Patut Ditiru, Kisah Pemulung yang Naik Haji dengan Sisihkan Rp 10.000 ribu per hari

66
  • 3
    Shares
Jemaah Calon Haji, Haji 2017, Kabupaten Gowa
Ilustrasi. (Dok. Sulselsatu)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Miskat, asal Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung, selangkah lagi mewujudkan impian menunaikan ibadah haji setelah bertahun-tahun menyisihkan uang hasil jerih payahnya senilai Rp 10 ribu setiap hari.

Kakek yang kini berusia 70 tahun itu tergabung bersama rombongan calon haji lainnya asal Kabupaten Probolinggo dalam kelompok terbang (Kloter) 28 Embarkasi Surabaya, yang Rabu sore memasuki Asrama Haji Sukolilo Surabaya, untuk kemudian berangkat ke Tanah Suci melalui Bandara Juanda, Kamis (26/7/2018) sore.

“Naik haji sudah menjadi cita-cita saya sejak masih muda,” ujar duda dua anak ini, Rabu, 25 Juli 2018, dengan suara lirih.

Empat bulan lalu, menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, Miskat menderita sesak nafas. Sejak itu, dia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur rumahnya, tanpa dapat melakukan aktivitasnya lagi sebagai pemulung.

Dia mengenang, sebelum menderita penyakit sesak nafas, rutinitasnya adalah memulung sampah, mencari barang-barang bekas yang masih bisa dijual kembali, seperti kardus, botol dan lainnya.

Sarana yang dikendarainya untuk memulung sampah adalah sepeda angin tua dengan wadah atau “ronjotan” di belakangnya untuk menyimpan barang-barang bekas yang yang dikaisnya dari tempat sampah, yang dirasa masih laku dijual.

“Saya berkeliling di lima desa dengan mengayuh sepeda untuk mengais sampah setiap hari,” katanya.

Hasil penjualan dari barang-barang bekas yang dikumpulkannya disisihkan Rp 10 ribu setiap hari, yang kemudian disimpan di lemari, bersama tumpukan baju di rumahnya.

Miskat masih ingat, pada 2010, uang simpanannya terkumpul Rp 3 juta, dengan pecahan atau lembaran uang Rp 10 ribuan yang sudah lusuh. Dia mengikatnya dengan gelang karet dan membawanya kepada H Saiful, pemilik salah satu Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) di Probolinggo.

Saiful lantas mengantar Miskat mendaftar haji dengan lembaran uang Rp 10 ribuan lusuh senilai Rp 3 juta yang diikat karet gelang itu. Saat itu, biaya pendaftaran haji sekitar Rp 25 juta.

Sisa kekurangannya menggunakan dana talangan dari bank dengan yang dijamin oleh pemilik KBIH. Menurut Saiful, dana talangan itu jatuh temponya oleh bank hanya diberi waktu selama setahun. Tentu Miskat tidak dapat melunasinya.

Dari pihak KBIH, lanjut dia, ikut membantu membayarkan bunganya ke bank yang sudah lewat jatuh tempo hingga akhirnya Miskat dapat menutup cicilan pokoknya bertahun-tahun kemudian.

Petugas di Asrama Haji Sukolilo Surabaya malam ini merujuk Miskat ke Rumah Sakit Umum Haji Surabaya untuk menjalani perawatan medis pada pernafasannya. Dari sorotan matanya masih terpancar semangat untuk segera melihat Rumah Allah di Mekkah, menunaikan ibadah haji, memenuhi rukun Islam kelima.

Editor: Agung Hidayat

Patut Ditiru, Kisah Pemulung yang Naik Haji dengan Sisihkan Rp 10.000 ribu per hari 1

Rekomendasi Berita

Baca Juga