Hakim Terlambat, Kakek Soebeki Kelelahan Menunggu Sidang

87
Kejati Sulsebar
Puluhan mahasiswa dari Aliansi Peduli Kakek Soebeki berunjuk rasa di depan kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar, Jalan Urip Sumiharjo Makassar, Selasa (8/5/2018). (Sulselsatu/Hermawan Mappiwali)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Kakek Soebeki (88), hari ini kembali terbaring lemah di ruang klinik Pengadilan Negeri Makassar, Rabu (16/5/2018). Soebeki disebut kelelahan saat menunggu jadwal persidangannya tak kunjung digelar.

Jadwal sidang terdakwa pemalsuan surat tanah itu mestinya digelar pada pukul 09.00 Wita pagi. Namun karena Ketua Majelis Hakim belum tiba, sidang Soebeki pun tak kunjung dimulai.
Akibatnya, Soebeki kembali dilarikan ke ruang klinik PN Makassar lantaran kelelahan menunggu.

“Kebetulan kondisi tubuhnya mulai melemah karena sedari pagi tadi sudah nunggu di sini,” kata seorang cucu Soebeki, Rio.

Sementara itu, pengacara Soebeki, Burhan Kamma Marausa menegaskan kliennya tetap kooperatif. Meski kondisinya sudah semakin lemah dan mengkhawatirkan.

“Hari ini Opa (Subeki) akan menjalani sidang dengan agenda putusan sela dari majelis hakim pengadilan negeri (PN) Makassar. Jadi perkaranya ditentukan, apakah dilanjut atau tidak. Tentu kita akan mendengar apa pertimbangan-pertimbangan dari majelis hakim kalau ini dilanjut atau tidak. Ini bukti kalau opa tetap koperatif,” kata Burhan.

Dari informasi yang dihimpun, Ketua Majelis Hakim, Bambang Nur Cahyono belum menghadiri persidangan dikarenakan ia masih memiliki agenda penting di luar pengadilan.

Namun, ia memastikan akan hadir dan memimpin sidang kasus pemalsuan surat tersebut.

Sebelumnya, Soebeki didakwa kasus pemalsuan surat pernyataan kepemilikan tanahnya seluas 160 meter persegi di Jalan Veteran Utara Nomor 318/386, Kelurahan Maradekaya, Kecamatan Makassar.

Padahal dari surat-surat yang dimiliki Soebeki, tanah tersebut ia sudah tinggali pada tahun 1940 silam.

Soebeki didakwa bersama saksi dalam surat tanah tersebut yakni Rudi Dewantoro (Ketua RT), dan Abdul Kadir Jaelani (Ketua RW) juga menjadi terdakwa.

Penulis: Hermawan Mappiwali
Editor: Awang Darmawan

Video Pilihan