Letnan Kolonel Untung, Sang Pemegang Bintang Sakti yang Tak Beruntung

Ritelaku

SULSELSATU.COM- Pada malam 30 September 1965 itu, Letnan Kolonel Untung sang komandan Batalyon KK I Cakrabirawa ikut mengawal Presiden Sukarno di acara musyawarah nasional ahli teknik di Senayan. Presiden berada di Senayan hingga pukul 23.00 malam. Setelah itu, Untung berangkat ke Lubang Buaya, dekat Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma untuk melihat pasukan.

Dini hari 1 Oktober 1965, pasukan pun berangkat menculik jenderal-jenderal Angkatan Darat yang dianggap sebagai Dewan Jenderal. Ada enam jenderal dan satu Letnan berhasil ditangkap hingga berakhir di sebuah sumur tua di Lubang Buaya.

Sersan Mayor Bungkus masih ingat apa yang dialaminya pada 30 September 1965. Seperti diakuinya dalam artikel The World of Sergeant-Major Bungkus: Two Interviews with Benedict Anderson and Arief Djati—yang dimuat di jurnal Indonesia edisi Oktober 2004 volume 78 terbitan Universitas Cornell, “Sore hari tanggal 30 September (1965), saya diberi pengarahan oleh komandan kompi saya.”

Sang komandan kompi C dari Batalyon Kawal Kehormatan (KK) I Cakrabirawa, yang sangat dikenal Bungkus itu, adalah Letnan Satu Dul Arif. Dalam apel malam, Dul Arif hanya bisa memperoleh 60 anggota. Pasukan itu lalu bergerak ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

“Komandan Batalyon kita (Letnan Kolonel Untung) telah menugaskan saya memegang unit Cakra berangkat dalam sebuah misi. Ada kelompok jenderal yang disebut Dewan Jenderal yang hendak mengkudeta Presiden Sukarno,” kata Dul Arif seperti ditirukan Bungkus.

Tugas Cakrabirawa tak lain melindungi Presiden Sukarno. Dari ucapan Dul Arif itu, para pasukan tentu merasa bahwa para jenderal itu musuh besar mereka. Sehingga tak heran saat dalam penculikan, yang dikenal sebagai peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Pasukan Cakrabirawa tidak ragu menembak jenderal yang mereka bawa.

 

Paginya, pada 1 Oktober 1965, Letnan Kolonel Untung yang pendiam dan dianggap buta politik itu, dalam siaran Radio Republik Indonesia (RRI, tersebut sebagai Ketua Dewan Revolusi. Di mana anggota-anggota Dewan Revolusi itu adalah orang-orang terkemuka yang tak semuanya komunis. Untung menjadi satu-satunya penandatangan dokumen Dewan Revolusi itu. Aksinya tak hanya soal malam jahanam itu, karena sebelumnya Untung menorehkan sejarah soal dirinya.

Letnan Kolonel Untung adalah pemegang Bintang Sakti, seperti juga Benny Moerdani, atas aksinya pada 1962 dalam Operasi Trikora melawan tentara Belanda di Papua Barat. Intinya, Untung sempat punya nama baik sebelum 30 September 1965.

Untung memang tak seberuntung namanya, ia jadi pemimpin gerakan kudeta yang gagal. “Untung bertubuh pendek kekar dan berleher gemuk, memperlihatkan stereotip seorang prajurit,” tulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal (2008). Seperti dilansir Tirto.id

Ia hanya bisa diandalkan bertempur seperti di Sumatera waktu menghajar PRRI dan di Papua Barat dalam Trikora, tapi tidak untuk berpolitik. Audrey Kahin dalam karyanya Dari Pemberontakan ke Integrasi (2005) menyebut orang-orang di Sumatera Barat, heran mengetahui Untung yang pendiam dan tidak populer memimpin sebuah kudeta G30S itu.

Untung memang dilahirkan untuk menjadi tentara. Laki-laki bernama asli Kusman ini, seperti ditulis Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang (2010), pernah jadi pembantu tentara Jepang (Heiho) di zaman Jepang, waktu umurnya belum 20 tahun.

Ketika Peristiwa Madiun 1948, ia masih berpangkat Sersan Mayor. Pada 1950-an, ia pernah jadi bawahan Suharto sebagai Letnan dalam Batalyon Sudigdo di Kleco, Solo. Pangkatnya naik bertahap sejalan jam tugasnya sebagai prajurit. Waktu penumpasan PRRI, sekitar 1958, pangkatnya masih Letnan Satu. Ia langsung naik jadi Kapten usai tugas pulang dari Sumatera. Ia kemudian jadi Mayor pada 1962 dan jelang 1965 sudah berpangkat Letnan Kolonel.

