Aktivis Muhammadiyah Minta Napi Koruptor Satu Sel dengan Maling Ayam

19
  • 4
    Shares
Fasilitas Seadanya Buat Koruptor Malas Ditahan Di Rutan Kpk
Ilustrasi. (Int)

SULSELSATU.com, JAKARTA –¬†Fasilitas mewah dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) menjadi sorotan tajam para aktivis. Masalah ini terbongkar setelah KPK menemukan fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin, Bandung oleh KPK.

Aktivis dan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai, perlu ada transparansi ke depan soal pengawasan lapas.

“Pertama, audit lapas secara terbuka yang bisa juga diakses semua pihak melalui media, sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah dalam hal ini Menkumham,” kata Dahnil, di Jakarta seperti dikutip Viva, Minggu (22/7/2018).

Dia juga menilai, lapas khusus narapidana-narapidana korupsi sebaiknya dihapuskan saja. Sehingga napi-napi koruptor itu bercampur dengan napi lain.

“Lapas atau penjara khusus napi korupsi, agaknya tidak diperlukan, karena ada fakta diskriminasi yang mencolok seperti yang terjadi di Sukamiskin,” ujarmnya.

Narapidana yang memiliki dana besar seperti napi koruptor menurut dia, punya peluang untuk membeli ruang private. Sehingga, mereka lebih baik dibaurkan dalam tempat yang sama dengan napi kejahatan biasa.

“Oleh sebab itu agaknya setiap narapidana korupsi dipenjarakan satu sel bersama-sama dengan narapidana lain, maling ayam, pemerkosa dan kejahatan-kejahatan lainnya,” kata Dahnil.

Sebelumnya, KPK telah menjerat empat orang tersangka dugaan suap pemberian fasilitas bagi koruptor di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (21/7/2018).

Empat tersangka itu yakni Kalapas Sukamiskin Wahid Husen, suami dari artis Inneke Koesherawati Fahmi Darmawansyah, PNS Lapas Sukamiskin Hendri Saputra dan narapidana pendamping Fahmi Andri Rahmat.

Editor: Hendra Wijaya