OPINI: “Fanatisme Membutakan Hati dan logika”

110
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof Rasyid Masri. (Foto/Ist)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Keragaman yang Allah ciptakan mestinya menjadi warna warni yang indah, dan kekuatan dalam membangun Indonesia yang terkenal dengan Bhineka Tunggal Ika nya.

Sebab keragaman kultur budaya, ras, idiologi, agama, organisasi, adat istiadat, mestinya menjadi simpul kekuatan bangsa ini, dan kalau semua perbedaan dapat di kelola dengan baik maka harmoni kehidupan akan menghadirkan kerukunan dan toleransi antar kita dan sesama yang lain.

Tapi realitas fakta sosial berkata lain. Begitu banyak perbedaan dan keragaman telah melahirkan malapetaka politik, petaka keagamaan, petaka sosial dan budaya.

Kenapa? Sadar atau tidak kita telah terkoyak oleh mainan politik yang berhasrat kekuasaan.

Sikap berlebihan kecintaan kepada dukungan politik, kecintaan idiologi organisasi tertentu dan semacamnya telah banyak mematikan hati dan logika seseorang menerima kebenaran dan obyektifitas sesuatu, sebab orang yang dijangkiti penyakit fanatisme selalu mengabaikan kebenaran nuraninya, kebenaran akal sehatnya, karena tertutup oleh keberpihakan yang berlebihan.

Bahkan pendapat yang nyata-nyata benar berdasarkan wahyu “kalau pendapat itu lahir dari bukan golongannya maka berusaha mencari celah untuk menyalahkan, mengkritik dan tak mau rela menerima ide hasil pikir yang bukan anggotanya, sikap seperti inilah yang banyak melahirkan petaka sosial dan konflik sosial antar sesama anak bangsa.

Kalau kita buka kamus bahasa, fanatisme berasal dari 2 kata, fanatik dan isme, yang asal kata dari bahasa Latin “fanaticus” dalam bahasa inggris dapat disebut Frantic or frenzied, kegilaan, mabuk, kalut dan seterusnya, sementara isme adalah bentuk keyakinan

Maka orang yang fanatik dijangkiti penyakit jiwa yang mengarah kegilaan, maka sering kita dengar istilah ada orang gila cinta, gila organisasi, gila pilihan politik, gila jabatan, gila idola, gila harta, gila wanita.

Kegilaan yang berlebihan dapat mematikan hati dan logika rasional sekalipun seseorang itu sudah berpendidikan tinggi, seakan dialah pemilik kebenaran dan segala yang terbaik, sehingga sulit menerima nasehat dan menasihati (Sipakainge).

Meminjam kata Ilahi ”percuma kau nasihati” kau ajak atau tidak kau ajak untuk beriman tetap dia tak mau beriman karena hatinya telah tertutup.

Contoh kasus fanatisme yang membawa petaka sosial dan kemanusian adalah tindakan terorisme, radikalisme dan kekerasan lainnya, semua ini berangkat dari akar fanatisme idiologi keagamaan dan semacamnya.

Mari kita buka ruang perbedaan, sikap toleransi dalam berpikir, bertindak dan berkeyakinan saling menghargai walau tidak sependapat, menerima perbedaan walau tidak setuju. Sebab perbedaan itu suatu keharusan historis dan keharusan natural, Sunnahtullah dalam bermasyarakat dan berbangsa.

Salam persatuan, salam bermartabat.

Penulis: Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof Rasyid Masri
Editor: Kink Kusuma Rein

Rekomendasi Berita

Baca Juga