Dirut PLN Tak Penuhi Panggilan KPK

51
  • 1
    Share
Sofyan
Sofyan Basir (int)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Direktur Utama (Dirut) PLN, Sofyan Basir, tidak dapat memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (31/7/2018). Ia pun mengirim surat ke KPK terkait ketidakhadirannya itu.

“Saksi Sofyan Basir tidak datang dalam rencana pemeriksaan hari ini,” ujar juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (31/7/2018).

Febri menyebut Sofyan Basir mengirimkan surat kepada penyidik mengenai ketidakhadirannya itu. Dalam surat yang dikirimkan kepada penyidik, Sofyan Basir mengaku ada keperluan lain sehingga tidak bisa memenuhi panggilan.

“Tadi staf yang bersangkutan menyerahkan surat ke KPK, tidak bisa datang memenuhi panggilan penyidik karena hari ini tengah menjalankan tugas lain,” kata Febri yang dikutip dari Kumparan.

Hari ini, Dirut PLN Sofyan Basir terlihat hadir di Istana Bogor. Ia mengikuti rapat terbatas bersama dengan Presiden Joko Widodo dan sejumlah pihak terkait membahas peningkatan penerimaan devisa.

Saat dikonfirmasi mengenai pemeriksaan KPK, ia mengakui tidak bisa memenuhinya. Ia pun menyebut bahwa ratas tersebut membahas hal yang penting sehingga tidak bisa ditinggalkan.
“Kan ada ini (ratas),” kata dia.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Keduanya yakni Eni Maulani Saragih selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR serta pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo.

Kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan pada Jumat lalu. Dalam operasi tersebut, Eni yang merupakan kader Partai Golkar itu diduga menerima suap Rp 4,8 miliar dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo. KPK menduga uang itu merupakan suap terkait pembangunan PLTU Riau-1.

Eni diduga mempengaruhi manajemen PLN agar Blackgold ikut dalam proyek PLTU Riau-1. Meski sebagai anggota DPR tak punya kewenangan dalam proses pengadaan pembangkit listrik di PLN, Eni diduga memiliki pengaruh.

BlackGold Natural Resources merupakan perusahaan tambang batu bara, yang menjadi anggota konsorsium dari PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) sebagai kontraktor pada proyek PLTU Riau-1, bersama perusahaan asal Tiongkok, China Huadian Engineering Co. Ltd.

PLTU Riau 1 sendiri dijadwalkan akan beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada 2024. Kapasitasnya sebesar 600 MW. PLTU ini akan dibangun di Kecamatan Penarap, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Nilai investasi proyek PLTU Riau 1 mencapai USD 900 juta atau Rp 12,87 triliun.

Editor: Febriansyah

Rekomendasi Berita

Baca Juga