Polling Kandidat Beda-beda, Pengamat Nilai Lembaga Survei Begini

166
  • 3
    Shares
Ilustrasi (Int)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Kehadiran lembaga Survei dalam setiap even pilkada telah menjadi hal yang lumrah untuk mengukur kekuatan para kandidat yang akan bertarung.

Hasil temuan yang dirilis oleh lembaga survei, biasanya digunakan masyarakat sebagai rujukan untuk menentukan dukungan pada setiap even politik.

Di Pilgub Sulsel misalnya, berbagai lembaga berlomba-lomba merilis hasil survei yang dilakukan. Sayangnya, hasil survei yang dipaparkan sering kali berbeda antara lembaga satu dan yang lainnya.

Hal itu, tentunya menimbulkan sentimen negatif di masyarakat. Lembaga Survei dianggap hanya memaikan politik survei untuk kebutuhan kliennya, dengan merilis data yang tidak sesuai dengan hasil temuan di lapangan.

Lantas apakah lembaga Survei masih layak dipercaya?

Pengamat Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono mengungkapkan, kecendrungan lembaga survei merilis hasil sesuai dengan keinginan pemesan survei, sebenarnya telah terjadi sejak awal reformasi.

Meski begitu, kata Arief, selama lembaga Survei tersebut masih menjaga integritas dan tetap menggunakan kaidah ilmiah, maka hasil surveinya tetap dapat dipercaya.

“Selama lembaga survei tersebut menjaga integritasnya, tetap menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dan tidak melakukan hal-hal tercela seperti memperjualbelikan data, saya kira kita masih harus tetap mempercayai lembaga survei dan menjadikan datanya sebagai rujukan analisis,” ucap Arief kepada Sulselsatu.com, Selasa (13/3/2018).

Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto juga menyebut, meski lembaga survei beraviliasi dengan salah satu kandidat yang bertarung, jika survei yang dilakukan lembaga survei dengan prosedur yang benar, tentu akan memaparkan hasil survei yang valid.

“Tetapi kalau prosedur-prosedur ilmiah tidak lagi menjadi pertimbangan dalam kerja-kerja survey, maka data temuannya tentu tidak layak jadi rujukan. Hasilnya adalah politik survey,” kata Luhur

Luhur melihat, saat ini lembaga survei lebih banyak memainkan politik survei untuk kebutuhan kliennya, sehingga merilis data yang tidak sesuai dengan hasil temuan di lapangan.

“Sekarang ini lembaga survey lebih banyak memainkan politik survey, untuk kebutuhan kliennya. Seperti merilis data, yang tidak berbasis riset ilmiah untuk kemasan citra elektoral kandidatnya,” kata dia.

Penulis: Ramdhan Akbar
Editor: Hendra Wijaya

Iklan stie Amkop

Baca Juga