Saat bertugas ke Irian Barat, ia memimpin pasukan Banteng Raider dari Batalyon 454 Srondol Kodam Diponegoro Jawa Tengah. Untung sempat jadi Komandan Batalyon di sana, menggantikan Letnan Kolonel Ali Ebram, yang dianggap pengetik Supersemar. Sebagian pasukan Raider dari Srondol ada yang ditarik sebagai Resimen Cakrabirawa.

Pasukan yang sempat di Banteng Raider masuk dalam Batalyon KK I Cakrabirawa yang dipimpin Untung. Banteng Raider adalah pasukan elit yang didirikan Ahmad Yani yang juga menjadi korban penculikan G30S. Di antara pasukan penculik G30S sebagian berasal dari Banteng Raider.

Nasib Buntung Letkol Untung Usai G30S

Bintang kehidupan Untung mulai suram sejak 1 Oktober 1965. Sebagai sosok yang sangar secara militer, Untung tergolong apes terkait peristiwa penangkapannya. Untung yang menghilang setidaknya sejak 2 Oktober 1965. Pada 11 Oktober 1965 berusaha kabur ke sekitar Jawa Tengah dan dia berada dalam sebuah bus. Di Tegal, bus yang ditumpangi rupanya dimasuki tentara yang tak dikenal olehnya.

Namun, ia tak mau kena ciduk oleh tentara yang naik, ia memutuskan melompat dari bus. Sialnya tubuhnya menghantam sebuah tiang listrik. Kesialannya makin bertambah, saat orang-orang di sekitar tempat mengira dirinya adalah copet. Untung sempat digebuki massa. Menurut Misbach Yusa Biran dalam Kenang-kenangan Orang Bandel (2009), Untung tetap mencoba menunjukkan gengsi sebagai perwira. Untung memposisikan diri sebagai orang yang tak takut pada siksaan yang akan menimpanya.

Awal 1966, Untung diadili oleh sebuah pengadilan luar biasa dalam sejarah Indonesia, Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Ruang sidangnya pun bukan di gedung pengadilan Kementerian Kehakiman melainkan Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di dekat Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam pengadilan Untung, Gumuljo Wreksoatmodjo SH bertindak sebagai pembela. Ketua Mahmilub yang mengadili Untung adalah Letnan Kolonel CHK Soedjono Wirjohatmodjo SH dengan hakim anggota: Letnan Kolonel Udara Zaidun Bakti; Ajun Komisaris Besar Drs Kemal Mahisa SH; Mayor AL Hasan Basjari SH; Mayor tituler Sugondo Kartanegara. Oditur yang menuntut perkara itu adalah Letnan Kolonel Iskandar SH. Mitzi Tendean, kakak dari Kapten Pierre Tendean hadir dalam persidangan.

Berkas-berkas pengadilan dibukukan dan jadi sebuah karya yang berjudul Gerakan 30 September di hadapan Mahmilub: Perkara Untung (1966). Dalam laporan ini, pekerjaan Untung adalah Letnan Kolonel Infanteri (Angkatan Darat) Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa dan berdasar Keputusan Presiden/Pangti ABRI/KOTI/nomor 171/KOTI/1965 per 4 Desember 1965 diberhentikan tidak hormat dari pangkat dan jabatannya dalam dinas ketentaraan terhitung mulai 30 September 1965.

Dalam persidangannya, Untung sempat menyebut: “Kolonel Latief yang menyatakan tentang kesulitan daripada ekonomi prajurit, dan pada umumnya keterangan-keterangan itu dibenarkan oleh yang hadir yakni saya sendiri (Untung), Kapten Wahjudi dan juga Mayor Udara Sujono termasuk Sjam (Kamaruzaman) dan Pono.” Itu yang ingat Untung dalam rapat terkait G30S pada 19 Agustus 1965.

Semula, menurut Subandrio dalam buku Kesaksianku tentang G-30-S (2000), Untung yang sempat ditahan di Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Cimahi, punya keyakinan dia tak bakal dihukum mati. Ia yakin Soeharto bakal membebaskannya.

Namun, pada 6 Maret 1966, Mahmilub memberi vonis: Hukuman Mati kepada Untung. Esoknya dibuat surat keputusan dari Menteri Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Soeharto, menyetujui keputusan dan eksekusi mati terhadap Untung. Pembelanya sempat minta grasi agar tak dihukum mati. Grasi tak datang padanya tapi hukuman mati yang menghampirinya.

Menurut Subandrio, “Saat itu dia sudah selesai ditanya permintaan terakhirnya, seperti lazimnya orang-orang yang akan menjalani eksekusi mati. Mungkin karena sedang panik, dia malah tidak minta apa-apa.”

 

Foto: Int

Uploader: Adhy

Populer

Wasekjen PAN Faldo Maldini Yakin Prabowo Takkan Menang di MK

SULSELSATU.com, JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Faldo Maldini menyebut jika pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo...

Dukung Tiga Ranperda Usulan Eksekutif, Wabup Lutra Apresiasi Dewan

SULSELSATU.com, LUTRA - Tiga Ranperda usulan eksekutif mendapat dukungan dari DPRD. Dukungan terhadap tiga Ranperda ini disampaikan seluruh fraksi DPRD dalam Pandangan Umum Fraksi...

