Aroma Dugaan Pembunuhan di Balik Kebakaran Tinumbu Makin Menguat

  • 21
    Shares

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Empat hari sudah peristiwa kebakaran hebat yang menewaskan enam orang di Jalan Tinumbu, Kelurahan Panampu, Kecamatan Tallo, Makassar, berlalu.

Namun, peristiwa yang terjadi pada Senin (6/8/2018) dini hari itu belum usai. Sejumlah kejanggalan terus mencuat. Ada desas-desus dari keluarga dan kerabat korban bahwa sebenarnya itu bukan kebakaran murni, melainkan diduga kuat rumah milik H. Sanusi tempat api berasal, itu sengaja dibakar.

Informasi yang dihimpun, terdapat sejumlah kejadian sebelum kebakaran terjadi dan dianggap berkaitan dengan peristiwa kebakaran tersebut.

Seperti keterangan Amir, ayah dari Fahri (24) salah satu korban tewas dalam kebakaran. Amir mengatakan, almarhum anaknya Fahri pada Sabtu (4/8/2018) malam sempat dikeroyok yang kabarnya dilakukan oleh kelompok geng motor.

Pada malam itu, korban diantar pulang oleh rekannya berinisial AK.

Lalu pada Minggu malam (malam berikutnya), Amir kembali didatangi oleh rekan anaknya yang berinisial GL. Amir ditemui GL Minggu malam tepat depan rumah mertuanya, H. Sanusi.

Namun mengetahui GL datang, Fahri yang berada di dalam rumah H. Sanusi enggan keluar. Amir pun sempat menanyakan ada perlu apa GL mencari Fahri.

Amir juga mengatakan jika Fahri memiliki utang uang maka ia siap menebusnya. Namun GL menggeleng, kedatangannya hanya untuk menemui Fahri.

“Fahri bilang jangan dibuka pak, dibunuhka itu,” ungkap Amir.

Dari rentetan kejadian sebelum kebakaran itu, Amir menduga bahwa anaknya seperti menyimpan rahasia yang dikhawatirkan akan mencederai kelompok itu. Amir juga menambahkan bahwa AK dan GL beralamat di kampung Sapiria dan kini telah diperiksa di Polrestabes Makassar

Lalu saat sulselsatu.com, kembali mendatangi lokasi kebakaran pada Kamis (9/8/2018) kemarin, salah seorang sepupu Fahri, AM (39) menerangkan bahwa sejumlah OTK terlihat meninggalkan rumah H. Sanusi sesaat setelah api mulai berkobar.

AM menduga kuat bahwa sebenarnya korban Fahri hendak dibunuh oleh OTK tersebut. Namun, karena 5 orang keluarga Fahri lainnya berada di rumah tersebut diduga mendapati kejadian itu, sehingga mereka pun turut meninggal.

Lima keluarga yang dimaksud adalah nenek Fahri yaitu H. Sanusi (75) dan Hj. Bondeng (70), bibi Fahri yaitu Hj. Musdali (40), serta sepupu Fahri yakni Hijas (6) dan Mira (18).

“Satuji (Fahri) mungkin mau nabunuh di dalam, tapi banyak orang (lima keluarga) yang lihat terpaksa dikasih mati semua,” ujar AM kepada sulselsatu.com pada Kamis kemarin.

AM juga menduga kuat, enam orang keluarganya itu sudah tewas dahulu hingga rumah tersebut sengaja dibakar oleh pelaku untuk menghilangkan jejak kejahatannya.

“Yang paling janggal, tidak ada teriakan di dalam waktu pertama-pertama orang menyiram, biasanya pasti ada teriakan biar satu, kan enam orang,” ujar AM.

“Apalagi kalau terbakarki api, pasti bilang oohhh api besar, ini tidak ada suara di dalam biar satu orang. Biasa kan mendengarki (teriakan), karena belum parah api,” lanjutnya.

“Itu seolah-olah habis dikerja (dibunuh) di dalam baru dibakar,” tutup AM.

Sementara seorang kerabat lainnya, DS (60) yang merupakan saudara kandung korban tewas Hj. Bondeng mengatakan, ia curiga asal-muasal api yang berada dari bagian depan rumah H. Sanusi. Bagi DS, tidak ada yang dapat memicu kebakaran di bagian depan rumah tersebut. Sementara dugaan arus pendek listrik juga tidak masuk akal, lantaran tiang listrik cukup tinggi dan jauh dari titik api.

DS melanjutkan, pada saat mayat Fahri ditemukan di bagian dapur rumah dalam kondisi tertimpa lemari, petugas pemadam kebakaran kala itu meminta sebuah tang.

“Ditemukannya, itu pemadam meminta tang. Buat apa tang itu, rupanya terlilit (kabel) orang,” ungkap DS.

DS juga mengungkap, bahwa mayat Fahri ditemukan dengan kondisi jari-jari tangannya terputus, diduga sengaja dipotong.

Sementara itu, Kasatgassus Gakum Polrestabes Makassar, Kompol Diari Astetika yang dikonfirmasi Kamis malam tadi terkesan berhati-hati mengeluarkan informasi. Diari enggan berkomentar, termasuk enggan berkomentar terkait telah ditangkapnya dua rekan Fahri, yakni AK dan GL yang diduga mengetahui seluk-beluk permasalahan Fahri dengan kawanan geng motor yang mengeroyoknya sebagaimana pengakuan Amir.

Namun sikap enggan berkomentar banyak oleh Diari mungkin bisa dimaklumi, pasalnya pihak kepolisian berada di garda terdepan untuk mengusut kasus ini.

Penulis: Hermawan Mappiwali
Editor: Awang Darmawan