Luhut: Rupiah Bakal Membaik di Akhir Tahun

19
Luhut Binsar Pandjaitan
Luhut Binsar Pandjaitan (INT)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) dan nilai tukar rupiah akan membaik pada akhir tahun ini, sejalan dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah.

“Saat ini ada masalah rupiah, tapi nanti akan bisa dibereskan beberapa bulan ke depan. Mungkin empat bulan dari sekarang. Ini paling tidak menahan rupiah di sekitar Rp14 ribu dan mungkin secara bertahap bisa turun ke bawah lagi,” ujar Luhut di Jakarta, dikutip dari CNN Indonesia Kamis (2/8/2018).

Ia menjelaskan upaya yang dilakukan pemerintah fokus pada tiga sektor yang menyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Dengan demikian, CAD bisa membaik dan berdampak pada penguatan rupiah.

Pertama, meningkatkan ekspor kelapa sawit dengan menjaga harga dan meningkatkan produksi. Pemerintah, katanya, telah bekerja sama dengan Malaysia, sesama negara terbesar penghasil kelapa sawit untuk terus menjaga harga. Caranya, dengan meningkatkan produksi Biodiesel 20.

“Dengan biodiesel itu harga sawit bisa naik di kisaran US$750-800 per ton. Itu akan membuat kemakmuran pada masyarakat dan masalah kemiskinan yang dikatakan bekas pemimpin itu (SBY) bisa berkurang dengan cepat,” katanya.

Selanjutnya dari sisi produksi, pemerintah akan meremajakan (replanting) sekitar 2,8 juta hektar lahan sawit milik petani kecil, sehingga lahan lebih subur dan jumlah produksi membengkak.

Ia memperkirakan produksi kelapa sawit bisa meningkat hampir dua kali lipat, dari sekitar 37 juta ton per tahun saat ini menjadi 60 juta ton per tahun. “Ini nanti revenue (pendapatan) negara dari sawit bisa meningkat, padahal belum kami bicara hilirnya,” terangnya.

Kedua, mengembangkan sektor pariwisata. Ia bilang hal ini sudah cukup positif terlihat dari kerja sama dengan beberapa pihak untuk mengembangkan 10 destinasi Bali baru.

Salah satunya, Danau Toba melalui kerja sama dengan AirAsia untuk membuka penerbangan dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Bandar Udara Internasional Silangit. “Jadi kami harapkan bisa mencapai target pertumbuhan wisatawan 21 persen tahun ini menjadi 17 juta,” tuturnya.

Ketiga, sektor pertambangan batu bara. Pemerintah belum lama ini mengubah ketentuan pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri sektor kelistrikan (Domestic Market Obligation/DMO) dan harga khusus batu bara DMO bagi PLN. Ketentuan itu mewajibkan sekitar 25 persen penjualan batu bara perusahaan harus ditujukan untuk keperluan dalam negeri.

Editor: Febriansyah