Hubungan Buruk dengan Kanada, Arab Saudi Perintahkan 16 Ribu Mahasiswa Pulang

Saudi Dan Kanada
Kanada dan Arab Saudi (int)

SULSELSATU.com – Arab Saudi mencabut 16.000 mahasiswanya di Kanada dan memerintahkan mereka pulang dan mencari program akademi di tempat lain, Rabu (8/8/2018).

Langkah tersebut menyusul pengusiran duta besar Kanada dari Riyadh, dan penarikan dubes Saudi di Kanada sebagai protes atas kecaman negeri itu terhadap penangkapan aktivis hak-hak manusia, Senin (6/8/2018).

Selain memutuskan hubungan diplomatik, Arab Saudi juga membekukan seluruh transaksi komersial dan investasi baru dengan Kanada. Maskapai penerbangan Saudi Arabia Airlines juga menghentikan penerbangan ke Toronto, Kanada.

Dilansir Saudi Gazette, juru bicara Kementerian Pendidikan Arab Saudi Mubarak Al-Ossaimi memastikan bahwa kementerian mempersiapkan rencana darurat untuk memfasilitas pemindahan beasiswa ke negara-negara lainnya.

Sumber Saudi Gazette menyebut Amerika Serikat sebagai negara alternatif beasiswa bagi mahasiswa Saudi di Kanada.

Wakil Menteri Pendidikan Jassir Sulaiman mengatakan kepada stasiun TV Al Ekhbariya bahwa proses pemindahan akan berlangsung dengan “pertimbangan tinggi kepentingan pendidikan dan kepentingan umum mahasiswa”, demikian laporan Xinhua

Sumber Saudi Gazette menyatakan tidak satu pun mahasiswa Arab Saudi yang berada di Kanada di musim panas 2018. Menurut data statistik resmi, 8.076 mahasiswa Arab Saudi menerima beasiswa. Sebagian besar di tingkat doktoral. Mereka ditemani oleh 6.508 keluarganya.

Arab Saudi pada Senin membekukan hubungan dengan Kanada sehubungan dengan pernyataan oleh menteri urusan luar negeri Kanada dan Kedutaan Besar Kanda di Riyadh mengenai pegiat sipil yang telah ditahan. Pemerintah Kanada mendesak Pemerintah Arab Saudi agar segera membebaskan pegiat Kanada itu.

Kerajaan Arab Saudi meminta utusan Kanada meninggalkan negeri tersebut dalam waktu 24 jam, membekukan penanaman modal antara kedua negara itu, dan memanggil duta besarnya dari Kanada untuk berunding.

Sementara itu, media berita daring lokal Sabq mengatakan ada juga instruksi untuk menghentikan pengiriman pasien Arab Saudi ke Kanada.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada Senin menyatakan Kerajaan tersebut takkan menerima campur-tangan apapun dan akan bereaksi secara tegas.

Kanada pada Senin teguh mempertahankan kritik terhadap catatan hak asasi manusia Arab Saudi, meski Riyadh telah membekukan perdagangan dan mengusir duta besarnya dari negara tersebut.

Perselisihan antara kedua negara berawal saat Kanada meminta Arab Saudi untuk segera membebaskan para aktivis hak-hak sipil yang dipenjara.

“Biar saya perjelas, Kanada akan tetap membela hak asasi manusia di dalam negeri dan di seluruh dunia. Hak bagi perempuan adalah hak asasi manusia,” kata Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland.

Sebelumnya pada Minggu, Riyadh memberikan waktu kepada duta besar Kanada untuk meninggalkan Arab Saudi dalam 24 jam. Mereka juga melarang perdagangan baru dengan Kanada.

Hingga kini, belum diketahui apakah larangan baru itu akan berdampak pada perdagangan yang sudah ada, yang setahunnya bernilai hampir empat miliar dolar AS ditambah kontrak pertahanan sekitar 13 miliar dolar AS.

Tidak lama setelah Freeland menyampaikan tanggapan terhadap aksi balasan Arab Saudi, Kementerian Luar Negeri Kanada menyiarkan pernyataan bahwa mereka “sangat prihatin” terhadap pengusiran duta besar.

Sebelumnya pada Jumat, Kanada mengkritik penangkapan terhadap sejumlah aktivis di Arab Saudi, termasuk aktivis perjuangan hak perempuan, Samar Badawi. Ottawa meminta mereka untuk segera dilepaskan.

Riyadh kemudian menanggapinya dengan menyatakan bahwa Kanada “terang-terangan melakukan intervensi terhadap urusan domestik Kerajaan, yang bertentangan dengan norma-norma internasional.”

Respon keras Arab Saudi terhadap kritik negara lain itu menunjukkan terbatasnya upaya reformasi oleh Putra Mahkota Mohammad bin Salman, yang kini memimpin pemerintahan.

Di satu sisi Salman telah memulai perubahan sosial dan ekonomi, namun di sisi lain tetap membatasi kegiatan politik di negara monarki itu.

Pada beberapa bulan terakhir, Arab Saudi mencabut larangan mengemudi untuk perempuan, tetapi sekaligus menangkap para aktivis perempuan.

Lalu pada Senin, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan desakan Kanada bagi pembebasan para aktivis adalah sebuah sikap yang diambil dari informasi yang “menyesatkan.”

Arab Saudi akan menghentikan program pertukaran pelajar dengan Kanada dan mengalihkan jatah beasiswa ke negara lain, demikian kabar dari Al Arabiya pada Senin. Beberapa negara tetangga seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab mengaku berpihak pada Riyadh.

Selain itu, maskapai milik negara Saudia mengaku menghentikan sementara penerbangan dari dan ke Toronto, yang merupakan kota terbesar di Kanada.

Amnesti Internasional menanggapi sikap Kanada itu, yang dianggapnya menunjukkan bahwa Ottawa telah menjadi salah satu dari sedikit negara yang berani bersuara terhadap catatan hak asasi Arab Saudi.

“Pemerintah Arab Saudi justru memilih kebijakan penghukuman saat menghadapi kritik. Sementara itu negara-negara yang punya pengaruh besar terhadap Arab Saudi — seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis — telah terlalu lama berdiam diri,” kata Samah Hadid, Direktur Kampanye Amnesti Internasional wilayah Timur Tengah.

Riyadh di bawah kepemimpinan Mohammad bin Salman cenderung bersikap keras terhadap kritik dari negara-negara Barat.

Pada Mei lalu, Riyadh menarik duta besar mereka dari Jerman sekaligus menghentikan penandatanganan kontrak baru dengan perusahaan asal Jerman, setelah mendapat kritik dari negara tersebut terkait krisis politik di Lebanon.

Editor: Febriansyah