Inggris Tunggangi G30S untuk Gulingkan Sukarno

SULSELSATU.com, – Pada musim gugur 1965 Norman Reddaway diundang kepala Kementerian Luar Negeri Inggris Joe Garner ke kantornya. Reddaway masih muda, namun kariernya di bidang propaganda terbilang moncer di antara rekan-rekan satu divisinya di Kementerian Luar Negeri Inggris. Garner kemudian menyerahkan Reddeway segepok uang bernilai 100.000 poundsterling sekaligus tugas “untuk melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan Sukarno”.

Reddeway diterjunkan ke Singapura, lebih tepatnya di Phoenix Park, markas gabungan antara Kementerian Luar Negeri Inggris, Badan Dinas Intelijen Rahasia Inggris (SAS atau M16), dan Badan Intelijen Pusat AS (CIA). Ketiganya bersama-sama menjalankan operasi rahasia dengan misi utama propaganda anti-Sukarno sejak awal 1960-an. Pangkal persoalannya, papar Paul Lashmar dan James Oliver di buku Britain’s Secret Propaganda War 1948-77, adalah sumber daya alam.

Lashmar menulis bahwa salah satu faktor mengapa Indonesia bisa memperoleh kemerdekaan dari Belanda pada tahun 1949 adalah karena pemerintah AS menganggap Indonesia di awal kemerdekaan bukan sarang komunis. Pasukan Belanda juga dianggap lebih efektif diterjunkan ke Eropa bagian barat. Prediksi ini tentu menemui kekeliruannya dalam beberapa tahun setelahnya, terutama berkenaan dengan bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan gerakan kiri lain.

Indonesia punya nilai strategis bagi Inggris dan AS, baik secara ekonomi maupun geografis. Inggris kala itu punya kepentingan bisnis di Indonesia termasuk 40 persen saham atau sekurang-kurangnya 100 juta poundsterling di Royal Dutch Shell yang mengontrol tiga per empat produksi minyak sebelum perang. Pada tahun 1959 investasi Inggris di Indonesia sudah mencapai 300 juta poundsterling. Secara geografis, Selat Malaka dinilai penting untuk Inggris dan AS untuk kepentingan rute kapal perang.

Sukarno punya visi yang didukung banyak orang di Indonesia: penguasaan sebagian besar kekayaan alam di bawah tangan negara. Tak lama usai proklamasi kemerdekaan, Sukarno telah memulai proses tersebut misalnya dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda atau membuat peraturan terkait pengelolaan tanah dalam rangka reforma agraria. Pada awal 1950-an, Sukarno dan kebijakan nasionalis-radikalnya menjelma menjadi sosok yang mengancam investasi negara-negara Barat di bumi nusantara.

Pada tahun 1952 keyakinan AS makin bulat: jika Indonesia jatuh ke pengaruh komunisme, negeri-negeri jirannya seperti Malaya juga akan ikut-ikutan merah. AS dan Inggris tak mau ini terjadi sebab keduanya akan “kehilangan pasokan utama sumber daya alam seperti karet, timah, minyak bumi dan komoditas penting lainya”.

Bukti pertama keterlibatan Inggris dalam penggulingan Sukarno muncul dalam memorandum CIA bulan Juni 1962 yang berisi obrolan antara Perdana Menteri Inggris Harold Macmilan dan Presiden John F. Kennedy dalam sebuah pertemuan. Pertemuan yang dilakukan pada bulan April tahun yang sama melahirkan persekongkolan untuk “melenyapkan Presiden Sukarno, tergantung situasi dan kesempatan yang ada.”

CIA sempat bingung dengan istilah “melenyapkan”. Sementara agen senior M16 mengklarifikasi bahwa maknanya bukan pembunuhan, tapi lebih ke menghilangkan status kekuasaan.

Permusuhan Inggris terhadap Sukarno memuncak pada era Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Sukarno menuduh pembentukan Federasi Malaysia sebagai plot neo-kolonialisme Inggris, dan kemudian memutuskan hubungan diplomatik kedua negara serta melancarkan serangan darat dengan semangat “Ganyang Malaysia!”.

