Tidak Konsisten di Pilgub, Jadi Ancaman Parpol di Pileg 2019

Golkar, Jayadi Nas
Pengamat politik Universitas Hasanuddin, Jayadi Nas. (Sulselsatu.com/Ramdhan Akbar)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Konstalasi Politik di Pilgub Sulsel, jelang pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU) semakin dinamis.

Pergeseran dukungan partai dari satu kandidat ke kandidat lain seolah menjadi hal yang lumrah. Setidaknya ada dua partai yang telah mengganti jagoan di Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

PAN yang sebelumnya mendukung paket Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) justru berbalik kepasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (Prof Andalan).

Begitu pula dengan PKB, sejak awal PKB telah mendeklarasikan mengusung Wakil Gubernur Sulsel dua periode, Agus Arifin Nu’mang, kini bergabung dalam barisan pemenangan Nurdin Halid-Aziz Qahar Mudzakar (NH-Aziz).

Belakangan, isu pergeseran usungan kembali terdengar. Kali ini Partai Gerindra dan PKS yang telah mendeklarasikan Prof Andalan, dikabarkan beralih kepaket Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL).

Pengamat Politik Unhas, Jayadi Nas menilai, inkonsistensi yang ditunjukkan partai politik di pilgub Sulsel akan menimbulkan kebingungan bagi pengurus dan simpatisan di tingkat bawah.

“Apalagi pengurus partai di tingkat bawah yang sudah bekerja mengkampanyekan calon, dan tiba-tiba berubah, itu bisa menimbulkan ketidakpercayaan publik,” kata Jayadi Nas kepada sulselsatu.com, Kamis (7/12/2017).

Selain itu, ujar Jayadi, perilaku parpol gonta ganti pasangan, bisa menimbulkan sanksi politik dari masyarakat, terutama pada pemilihan legislatif (Pileg) 2019 mendatang.

Tentunya, lanjut Jayadi, masyarakat akan nilai partai politik ternyata tidak melihat apa keinginan publik, melaikan keinginan partai yang harus diikuti publik.

“Sanksi politik di Pileg 2019, bisa jadi partai politik tersebut akan dihindari oleh konstituen bakal calon. Semuanya berdampak negatif bagi partai,” tutupnya.

Penulis: Ramdhan Akbar.
Editor: Alam Malik

BAGIKAN

Komentar :