RSUD Sulthan Dg Raja Bulukumba Jadi Rujukan Pemeriksaan Kesehatan CTKI

49
  • 4
    Shares
Img 20180802 113542
Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali menerima bukti persetujuan Kemenkes untuk RSUD Sulthan Dg Radja jadi rujukan pemeriksaan kesehatan CTKI. (Ist)

SULSELSATU.com, BULUKUMBA – Bagi anda yang punya keinginan untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), tidak perlu lagi jauh-jauh ke Kota Parepare untuk memeriksakan kesehatan.

Selain Rumah Sakit Makasau Parepare, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) A. Sulthan Dg Radja Bulukumba juga membuka pemeriksaan kesehatan bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) yang dilaunching, Kamis (2/7/2018).

Peresmian Klinik CTKI ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati AM Sukri Sappewali didampingi oleh Ketua DPRD Andi Hamzah Pangki, Direktur RSUD dr Abdurrajab, dan Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Provinsi Sulawesi Selatan Agus Bustami.

Plt Direktur RSUD A. Sulthan Dg Raja, dr Abdurrajab mengatakan, setelah rumah sakit mendapatkan akreditasi paripurna atau bintang lima dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), pihaknya kembali melakukan terobosan baru dengan adanya persetujuan dari Kementerian Kesehatan bahwa RSUD H Andi Sulthan Daeng Radja menjadi pusat rujukan yang kedua untuk pemeriksaan kesehatan calon TKI, setelah RSUD Andi Makkasau Parepare.

Untuk masalah harga, Radjab mengaku lebih murah, jika di Parepare sekali pemeriksaan kesehatan Rp350 ribu, di RSUD Sulthan Dg Rafmdja hanya Rp225 ribu saja.

Kepala BP3TKI Sulsel, Agus Bustami mengungkapkan, proses pengurusan klinik CTKI di RSUD H Andi Sulthan Daeng Radja terbilang cepat, hanya dalam waktu 2 tahun izin dari Kemenkes sudah terbit.

Untuk mendapatkan surat keterangan sehat, Bustani mangatakan calon TKI tidak boleh sembarang menggunakan fasilitas kesehatan, harus menggunakan klinik utama yang telah ditunjuk.

“Saat ini ada 150 ribu TKI di luar negeri. TKI paling banyak berada di Malaysia sebanyak 130 orang, sisanya terbagi di Eropa, Amerika, Jepang dan Korea,” ungkap Agus Bustami.

Penulis: Akbar Wahyudi
Editor: Hendra Wijaya