Menghitung Ulang Kekuatan Empat Kandidat di Pilgub Sulsel

Empat pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur Sulsel. (Sulselsatu.com/Fikar)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Empat pasang kandidat bakal calon gubernur Sulsel kini tersaji. Mereka adalah, Nurdin Halid-Aziz Qahar Mudzakkar (NH-Aziz), Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman (Prof Andalan), Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka), serta Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL).

Lolosnya pasangan Agus-TBL sendiri membuat kandidat yang akan bertarung di Pilgub Sulsel, Juni mendatang, harus menghitung ulang kekuatan. Pasalnya, selama ini nama Agus-TBL sama sekali tidak pernah diperhitungkan lolos sebagai kandidat.

Dari segi kekuatan partai politik, pasangan NH-Aziz jelas jauh mengungguli kandidat lain. Dengan diusung partai Golkar (18), NasDem (7), Hanura (6), PKB (3) dan PKPI (1) pasangan dengan tagline “Sulsel Baru” menguasai 35 Kursi di DPRD Sulsel.

Selain itu, paket Prof Andalan, berhasil menggabungkan partai besar disenayan yang selama ini dikenal selalu bersebrangan pandangan politik, yaitu, PDIP (5), PKS (7), dan PAN (9) atau mengumpulkan 21 kursi parlemen.

Sementara itu, duet mantan Bupati Gowa dua periode dan Bupati Luwu dua periode, IYL-Cakka mencoba peruntungan di Pilgub dengan bertarung di jalur perseorangan atau independen.

Meski begitu, pasangan tersebut, tetap ditopang Partai Demokrat dengan 11 kursi.

Pasagan lainnya, yakni Agus-TBL secara mengejutkan juga berhasil mendaftar sebagai kandidat didetik-detik terakhir, setelah berhasil meyakinkan partai Gerindra (11), PPP (7) dan PBB (1) untuk mengusungnya di Pilgub.

Secara geopolitik, setiap kandidat memiliki basis kuat di masing-masing daerah. Meski begitu, adapula daerah yang basis massa saling beririsan.

Pasangan NH-Aziz secara geopolitik diprediksi memiliki basis kuat di wilayah Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, dan Luwu Raya yang terdiri dari 4 kabupaten. Nurdin Halid diketahui merupakan putra Bone, dan Aziz merupakan putra Kahhar Mudzakkar yang merupakan tokoh Islam Luwu.

Sementara untuk pasangan Prof Andalan, juga diprediksi memiliki basis dukungan di daerah Bantaeng, pare-pare, dan kabupaten yang bertetangga dengan Bantaeng, tempat Nurdin Abdullah menjabat sebagai Bupati dua periode, seperti jeneponto, Bulukumba, dan Selayar.

Posisi Andi Sudirman sebagai pendamping Nurdin Abdullah, juga disebut-sebut memiliki basis keluarga yang kuat di Bone. Andi Sudirman diketathui juga merupakan adik kandung Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.

Di sisi lain, kekuatan IYL-Cakka juga tidak bisa dipandang remeh. Klan keluarga Yasin Limpo selama ini dikenal memiliki loyalis yang sangat kuat dan mengakar di daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, Makassar, Tana Toraja, dan Toraja Utara.

Sedangkan Andi Muzakkar merupakan bupati dua peride di tanah Luwu, sehingga dianggap mewakili kekuatan pemilih di daerah Luwu Raya.

Sementara kandidat terakhir, Agus-TBL juga disebut-sebut memiliki basis tradisional sendiri. Agus yang juga wakil gubernur dua periode itu merupakan figur dari wilayah Ajatapareng (Parepare, Pinrang, Sidrap dan Barru), sementara Tanribali merupakan figur yang berasal dari Zona Bosowasi (Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai).

Lantas, siapakah yang memiliki kekuatan lebih untuk menjadi pemenang di Pilgub Sulsel, Juni mendatang?

Pengamat politik Universitas Hasanuddin, Aswar Hasan menilai dari 4 kandidat yang akan bertarung, nyaris memiliki kekuatan yang sama, baik dari segi geopolitik maupun dari kompetensi kandidat.

“Peluang kemenangan ada pada strategi dan trik implementasi pemenangan yang dilakukan oleh tim Sukses masing-masing kandidat,” kata Aswar Hasan, kepada sulselsatu.com, Sabtu (13/1/2018).

Yang menjadi pembeda, lanjut Aswar, adalah program kerja yang disajikan setiap calon untuk menggaet dan meraih simpati masyarakat.

“Yang menjadi pembeda ada pada program siapa yang paling tajam dan disukai. Siapa yang paling efektif meyakinkan masyarakat dialah yang akan menjadi pemenang,” lanjutnya.

Senada, pengamat politik Universitas Bosowa 45, Arief Wicaksono mengungkapkan, 4 pasang kandidat yang lolos dalam kontestasi Pilgub masing-masing memiliki representasi kekuatan geopolitik dan kefiguran yang cukup berimbang.

“NH-Aziz, Prof Andalan, IYL-Cakka, dan Agus-TBL, cukup mewakili kekuatan Utara, Selatan, Tengah, Timur dan Barat. Tergantung dari bagaimana masing-masing tim memaksimalkan gerakan di wilayah-wilayah yang dianggap lemah,” kata Arief.

Arief menilai, inti pergerakan geopolitik di Pilgub Sulsel kali ini bertumpu pada daerah yang padat penduduk, seperti Makassar, Gowa, Bone, dan juga wilayah Luwu Raya.

“Siapa yang secara strategis dapat mengumpulkan suara di wilayah-wilayah itulah pemenangnya,” sambung Arief.

“Tapi ada pula yang memainkan strategi pengumpulan suara secara merata di masing-masing kabupaten, sehingga harapannya perolehan suara akan maksimal,” tutupnya.

Penulis: Ramdhan Akbar
Editor: Awang Darmawan

Berita Terkait

Komentar :