Penyingkiran Sukarno juga bukan 100 persen keinginan Barat. Ketua Komisi Selandia Baru untuk Federasi Malaysia, Hunter Wade, menyatakan bahwa Soeharto dan elit militer lain punya cita-cita serupa, namun belum menemukan momen yang tepat. Sukarno masih punya dukungan kuat dari rakyat Indonesia. Koresponden BBC Roland Challis berkata bahwa situasi di jelang pertengahan 1960-an membuat banyak pihak baik di dalam maupun luar Indonesia yang berharap munculnya chaos untuk kemudian dimanipulasi demi kepentingan mereka.

Menurut seorang sumber dari Kementerian Luar Negeri Inggris, keputusan untuk menyingkirkan Sukarno diinisiasi oleh pemerintahan MacMillan dan direalisasikan sejak pemerintahan Partai Buruh pada tahun 1964. Dalam menjalankan misi dari Phoenix Park yang disebut-sebut sebagai pusat pemerintahan Inggris di Asia Tenggara, IRD yang bekerja sama dengan CIA menjalin hubungan erat dengan beberapa elite militer Indonesia. Salah satunya dengan Ali Murtopo, tokoh intelijen penting kesayangan Soeharto di era Orba, melalui kantor Kedutaan Besar Inggris di Indonesia.

IRD dibentuk oleh pemerintah Partai Buruh Inggris pada tahun 1948 untuk melancarkan perang propaganda anti-komunis melawan Soviet, namun kemudian juga terlibat dalam berbagai operasi memberangus gerakan-gerakan antikolonial di wilayah-wilayah yang dikuasai Kerajaan Inggris. Pada tahun 1960-an IRD memiliki sekitar 400-an staf di London dan petugas informasi di seluruh dunia untuk mempengaruhi liputan media lokal maupun internasional agar sesuai dengan kepentingan Inggris.

Fase pertama penyingkiran Sukarno adalah mengisolasinya dari kekuatan besar PKI. Selama PKI berjaya, yang saat itu diklaim memiliki tiga juta anggota dan otomatis menjadi partai komunis non-penguasa terbesar di dunia, Sukarno masih punya basis pertahanan yang solid.

Kesempatan itu kemudian datang pada akhir bulan September 1965 ketika usaha kudeta yang dikenal sejarah sebagai G30S. Ada beberapa versi terkait siapa dalangnya, namun situasi ini dimanfaatkan Soeharto untuk mengkambing hitamkan PKI sepenuhnya dan diikuti dengan represi penuh para tertuduh.

Inggris pun menunggangi G30S untuk kepentingan pokoknya—yang kebetulan selaras dengan visi Soeharto. Pada tanggal 5 Oktober Alec Adams, penasihat politik untuk Panglima Tertinggi Kerajaan Inggris untuk urusan politik Asia Timur hingga Tenggara, menasihati Kementerian Luar Negeri Inggris agar tak ragu unyuk melakukan apapun agar PKI dibuat sebersalah mungkin dalam tragedi G30S, baik di mata kaum militer maupun rakyat sipil Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Inggris setuju dan melakukan misi ini dengan dua tema propaganda besar. Satu, bahwa PKI itu kejam. Dua, bahwa ada intervensi Cina dalam pergerakan PKI di Indonesia. Untuk propaganda pertama, IRD dan M16 melalui media lokal dan internasionalnya rajin menyebarkan kisah horor tentang manuver kelompok komunis militan dalam mengganggu kestabilan wilayah Malaya pada tahun 1950-an. Tak lupa juga narasi tentang dampak dari aksi radikal komunis radikal yakni menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dari kalangan orang-orang lokal.

