Pakai Bentor, Sumarsono Kunjungi Pasar Hewan Terbesar di Dunia

99
  • 2
    Shares
Sumarsono Pasar
Pj Gubernur Sulsel, Sumarsono beserta rombongannya berkunjung ke Pasar Bolu Rantepao, Sabtu (21/07/2018). (IST)

SULSELSATU.com, TORAJA UTARA – Pj Gubernur Sulsel, Sumarsono beserta rombongannya berkunjung ke Pasar Bolu Rantepao, Sabtu, (21/07/2018).

Usai melaksanakan salat subuh, ia bersama Pj Sekda Sulsel Tautoto Tanaranggina menggunakan becak motor (bentor) menuju ke pasar hewan terbesar di dunia itu.

“Pak Gub usai salat subuh langsung menuju ke Pasar Hewan Bolu dengan semangatnya menggunakan bentor,” kata Staf Khusus Sumarsono, Ferry Rende.

Pasar Hewan Bolu adalah pasar kerbau terbesar di dunia. Pasar ini memiliki luas 4 (empat) hektar. Pasar ini akan sangat ramai saat hari pasar yang ditetapkan pemerintah, yaitu hari Selasa dan Sabtu. Daya tarik dari pasar hewan ini adalah kerbau dan babi serta wisata agro.

Sumarsono yang menggunakan kaos berkerah berbicang santai dengan para penjual dan pedagang tentang hal-hal seputar kerbau yang mereka jual. Saat itu, ia menemukan tedong (kerbau) bonga seharga Rp250 juta. Dia bahkan terkejut saat mengetahui ternyata ada tedong seharga 600 juta.

“Ini harganya Rp 600 juta pak,” tutur seorang peternak.

Dia pun merasa bahwa Toraja ini adalah daerah spesial, khusus dan unik.

“Khusus Toraja, tidak ada di Indonesia, pasar satu-satunya di dunia. Jam 7 sudah saya nongkrong di sana. Saya mendapat kursus kilat mengenai kerbau Toraja,” sebut Sumarsono.

Ia merasa bersyukur karena bisa mempelajari budaya Toraja.

“Pertanyaan umumnya, mereka tidak bisa menemukan formula kenapa kerbau, sama beratnya tetapi beda harganya. Ada Rp25 juta sampai Rp600 juta,” jelas Sumarsono.

Ia kemudian menemukan harga ini ditentukan oleh panjang tanduknya, letak pusar dan lainnya.

“Saya catat mungkin bisa jadi lima halaman, ada 99 variabel penentu harga, dari jam 7 sampai jam 10 kursus spesifik,” katanya yang disambut tawa.

Bahkan, ia terlihat tidak segan memegang kerbau yang beratnya bisa mencapai 700 Kg.

Penulis: Asrhawi Muin
Editor: Awang Darmawan