Demo Penolakan Revisi UU MD3 di Palopo Ricuh

116
Aksi unjukrasa menolak revisi UU MD3 Nomor 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang disuarakan mahasiswa se-Kota Palopo, Rabu (14/3/2018) berakhir ricuh. (Sulselsatu.com/Herianto)
iklan-sulselsatu-sumarsono

SULSELSATU.com, PALOPO – Aksi unjukrasa menolak revisi UU MD3 Nomor 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang disuarakan mahasiswa se-Kota Palopo, Rabu (14/3/2018), berakhir ricuh.

Pengunjukrasa yang melakukan orasi sambil membakar ban di depan gedung wakil rakyat terlibat bentrok dengan petugas keamanan. Untuk mengendalikan keadaan, polisi beberapa kali melepas tembakan gas air mata ke arah kerumunan massa.

Koordinator aksi, Erbon Bondang Sarira dalam orasinya menolak revisi UU No: 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Alasannya, revisi UU MD3 dinilai dapat menghambat jalannya demokrasi dan penegakan supremasi hukum.

“DPRD Palopo secara kelembagaan kami minta segera menolak revisi UU MD3 yang bisa mengancam hilangnya auto kritik publik terhadap lembaga DPR. Revisi UU MD3 dapat membuat hukum di negeri ini semakin tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Padahal, hukum dibuat agar keadilan bisa ditegakkan,” ujar Erbon Bondang.

Massa yang tergabung dalam Aliansi GERAM mengancam akan terus melakukan aksi besar-besaran apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Usai melakukan orasi, para pengunjukrasa diterima Ketua DPRD, Harisal A Latief, dan beberapa anggota legislatif di antaranya, Dahri Suli, Budiman, Islamuddin, dan lainnya.

Aliansi GERAM Tolak Revisi UU MD3 ini sendiri terdiri dari sejumalah elemen mahasiswa, diantaranya PMII, PCHMI, GMKI, PMKRI, GMNI, LMND, SRMD, BEM IAIN, HAM-Bastem, Hikma Lutra, Himalaya, Germas Lutra, HMR HMPS UNCP, HAM Lutim, KMHDI, HMPS PBSI UNCP, PMK Unanda, dan beberapa lembaga lainnya

Penulis: Herianto
Editor: Awang Darmawan

iklan-sulselsatu-jeneponto