Untuk propaganda kedua, tujuan utama IRD dan M16 adalah agar orang-orang keturunan Cina di Indonesia diasosiasikan dengan PKI. Dampaknya, mereka turut jadi sasaran utama perburuan selama periode 1965-1967 di sejumlah wilayah di Indonesia yang mengorbankan nyawa antara 500.000 hingga dua juta orang.

Challis mengatakan hasil dari propaganda tersebut amat berhasil sehingga perburuan simpatisan komunis selama periode kelam itu tak ada bedanya dengan konflik antar-etnis.

“Hal mengerikan telah dilakukan (Inggris) untuk menghasut orang Indonesia bangkit dan membantai orang-orang Cina,” katanya.

Usai sukses diisolasi, fase kedua dalam misi penyingkiran Sukarno adalah penajaman citra bahwa sang pemimpin besar punya hubungan mesra dengan PKI, sehingga otomatis muncul kaitan bahwa Sukarno juga terlibat dalam kudeta berdarah G30S.

IRD dan M16 sudah punya modal penghancuran nama Sukarno di dunia internasional sejak sebelum kudeta terjadi. Mereka tinggal mengencangkan lagi mesin propagandanya. Ditambah, penggerusan kelompok komunis baik secara struktural maupun kultural juga turut membuat posisi Sukarno kian rawan.

Cita-cita Inggris akhirnya terwujud setahun setelah huru-hara kudeta, tepatnya pada tanggal 10 Maret 1966, ketika Sukarno menandatangani penyerahan kekuasaan ke Soeharto. Sebagian sejarawan, termasuk Lashmar dan Oliver, menyebut peristiwa yang dinamakan SUPERSEMAR itu sesungguhnya menempatkan Sukarno sebagai pihak yang dipaksa tanda tangan.

Challis amat percaya Inggris memainkan peran besar dalam tergulingnya kekuasaan Sukarno, terutama dalam mempersuasi elite militer bahwa momen penantian mereka hadir bersamaan dengan tragedi G30S. Situasi kala itu, lanjutnya, dianalisis dan diatur dengan baik sehingga kesannya tidak ada manipulasi apalagi intervensi.

“Peristiwa itu adalah manipulasi ide, dan murni politik. Menurut pendapat pribadiku, tragedi itu dilakukan dengan amat cantik,” pungkasnya.

Rangkaian kisah selanjutnya sudah lumayan akrab di ingatan orang-orang: Orba dirintis, Soeharto membuka keran investasi asing selebar-lebarnya, dan masa depan bisnis Inggris di Indonesia pun berhasil diamankan. Sukarno masih diperbolehkan menjabat sebagai presiden seumur hidup hingga 1967. Tiga tahun berselang, ia menghembuskan napas terakhir—dalam status sebagai tahanan rumah dikutip dari tirto.id.

Uploader : Agung

 

Populer

Live Streaming Liga Italia: Hellas Verona Vs AC Milan

SULSELSATU.com, MAKASSAR - AC Milan bakal bertandang ke Stadio Marc'Antonio Bentegodi melawan Hellas Verona pada pekan ketiga Liga Italia, Senin (16/9/2019) pukul 02.45 Wita...
video

VIDEO: Pemerintah Rebut Stadion Andi Mattalatta, Ahli Waris “Melawan”

SULSELSATU.com - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merebut hak penggunaan Stadion Andi Mattalatta. Pemprov Sulsel mulai bergerak untuk mengambil alih Stadion Mattoanging Makassar dari pihak Yayasan...

Warga Tamalatea Blokade Jalan Poros Jeneponto, Akses Makassar-Bantaeng Buntu

SULSELSATU.com, JENEPONTO - Ratusan warga Ci'nong Kelurahan Tonro Kassi, Kecamatan Tamalatea, memblokade jalan poros Jeneponto. Aksi ini dilakukan mulai 09:30 pagi Wita. Informasi yang dihimpun, massa...
video

VIDEO: Pasangan Ini Kedapatan Berhubungan Intim di Pesawat

SULSELSATU.com - Pria dan wanita terpergok sedang melakukan hubungan intim di pesawat. Momen itu terjadi dalam penerbangan menuju Meksiko. Tanpa memedulikan keberadaan penumpang lain. Video Editor: Andi...

