Penjelasan Ilmiah di Balik Kebiasaan Pemain Sepakbola Muntahkan Air Minum

114
  • 2
    Shares
Muntahkan Air
Kylian Mbappe. (INT)

SULSELSATU.com – Bagi Anda pecinta sepakbola, pasti sering menyaksikan para pemain sepakbola memuntahkan air saat laga berhenti sejenak. Pemandangan ini kerap terlihat di laga yang berlangsung ketat seperti di Piala Dunia 2018.

Kebiasaan ini jelas mengundang pertanyaan. Alih-alih menenggak air mineral yang diberi, para pemain hanya memanfaatkan air minum itu untuk berkumur-kumur dan selanjutnya memuntahkannya kembali.

Ternyata, ada alasan ilmiah di balik hobi unik para pemain itu. Tindakan para pemain ini kerap disebut dengan istilah carb rinsing (pembilasan karbohidrat).

Dilansir Business Insiden, para pemain berkumur-kumur untuk melarutkan karbohidrat di mulut. Tindakan ini diyakini bisa menjaga kinerja tubuh dan otak.

Penjelasan Ilmiah di Balik Kebiasaan Pemain Sepakbola Muntahkan Air Minum 1

Tindakan ini diyakini bekerja dengan cara ‘mengelabui’ receptors di mulut dan mengirimkan sinyal ke pusat otak, bahwa ada tambahan energi di mulut.

Sinyal di otak ini membuat otot bekerja lebih keras. Dan ini tanpa efek negatif, daripada meminum air saat kelelahan yang membuat sakit perut dan kram.

Dalam sebuah studi European Journal of Sport Science pada 2017, carb rinsing meningkatkan kinerja tubuh dalam berbagai kegiatan fisik.

Universitas Coventry sudah menguji 12 pria sehat berusia 20 tahunan. Setelah melakukan carb rinsing, mereka bisa melakukan aktivitas lebih baik dan fokus.

Sementara itu, dalam Jurnal Internasional Nutrisi Olahraga dan Metabolisme pada 2015, 12 atlet pria yang melakukan carb rinsing mampu mengurangi kelelahan.

Namun faktanya, metode carb rinsing tak selalu berhasil. Ini seperti diungkapkan dalam studi pada 2017 yang diterbitkan dalam Journal of Sports Sciences.

Dalam studi tersebut, 15 pelari wanita tidak mengalami dampak apapun setelah melakukan metode carb rinsing usai berlari selama beberapa menit.

Dari hasil studi, metode ini dianggap tidak memiliki dampak besar untuk aktivitas jangka pendek. Tapi, lebih efektif untuk aktifitas berat dengan tempo lama seperti laga sepakbola.

Asisten Profesor Fisiologi Olahraga di Michigan State, David Ferguson, mengatakan, metode ini membantu mengurangi kelelahan dan meningkatkan konsentrasi mereka. Sesuatu yang sangat penting setelah bermain lebih dari 90 menit.

“Metode ini tidak membuat para pemain berlari lebih cepat atau menendang lebih keras. Ini hanya akan memaksimalkan konsentrasi mereka,” kata Ferguson.

Editor: Awang Darmawan

Rekomendasi Berita

Baca Juga