Pilu, Ini Pengakuan Ayah Pendaki Asal Makassar yang Tewas di Gunung Rinjani

90
  • 2
    Shares
Amrullah
Amrullah, orang tua Muhammad Ainul Taksim (25), pendaki yang tewas di Gunung Rinjani. (Sulselsatu/Hermawan Mappiwali)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Kabar duka tentang kematian seorang pendaki asal Makassar, Sulawesi Selatan, Muhammad Ainul Taksim (25) di Gunung Rinjani kini telah diketahui oleh kedua orang tua korban. Aura duka pun tidak dapat tertutupi di raut wajah keduanya.

Pasangan orang tua korban, yakni Amrullah (59), dan Farida (52) kini tengah menunggu putranya dipulangkan ke kediaman di kelurahan Laikang, Kecamatan Bringkanaya, Makassar.

Amrullah sendiri mengaku sangat terpukul dengan berita duka itu. Ia pun kembali mengenang putranya yang memang sejak dulu hobi berpetualang, menuju tempat-tempat indah, seperti halnya Rinjani.

Sebelum pergi ke Rinjani, Inul sapaan akrab korban memang hobi naik gunung. Amrullah mengatakan, semua gunung di Sulsel telah putranya daki. Bahkan ada yang sudah sampai dua kali. Namun, Inul sendiri diketahui bukan anak Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam), kendati ia memang banyak memiliki teman dari Mapala.

“Lima hari yang lalu (25/7/2018), dia berangkat dengan temannya, dari kompleks sini 3 orang, dari Perumnas 5 orang jadi 8 (orang). Di Lombok ketemu lagi 5 orang. Jadi 13 (orang),” ujar Amrullah saat menceritakan kepergian putranya ke Rinjani.

Hingga jelang Duhur, Minggu (29/7/2018) kemarin, salah seorang rekan Inul, menemuinya.

“Kemarin tanggal 29 sekitar mau masuk Duhur, temannya ke sini. Temannya sudah tahu sebenarnya (bahwa Inul meninggal), sudah tahu hanya dia belum mau menyampaikan karena dia lihat kondisi saya,” tutur Amrullah.

“Dia bilang kita berdoa, sabar, karena Inul ini terjebak. Dia bilang di atas susah turun karena longsor,” tuturnya lagi.

Mendengar berita itu, Amrullah menjawab pasrah dan meminta agar rekan anaknya itu segera menyampaikan bila ada informasi terbaru tentang anaknya.

Hingga menjelang Ashar, rekan Inul pun kembali memberi kabar bahwa Inul telah berhasil dievakuasi dari Gunung Rinjani.

“Tapi kenapa saya mau salat Ashar di masjid, persis ada bayangannya di situ (di tempat sujud). Saya sudah berhalusinasinya ke situ. Saya pulang anak saya yang perempuan bungsu itu nangis, dia bilang ndak adami kakakku. Ini ada beritanya,” ujar Amrullah dengan suara lirih.

Namun Amrullah dan keluarganya mengaku tetap menjaga asa, ia berharap anaknya hanya pingsan. Hingga berita kepergian anaknya mulai ramai, ia pun mengaku pasrah dengan meminta anak sulungnya, Indah Musdalifa (30) untuk menyusul ke Nusa Tenggara Barat agar membawa adiknya pulang.

“Saya berharap bisa dikembalikan dengan secepatnya,” tutupnya.

Penulis: Hermawan Mappiwali
Editor: Awang Darmawan