Pilkada dan Sindrom Kodok Rebus

47
  • 2
    Shares
Luthfi Mutty (1)
Anggota DPRD RI, Luthfi A. Mutty (Sulselsatu/Kink Kusuma Rein)

SULSELSATU.com – Kodok adalah binatang yang sangat lamban beradaptasi. Maka, ketika seekor kodok dimasukkan ke dalam panci yang berisi air dingin, lalu panci itu diletakkan di atas tungku yang sedang menyala, sang kodok tetap saja berenang dengan santai.

Dia tidak sadar bahwa secara perlahan air mulai memanas. Dan ketika dia sadar, itu sudah terlambat. Sang kodok mati dalam rendaman air mendidih.

Begitulah yang terjadi di Pilkada serentak 27 Juni lalu. Banyak pasangan calon yang terpapar sindrom kodok rebus. Sindrom yang saya maksud di sini adalah pertama, masih menyangka dengan mudah dapat melakukan manipulasi. Prinsipnya, menang curang lebih baik dari pada kalah terhormat.

Mereka tidak menyadari bahwa peluang bermain curang sudah semakin sulit. Undang-Undang Pilkada sudah mengantisipasi sedemikian rupa terjadinya berbagai bentuk kecurangan.

Kedua, saat ini era teknologi informasi yang membuat semua serba transparan. Informasi sudah jadi milik publik. Tak ada lagi satu pihak yang memonopoli informasi. Kejadian di suatu tempat dalam sekejap dapat diketahui oleh siapapun di tempat lain tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Ketiga, masih banyak yang under estimate terhadap kesadaran politik rakyat. Mereka menyangka rakyat masih mudah diintimidasi dan dibeli.

Bahwa masih ada rakyat yang mau diajak jadi pelacur politik, memang iya. Tetapi, banyak juga yang sudah pandai. Ambil uangnya, jangan pilih orangnya.

Keempat, mengandalkan birokrasi sebagai mesin pemenangan adalah suatu kesia-siaan. Kekalahan beberapa incumbent ataupun pasangan calon yang didukung incumbent membuktikan hal itu.

Hanya birokrasi yang sungguh-sungguh tidak percaya pada kemampuan dirinya yang rela menghamba utk jadi tim pemenang.

Oleh:
Luthfi Andi Mutty (Anggota DPR RI Fraksi NasDem)

Pilkada dan Sindrom Kodok Rebus 1

Rekomendasi Berita

Baca Juga