Akses Internet Dicabut Akibat Demonstrasi di Bangladesh

22
  • 4
    Shares
Demonstrasi Di Bangladesh

SULSELSATU.com, BANGLADESH – Pihak berwenang Bangladesh telah menutup akses internet seluler di seluruh negeri untuk menghentikan penyebaran informasi palsu, menyusul demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh pelajar sekolah menengah dan mahasiswa.

Surat kabar terbesar di negara itu, Prothom Alo, melaporkan bahwa layanan internet 3G dan 4G telah ditutup selama 24 jam sejak Sabtu malam, tak lama setelah kekerasan pecah.

Seluruh pengguna media sosial di Bangladesh mengeluh karena mereka tidak bisa mengakses internet melalui ponsel pintar, meskipun jaringan nirkabel (wireless) dan kabel (wire) tidak terdampak.

Seorang pejabat senior dari Komisi Regulasi Telekomunikasi Bangladesh (Bangladesh Telecommunications Regulatory Commission) membenarkan bahwa pihaknya diminta langsung oleh pemerintah untuk melumpuhkan akses internet di seluruh ponsel.

“BTRC (Bangladesh Telecommunications Regulatory Commission) telah memperlambat internet atas perintah pemerintah,” kata pejabat yang namanya enggan disebut itu, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Senin 6 Agustus 2018.

Langkah ini merupakan upaya untuk membatasi kemampuan siswa dalam memobilisasi atau mengekspresikan kemarahan secara daring (online). Beberapa jam setelah polisi dan orang-orang tidak dikenal menyerang para demonstran, mereka lalu menyuarakan tentang payahnya pemerintah dalam menangani protes.

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, mengklaim bahwa ada “aktor utama” di balik aksi unjuk rasa itu, dengan pandangan anti-pemerintah yang ekstrem. “Si dalang” berusaha untuk menyabotase aksi protes dan memperburuk keadaan, sehingga bentrokan dengan polisi pun tak dapat terelakkan.

The Washington Post mengutip “laporan” lokal yang menunjukkan, “baik partai yang berkuasa dan oposisi telah memobilisasi pendukungnya untuk menyusup ke dalam aksi protes tersebut.”

“Itu sebabnya, saya meminta semua wali dan orang tua murid untuk menjaga anak-anak mereka di rumah. Apa pun yang mereka lakukan sudah cukup,” ujar Hasina.

Ribuan siswa sekolah menengah dan mahasiswa di Bangladesh melakukan aksi protes selama lima hari, menyusul tewasnya dua orang remaja akibat tertabrak bus yang melaju kencang. Protes meletus setelah muncul kabar bahwa seorang pelajar putra dan putri tewas tertabrak pada Minggu, 29 Juli 2018, akibat diseruduk bus yang saling balap mengejar target penumpang.

Kabar tersebut menyebar dengan cepat di media sosial dan memicu kecaman luas, terutama dari kalangan anak muda.

Aksi protes yang berubah menjadi ricuh dan menyebabkan beberapa kendaraan rusak. Polisi bersenjata tameng dan pentungan berusaha memukul mundur demonstran ke beberapa bagian kota. Operator bus terkait telah menanggapi aksi protes dengan menangguhkan layanan mereka.

Para demonstran menuntut keadilan bagi pejalan kaki dan penertiban aturan keamanan berlalu lintas. Aksi ini membuat ibu kota Dhaka hampir lumpuh total.

Di saat bersamaan, Kementerian Pendidikan meliburkan sementara sekolah-sekolah menengah di seluruh Bangladesh dan berjanji untuk mempertimbangkan tuntutan mereka.

Ribuan pelajar dan mahasiswa di Bangladesh menduduki jalanan utama di ibu kota, Dhaka. Mereka menuntut penerapan aturan lalu lintas yang lebih kuat menyusul tewasnya anak laki-laki dan perempuan akibat tertabrak sebuah bus yang ngebut.

Namun, pada hari ketujuh, mereka mulai mendapat perlawanan balik. Sekitar 25 pelajar Bangladeshmengalami cedera akibat bentrokan yang terjadi di tengah demonstrasi.

Belum jelas, siapa pihak yang menyerang mereka. Namun, media lokal menduga, pelakunya adalah organisasi pelajar yang berada di bawah naungan partai berkuasa.

Sejumlah laporan menyebut, aparat menggunakan gas air mata dan peluru karet saat mencoba mengendalikan kerumunan massa pada Sabtu 4 Agustus 2018, meskipun polisi menyangkal informasi tersebut.

Seorang dokter dan saksi mata mengatakan jumlah korban luka jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan, lebih dari 100 orang.

“Beberapa dari mereka yang terluka dalam kondisi yang sangat buruk,” kata Dokter Abdus Shabbir kepada AFP, seperti dikutip dari BBC News, Minggu 5 Agustus 2018. “Beberapa korban mengalami cedera akibat terjangan peluru karet.”

Di samping itu, seorang reporter wanita mengunggah pengakuan di media sosial. Ia mengaku ‘dilecehkan’ ketika mencoba untuk memfilmkan bentrokan.

Dengan meneriakkan kalimat, “Kami menginginkan keadilan”, para pelajar menyerukan penegakan hukum lalu lintas yang lebih ketat. Mereka memblokir persimpangan utama di ibukota selama tujuh hari berturut-turut.

Para siswa bersikukuh tidak akan meninggalkan jalan sampai tuntutan mereka dipenuhi

“Kami tidak akan meninggalkan jalan sampai tuntutan kami terpenuhi. Kami ingin jalan yang aman dan pengemudi yang bertanggungjawab,” kata pengunjuk rasa Al Miran.

Sejumlah pelajar dan mahasiswa, di antaranya para remaja berusia 13 tahun terlihat di jalan-jalan yang lumpuh di Dhaka, Bangladesh, memeriksa apakah pengemudi memiliki surat izin yang sah. Mereka juga memastikan bahwa mobil dan bus berada dalam kondisi baik saat melaju di jalan.

Editor: Agung Hidayat

Rekomendasi Berita

Baca Juga