Petrus Bala, Peracik yang Sudah Melayani Sembilan Wali Kota Makassar

94
Petrus Bala berdiri di samping Soni Marsono (penjabat gubernur Sulsel)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Silih berganti tamu datang dan dilayani Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto di ruang kerjanya di Balaikota Makassar, silih berganti pula makanan dan minuman yang tersaji di meja tamu.

Aneka macam tamu dengan jumlahnya yang variatif memasuki ruangan tamu Wali Kota, kebersihan tetap terjaga dan semua orang merasa nyaman, apa lagi menu makanan dan minuman yang disajikannya. Meski sajian ringan, seperti teh, kopi dan aneka pegangan tapi yang meraciknya bukan orang sembarang.

Dia adalah Petrus Bala, Staf Bagian Umum dan Rumah Tangga Pemkot Makassar yang diperbantukan di ruang Wali Kota. Dia sudah bertugas sekitar sekitar 33 tahun yang artinya sudah melayani sembilan Wali Kota, termasuk dua pelaksana tugas.

Pejabat Gubernur Sulsel, Soni Sumarsono pun takjub dan terpikat dengan kopi Toraja racikan Petrus saat berkunjung ke Balaikota. Saking mantapnya sajian kopi itu, Soni penasaran akan sosok si Petrus. Akhirnya keduanya bersua dan sempat berfoto bersama pada 14 Mei 2018 lalu.

Petrus Bala, lahir di Pinrang 2 Oktober 1962. Sejak kecil ia menyukai dunia kuliner. Sebelum menjadi abdi negara di pemkot Makassar, Petrus pernah menjadi pelayan selama empat tahun di restoran Bambuden, Jalan Gunung Latimojong, Makassar.

Berbekal kelihaiannya melayani dan menyuguhkan makanan serta minuman. Petrus langsung dijadikan sebagai pelayan walikota saat mengajukan diri sebagai tenaga harian lepas pemkot tahun 1985.

Setahun kemudian, yakni tahun 1986, Petrus Bala diangkat oleh negara sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Selama 33 tahun melayani, tiga Wali Kota yang memiliki kesan tersendiri di hati Petrus. Malik B. Masry misalnya, Petrus mengaku keluarganya dimanjakan dengan beragam makanan sehat yang tidak mampu ia dibeli pada saat itu.

“Pak Malik selalu kasi saya Sunkis dan Apel, buah begitu dulu langka, buahnya orang kaya, pertama kali saya cicipi itu buah dari Pak Malik,” kata Petrus.

Menurut dia, Pak Malik sebagai sosok yang, ramai namun tegas, di era Malik B Masry, pegawai kerap mendapat hukuman lari keliling kompleks Balaikota saat terlambat mengikuti upacara bendera. Alih-alih duduk tenang di ruangan usai memberi hukuman, Malik B. Masry justru ikut berlari bersama pegawai yang dihukum tersebut.

“Disiplinnya itu yang saya sangat ingat, suka hukum pegawai tapi sangat ramah, selalu bercanda, suka pesan makanan aneh-aneh, ikan mujair, soto banjar pakai leher ayam , padahal ikan mujair ini terkenal sebagai ikan empang, mau-maunya beliau makan,” ujar Petrus sambil tertawa mengingat kenanangannya dengan Malik B Masry.

Selain Malik, Petrus juga sangat terkesan dengan H Amiruddin Maula. Petrus melihat Amiruddin sebagai sosok pemimpin yang tidak banyak permintaan. Setiap pagi Amiruddin hanya ingin disuguhkan teh panas. Demikian pula dengan makanan, selama melayani Amiruddin Maula, hanya dua jenis makanan yang selalu dipesan.

“Ayam goreng sulawesi sama Baronang Labbakkang, sekali-kali Paria Kambu, itu terus yang beliau makan sampai selesai jadi walikota,” katanya.

Dibalik sosoknya yang pendiam, Amiruddin punya perhatian lebih ke Petrus. Petrus mengaku kerap ditawari menjadi lurah. Setiap kali ditawari, dengan sikap sesantun mungkin, Petrus menolak tawaran tersebut.

“Pertama, kepangkatan saya belum sampai di situ, kedua, ruangan ini saya anggap sebagai rumah saya, berat rasanya saya tinggalkan tempat ini,” ujarnya.

Walikota terakhir yang paling berkesan di hatinya adalah Ilham Arif Sirajuddin, setiap bulan ramadan, ia diminta menemani IAS jogging di Karebosi sambil menunggu waktu buka puasa.

“Setiap bulan ramadan, 1 bulan penuh, beliau ajak saya ngobrol, bercanda sampai curhat-curhatan. Sangat merakyat, sampai-sampai setiap hari ruangan kerjanya ramai, kakaknya pernah bilang ruangannya bukan kantor tapi pasar saking ramainya, bahkan orang gila saja beliau masih terima,” kata Petrus.

Di hati teman-teman sekantornya, Petrus dikenal sangat baik dan humoris. Latif, teman pertama Petrus di Balaikota menuturkan, Petrus sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Ketidakhadiran dia selama bekerja di Balaikota bisa dihitung jari.

“Selalu melucu, anak-anak di sini (pegawai) tidak tegang bekerja. Baik, jujur dan sangat bertanggung jawab terhadap kerjaan, alfanya juga bisa dihitung jari padahal sudah puluhan tahun bekerja” kata Latif.

Kesibukannya melayani walikota, tidak mengurangi aktivitas sosial Petrus. Saat ini ia tercatat sebagai Pengurus Kerukunan Batu Tallu Simbuang Mappaq Korwil Pampang.

Petrus menyebut 4 tahun lagi masa pengabdiannya sebagai pegawai negeri sipil akan berakhir. Ia memiliki keinginan untuk menikmati separuh masa pensiunnya di kampung halamannya Pinrang untuk mengirup udara segar.

Namun kecintaannya terhadap pekerjaannya tidak akan luntur meski telah pensiun. Usai menikmati udara segar di kampungnya, Petrus berencana akan kembali mengajukan permohonan ke negara untuk menjadi pegawai kembali meskipun telah pensiun.

“Kalai bisa, saya di sini saja terus, sudah nyaman di sini, anak-anak (pegawai) di sini sudah seperti keluarga saya,” ucap Petrus.

Penulis : Mawar A. Pasakai
Editor: Azis Kuba

Rekomendasi Berita

Baca Juga