Syiar Ramadan: Berhikmat

63
Ramadan 1439

SULSELSATU.com – “Dan sesungguhnya telah Kami karuniakan kepada Luqman Al-Hikmah, bahwa bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur maka tidak lain dia bersyukur kepada dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman : 12)

Ramadhan disebut juga bulan tarbiyah, bulan pendidikan. Bulan untuk mendidik diri meniti jalan berhikmat la’allakum tattaqun. Termasuk dalam tiga level zonasi diri: zona individu, zona sosial, dan zona keabdian imani.

Pada zona terkecil, zona individu, mendidik diri untuk menakar dan menjangkar diri. Menata kesabaran juga kesadaran diri.

Meluas sedikit, zona sosial, mendidik diri untuk menjadi bagian bermakna dalam larutan sosial. Tudang ri tudangenna. Tidak mengusik harmoni lingkungan. Macca na malempu, rewa na caradde’. Lalu, hadirnya pun riporennu. Dirindu. Kehadiran manusia riporennu membuat sesama makhluk berucap riang penuh penantian, “Engka ni.” Bukan sebaliknya, membuat sesama merujar kesal, “Engka si.”

Kemudian, pada zona keabdian imani, mendidik diri untuk mengenal Ilahi. Ini zona tak berbingkai ruang pun waktu, jalan ke puncak. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyatakan, “puncak dari seluruh hikmat, atau Hikmat Sejati yang dapat dicapai oleh manusia, ialah mengenal Tuhan.”

Ramadhan, bulan tarbiyah nan agung, dengan begitu akan menjelma sebentuk cawan waktu istimewa bagi manusia untuk meningkatkan derajat kemanusiaan dirinya. Meningkatkan derajat diri insan dalam interaksi tak sederhana dengan diri-diri insan juga diri-diri alami, setidaknya yang ada dalam radius gravitas insaninya. Hingga, meningkatkan derajat kabdian imaninya di atas neraca Ilahi.

***

Mendidik diri dalam tiga zona tersebut tidak dengan sendirinya menjadikan kita manusia berhikmat. Tetapi, tanpa itu kita tidak di titian jalan berhikmat. Bagaimana mungkin meniti jalan berhikmat tanpa kesadaran diri, tanpa kebermaknaan sosial, tanpa keabdian imani?

Buya Hamka mengartikan hikmat sebagai “kesan yang tinggal dalam jiwa manusia dalam melihat pergantian di antara suka dan duka hidup, melihat kebahagiaan yang dicapai sesudah perjuangan melawan hawa nafsu dan celaka yang didapati oleh orang yang melanggar garis-garis kebenaran yang mesti ditempuh.”

Seorang yang mendapat hikmat, menurut Buya Hamka, “selalu mendekatkan hatinya kepada Allah dan merenungkan alam yang ada di sekelilingnya, sehingga dia mendapat kesan yang mendalam, demikian juga renungannya terhadap kehidupan ini, sehingga terbukalah baginya rahasia hidup.” Yang dimaksudnya adalah Luqman.

Luqman al-Hakim, manusia bukan-Nabi, boleh jadi merupakan ekspresi puncak tentang manusia ahli hikmat yang juga disebut al-Hakim. Dengan karunia hikmat yang diperolehnya, Luqman diabadikan Ilahi dalam Al-Qur’an : wasiatnya dirinci dalam tujuh ayat, dan namanya disebut dua kali dalam Surat Luqman sesuai namanya.

Memperoleh hikmat sungguh tidak mudah, sekaligus sangat mulia.

Serambi Madinah, 5 Ramadhan 1439 H

Oleh: AM Iqbal Parewangi
(Anggota DPD RI – MPR RI, Inisiator Qur’anic Quantum Program)

Rekomendasi Berita

Berita Terkini

NasDem Perkuat Posisi sebagai Parpol Papan Atas

SULSELSATU.com, JAKARTA - Partai NasDem semakin memperkuat posisinya sebagai...

SAR dan RMS Dapat Amunisi dari Bang Ogi Community

SULSELSATU.com, SIDRAP - Sekretaris DPW Partai Nasdem Provinsi Sulawesi...

Canangkan Zona Integritas, Kejari Parepare Komitmen WBK dan WBBM

SULSELSATU.com, PAREPARE - Kejaksaan Negeri (Kejari) Parepare telah mencanangkan...

Baca Juga