Catat! Berikut Menu Diet Seminggu yang Ampuh

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Baik Diet OCD maupun Diet Mayo, Bagi Sahabat Sehat yang sedang berniat untuk diet, tak ada salahnya untuk mengadopsi gaya hidup...

KASN Ancam Laporkan Gubernur ke Presiden

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Asisten Komisioner Bidang Promosi dan Advokasi KASN,  Nurhasni angkat bicara terkait langkah yang diambil oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (NA) terkait...

Laga Pencak Silat di Porkab Sinjai Ricuh, Ini Penjelasan KONI

SULSELSATU.com, SINJAI - Laga pencak silat di Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Sinjai yang berlangsung di Gedung Sinjai Bersatu, Kamis (12/9/2019) ricuh. Atlet utusan dari...

Catat! Ini Jadwal Puasa Sunah di Bulan Muharram

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Tahun Baru 1 Muharram 1441 Hijriah akan jatuh 1 September mendatang. Umat Islam di seluruh dunia tentu bakal merayakan datangnya awal...

GALERI FOTO: Trio Lestari Tampil Memukau di Claro Hotel

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Grup vokal Trio Lestari yang beranggotakan Glenn Fredly, Sandhy Sondoro dan Tompi tampil memukau dihadapan ribuan penonton saat konser di Phinisi...

Baca Juga

Restu Orangtua Hantarkan Onasis Daftar di PDIP

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Massa pendukung Taufiqqulhidayat Ande Latif dari 15 kecamatan di Kota Makassar mulai memadati Jalan Mappanyukki. Berbagai lintas komunitas yang mengenakan kaos bergambar...

PPP Rampungkan Komposisi AKD, Azis Namu Ketua Fraksi

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Sejumlah fraksi di DPRD Makassar tengah merampungkan komposisi Alat Kelengkapan Dewan (AKD), termasuk Fraksi PPP. Anggota fraksi PPP, Fasruddin Rusli mengatakan, pihaknya...

Buka Muscab PP, Ini Harapan Wabup Thahar

SULSELSATU.com, LUWU UTARA - Wakil Bupati Luwu Utara, Muhammad Thahar Rum membuka secara langsung acara Musyawarah Cabang ke III mejelis pimpinan cabang Pemuda Pancasila...

Taufan Pawe Sambut Kunjungan IDI dan PAPDI di Parepare

SULSELSATU.com, PAREPARE - Dukungan terus mengalir dari berbagai organisasi kepada Pemkot Parepare di bidang kesehatan. Salah satunya dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang bekerjasama dengan...

Terbaru

PPP Rampungkan Komposisi AKD, Azis Namu Ketua Fraksi

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Sejumlah fraksi di DPRD Makassar tengah merampungkan komposisi Alat Kelengkapan Dewan (AKD), termasuk Fraksi PPP. Anggota fraksi PPP, Fasruddin Rusli mengatakan, pihaknya...

Diskop UKM Makassar Dorong Peningkatan Kerja Sama Pelaku UMKM

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar menggelar kegiatan peningkatan dan pengembangan jaringan kerja sama UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di...

Pemerintah dan DPR Sepakat Permudah Pembebasan Bersyarat Bagi Koruptor

SULSELSATU.com, JAKARTA - Pemerintah dan Komisi III DPR RI sepakat membawa revisi Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan ke Rapat Paripurna dalam waktu...

Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2020

SULSELSATU.com, JAKARTA - Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' dipilih untuk mewakili Indonesia di ajang Academy Awards atau biasa dikenal dengan sebutan Oscar 2020. Film ini...
video

VIDEO: Wapres JK Olahraga Bareng Warga di GBK

SULSELSATU.com - Wakil Presiden, Jusuf Kalla mengisi hari libur dengan berolahraga di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta pada Ahad (30/6/2019). JK tampak mengenakan kaos berkerah...