Uc Browser Dihapus di Play Store, Ini Penyebabnya

SULSELSATU.com – Peramban UC Browser milik Alibaba tidak lagi tersedia untuk diunduh dari Play Store. Aplikasi ini sangat populer di India, yang secara singkat menyalip Chrome untuk menjadi browser web mobile yang paling banyak digunakan di India awal tahun ini.

Diberitakan Android Authority, peramban ini memiliki pengguna 420 juta secara global dan berhasil mengumpulkan 500 juta unduhan di Play Store bulan lalu di mana lebih dari 100 juta berasal dari India.

Peramban ini mendapatkan momentum di India selama beberapa tahun terakhir karena kecepatan dan banyaknya fitur, termasuk manajer unduh yang tangguh, add-on yang dapat disesuaikan, dan integrasi dengan layanan pihak ketiga.

Sementara India adalah pasar kedua terbesar untuk UC Browser, sebuah artikel di Times of India pada bulan Agustus menyarankan pemerintah India untuk melarang peramban itu mengirimkan informasi pengguna ke Cina.

Alasan mengapa UC Web dihapus dari Play Store, kabarnya teori yang muncul di Reddit adalah bahwa iklan redirect berbahaya yang disampaikan oleh afiliasi UC Web untuk mendorong pemasangan (install) memaksa Google untuk mengambil tindakan dan menghapus peramban itu.

Sebuah email yang diterima oleh pendiri Android Police, Artem Russakovskii, dari UC Union (jaringan afiliasi UC Web) memperkuat teori ini.

Email itu menginformasikan, bahwa UC Union melarang setiap dan semua metode periklanan yang menyesatkan atau jahat untuk mendapatkan pengguna baru saat mempromosikan kampanye UC Browser, seperti dengan menggunakan semboyan yang tidak sesuai dengan fungsi produk, atau dengan menggunakan slogan induktif.

Meskipun tidak ada pernyataan resmi dari UC Web atau Google terkait pencabutan itu, sepertinya larangan tersebut bersifat sementara, sebagaimana disampaikan akun Mike Ross (@SKz_14), yang mengaku karyawan UC Browser.

Katanya, dia bekerja untuk UC Browser, dan mendapat surat pagi ini, yang mengatakan bahwa UC Browser untuk sementara dihapus dari Play Store selama 30 hari karena menggunakan metode promosi yang “menyesatkan” dan tidak sehat untuk meningkatkan pemasangan.

Editor : Agung Hidayat

BAGIKAN

Komentar :