Retno Marsudi Berharap Belanda Hukum Berat Pemerkosa WNI

21
  • 2
    Shares
Retno Marsudi 1
Retno Marsudi (IST)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Kasus perkosaan mahasiswi Indonesia di Belanda menjadi perhatian khusus kedua negara. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bahkan telah menghubungi koleganya di Belanda, meminta agar pelaku dihukum berat.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri, Kamis (26/7), Menlu Retno berkomunikasi dengan Menlu Belanda Stef Blok pada Rabu (25/7). Retno kepada Blok menyatakan keprihatinan terhadap peristiwa yang menimpa WNI di Belanda.

“Meskipun aparat penegak hukum Belanda sudah melakukan banyak hal pasca kejadian tersebut, Menlu Retno meminta agar peristiwa ini diberikan perhatian khusus untuk memastikan pelakunya dihukum seberat-beratnya,” ujar pernyataan Kemlu dikutip dari kumparan.

Menanggapi hal itu, Blok mengatakan masyarakat Belanda sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Dia menyatakan simpati yang mendalam kepada korban dan keluarganya.

“Menlu Stef Blok juga memastikan bahwa kepolisian Belanda akan melakukan yang terbaik untuk menangkap dan menghukum pelaku,” lanjut Kemlu lagi.

Kasus perkosaan ini menimpa mahasiswi Indonesia peserta pertukaran pelajar Erasmus University di kota Rotterdam, Sabtu pekan lalu. Ketika itu korban yang berusia 20-an bersepeda sekitar pukul 05.30 pagi dari stasiun sentral Rotterdam menuju rumahnya di Herman Bavinckstraat.

Tidak lama setelah korban merantai sepedanya di rumahnya, dia diserang dan diperkosa oleh pelaku. Korban mengalami luka karena dijerat lehernya dengan rantai sepeda oleh pelaku.

Pada Selasa malam (24/7) pelaku perkosaan dilaporkan telah tertangkap. Pelaku adalah pria usia 18 tahun, warga kota Rotterdam.

Menurut Kemlu, sejak hari pertama kasus terjadi Kedutaan Besar RI di Den Haag telah berada di Rotterdam untuk memberikan dukungan sekaligus berkoordinasi dengan aparat setempat.

“Kakak dan ayah korban sudah berada di Rotterdam untuk mendampingi (25/7). KBRI memberikan asistensi yang dibutuhkan bagi keluarga korban,” lanjut Kemlu.

Editor: Agung Hidayat