hadir. Diantara mereka ada uang menganggap masyarakat adil makmur itu adanya di akhirat, di bawah pemerintahan langsung oleh Allah SWT. Bukan di sini. Dan tak akan pernah hadir di NKRI harga mati ini, setidaknya dalam masa yg bisa kita prediksikan. Wallahu alam.

Oleh : Luthfi A. Mutty (Anggota DPR RI Fraksi NasDem)

Rekomendasi Berita

Baca Juga