Sidang Sengketa Pilpres: Tim Hukum Jokowi dan KPU Bakal Jawab Gugatan Prabowo

SULSELSATU.com, JAKARTA - Sidang lanjutan sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) bakal digelar pagi ini, Senin (18/6/2019) pukul 09.00 WIB. Sidang tersebut dengan agenda...

Perbaharui Data Warga Miskin, BPJS Temui Wagub

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Kepala BPJS Kesehatan Makassar Dr Esty menemui Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman terkait penyelesaian data warga sangat miskin yang ada di...

KPK Selidiki Keterlibatan Menag di Kasus Pemilihan Rektor UIN

SULSELSATU.com, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mengusut peran Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam seleksi rektor Universitas Islam Negeri (UIN). Lukman diduga...

Aplikasi Ritelaku, Mudahkan Warga Makassar Belanja Online

SULSELSATU.com - Kini, aplikasi belanja online Ritelaku tak hanya memberikan kemudahan dalam belanja barang. Aplikasi Ritelaku dapat membantu kamu melakukan berbagai hal menarik dan bermanfaat...

Fakta-fakta Soal Video Mesum ‘Jangko Kasi Nyala Blitzna’

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Kepolisian Resort (Polres) Bulukumba kini turun tangan mendalami kebenaran skandal video mesum pelajar yang viral dengan istilah "Janganko kasi menyala blitzna"....

Kompolnas Belum Terima Aduan Masyarakat Soal Kekerasan Polisi di Aksi 22 Mei

SULSELSATU.com, JAKARTA - Komisioner Kompolnas Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto menyatakan sejauh ini pihaknya belum menerima aduan dari masyarakat. Aduan yang dimaksud terkait tindak...

GALERI FOTO: Rupiah Melemah, IPMIL Raya Desak Gubernur BI Turun dari Jabatan

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Massa yang tergabung dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) Raya melakukan aksi terkait lemahnya rupiah di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar,...

Baca Juga

Mantan Putra Mahkota Buka Kemungkinan Paket dengan Politisi PAN di Pilkada Maros

SULSELSATU.com, MAROS - Putra mantan bupati Maros Andi Nadjamuddin, Andi Ilham Nadjamuddin menemui anggota DPRD Maros Zainal Dalle. Pertemuan ini berlangsung di kediaman Zaenal Dalle...

Hadiri PSBM ke-19, Ini Pesan Mentan untuk Perantau Milenial

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Deretan tokoh Sulawesi Selatan (Sulsel) hadir dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) ke-19 di Wisma Negara Center Point of Indonesia (CPI),...

Kasus Suap Dana DAK di Bulukumba Naik ke Tahap Penyidikan

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Kasus dugaan suap Dana Alokasi khusus (DAK) proyek irigasi pertanian senilai Rp49 miliar di Kabupaten Bulukumba kini memasuki babak baru di...

Hadiri Rapat Paripurna, Taufan Pawe Optimis Bangun Parepare Tanpa Hutang

SULSELSATU.com, PAREPARE - Keinginan Wali Kota Parepare, Taufan Pawe, dalam memajukan daerah yang dipimpinnya terus diwujudkan. Namun dalam memajukan kota, wali kota dua periode ini...

Terbaru

Nama Wali Kota Parepare Dicatut untuk Pencairan DAK 2016

SULSELSATU.com, PAREPARE - Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe, menanggapi serius beredarnya surat pernyataan (SP) terkait pemberian sejumlah dana dengan alasan meloloskan DAK tahun...

HUT ke-47, Bupati Jeneponto Harap TP PKK Tingkatkan Kreatifitas

SULSELSATU.com, JENEPONTO - Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar mengehadiri acara Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke- 47 di Aula Kantor Bupati Jeneponto, Rabu (19/6/2019). Dalam kesempatan...

Mau Dagang Sabu ke Sinjai, Pengedar Ini Didor di Makassar

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Seorang pengedar narkoba jenis sabu, SL alias Sul (32) dilumpuhkan timah panas oleh polisi pada bagian kaki kanannya usai nekat mencoba...

Taufan Dianugerahi Nobel Indonesia Entrepreneur Award

SULSELSATU.com, PAREPARE - Wali Kota Parepare, Taufan Pawe, dianugerahi Nobel Indonesia Entrepreneur Award dari STIE Nobel Indonesia Makassar. Penganugerahan diserahkan di sela Wisuda Sarjana XIII...
video

VIDEO: Truk Kontainer Tersangkut Underpass, Macet Hingga 2 Km

SULSELSATU.com - Sebuah truk kontainer tanpa muatan tersangkut di underpass Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Sabtu pagi. Kuat dugaan sopir truk tersebut mengantuk saat berkendara. Meski tidak...