Curhatan Kang Emil Anaknya Tak Masuk di SMP Negeri

75
  • 9
    Shares
Kang Emil
Ridwan Kamil dan Camillia Laetitia Azzahra (int)

SULSELSATU.com, BANDUNG – Anak bungsu Ridwan Kamil, Camillia Laetitia Azzahra, baru saja mengalami kekecewaan. Impiannya bersekolah di salah satu SMP Negeri favorit di Bandung harus pupus.

Padahal Zara memiliki NEM yang sangat bagus. Remaja cantik ini hanya bisa menangis mengadu ke sang ayah yang merupakan Wali Kota Bandung, sekaligus Gubernur Jawa Barat yang baru saja terpilih.

Kang Emil, sapaan sehari-hari Ridwan Kamil, mengungkap kalau ia tak bisa berbuat apa-apa. Hal ini lantaran aturan zonasi yang diterapkan dalam penerimaan murid baru di sekolah negeri.

Aturan tersebut membuat sekolah harus memprioritaskan penerimaan murid yang rumahnya dekat sekolah dibanding yang bernilai tinggi.

Zara, anak perempuan saya, NEM nya bagus dan mendaftar ke SMPN 2 Bandung. Namun ia tidak diterima karena tergeser oleh kuota sistem zonasi PPDB Kota Bandung versi awal, sebelum yang sekarang. Zara tidak terima. Ia merasa ini tidak adil. Ia menangis dan bertanya-tanya. Saya pun sebagai ayahnya ikut patah hati. ______ Namun Setelah saya terangkan perlahan, bahwa itu adalah sebuah peraturan yang harus kita hormati. Dan hidup yang mulia adalah hidup yang taat aturan dan syariat, akhirnya ia berhenti menangis dan mencoba paham. ________ Banyak pihak tanya "Anda kan Walikota, Anda kan punya kuasa atuh, bisa kali nyelipin buat anaknya sendiri. Masa tega sih ama anaknya sendiri?!". Saya telan percakapan2 itu. Saya diskusikan panjang dengan Bu Cinta. Dan kami pun sepakat kami taati aturan aja walau pahit. Apa jadinya jika saya ikutan melanggar aturan diam-diam . Nilai hidup apa yang akan menempel seumur hidupnya Zara, jika ia kami paksa masuk dengan cara yang tidak baik. Maka pastilah ia akan meyakini bahwa berbohong itu boleh, demi sebuah tujuan. Nauzubillah. ______ Dan Zara kini menyesuaikan diri, mencari bahagia dan gembira sekolah di SMP swasta. Semoga ini menjadi hikmah, bahwa mungkin kita tidak menyukai sebuah aturan yg membuat kita di pihak yang kalah. Namun aturan tetaplah aturan. Mari kita hormati. ______ Kesuksesan tidak selalu harus dengan bersekolah di negeri. Kesuksesan datang dari bagaimana kita berdamai dengan takdir, dan bergerak menyiasatinya dengan ikhtiar baru diperkokoh dengan doa. Hatur Nuhun.

A post shared by Ridwan Kamil (@ridwankamil) on

“Zara, anak perempuan saya, NEM nya bagus dan mendaftar ke SMPN 2 Bandung. Namun ia tidak diterima karena tergeser oleh kuota sistem zonasi PPDB Kota Bandung versi awal, sebelum yang sekarang. Zara tidak terima. Ia merasa ini tidak adil. Ia menangis dan bertanya-tanya. Saya pun sebagai ayahnya ikut patah hati,” ungkap Kang Emil di akun Instagramnya.

Ia berusaha menjelaskan pada putri kesayangannya itu kalau

‘Anda Kan Walikota, Anda Kan Punya Kuasa Atuh’

Aturan harus ditaati. Meski ayahnya merupakan orang yang memiliki jabatan tak lantas boleh melanggar aturan yang ada.

“Banyak pihak tanya ‘Anda kan Walikota, Anda kan punya kuasa atuh, bisa kali nyelipin buat anaknya sendiri. Masa tega sih ama anaknya sendiri?!’. Saya telan percakapan2 itu. Saya diskusikan panjang dengan Bu Cinta. Dan kami pun sepakat kami taati aturan aja walau pahit,” cerita ayah dua anak itu.

Akhirnya Kang Emil Memutuskan

Akhirnya Kang Emil dan istrinya memutuskan menyekolahkan Zara di salah satu SMP swasta. Zara pun mulai mengerti. Dia menyesuaikan diri dengan aturan yang ada.

“Apa jadinya jika saya ikutan melanggar aturan diam-diam . Nilai hidup apa yang akan menempel seumur hidupnya Zara, jika ia kami paksa masuk dengan cara yang tidak baik. Maka pastilah ia akan meyakini bahwa berbohong itu boleh, demi sebuah tujuan. Nauzubillah. Zara kini menyesuaikan diri, mencari bahagia dan gembira sekolah di SMP swasta. Semoga ini menjadi hikmah,” tulis Kang Emil. (Dream.co.id)

Editor: Febriansyah