Minta Maaf Prabowo Dinilai Tak Tulus soal Tampang Boyolali

14
Prabowo Subianto. (Int)

SULSELSATU.com – Juru Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Inas Nasrullah Zubir menilai permintaan maaf yang dilontarkan calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto terkait pernyataan ‘tampang Boyolali’ bernuansa politis. Ia melihat permintaan maaf itu bukan berasal dari hati nurani terdalam Prabowo untuk mengakui kesalahannya.

“Bukanlah minta maaf yang meluncur dari nuraninya, melainkan minta maaf politis, karena permintaan maaf tersebut dilakukan setelah mengkalkulasi dulu untung ruginya,” kata Inas Rabu (7/11/2018) seperti dikutip CNN.

Diketahui, permohonan maaf Prabowo itu disampaikan dalam sebuah video yang diunggah oleh Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Inas yang juga politikus Partai Hanura itu lantas mengungkit kembali berbagai pernyataan Prabowo lainnya yang bernada kontroversi. Inas mencatat Prabowo pernah menyindir wartawan dengan ungkapan ‘bisa disogok’ dan ‘tak bisa belanja di mal’.

Selain itu, Ia juga mencatat Prabowo pernah menyindir ‘Bangsa Indonesia naif dan goblok’ serta pernyataan ‘elite Jakarta maling semua’.

“Pernyataan-pernyataannya yang bernada caci maki dan pelecehan yang berulang kali terjadi, maka hal tersebut sudah menjadi habitnya [kebiasaannya] Prabowo,” kata dia.

Inas pun pesimistis Prabowo mampu mengubah kebiasaannya itu dalam enam bulan ke depan ketika masa kampanye berlangsung. Bahkan, ia merasa yakin Prabowo bakal kembali membuat pernyataan kontroversi tersebut dalam waktu dekat.

“Cukup jelas bahwa kebiasaan ini akan berulang dan berulang lagi, apakah Prabowo mampu mengerem kebiasaannya ini? Kita lihat dalam 6 bulan ke depan,” kata dia.

Secara terpisah, Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandiaga, Ahmad Muzani, menyatakan permintaan maaf capres jagoannya itu tulus meskipun disampaikan melalui video yang diunggah dalam akun Twitter dan Instagram.

Muzani kembali menjelaskan pernyataan Prabowo yang dilakukan di hadapan relawan pendukung tersebut hanya sebatas gurauan.

Prabowo, kata dia, justru ingin membela masyarakat Boyolali dari keterasingan dan ketimpangan ekonomi dengan pernyataannya tersebut.

“Bahwa ada keterasingan antara kemajuan hotel dan gedung-gedung tinggi dengan tingkat kemiskinan. Pak Prabowo ingin menggambarkan terasing kira-kira seperti itu,” ujar Muzani.

Selain itu, Muzani menegaskan tidak ada maksud Prabowo melecehkan. Atas dasar itu, dia menyayangkan ada upaya penggiringan opini dari pihak-pihak tertentu.

“Tidak ada maksud melecehkan dan merendahkan. Apa maksudnya beliau datang-datang jauh ke Boyolali untuk merendahkan, enggak ada sama sekali,” katanya.

Penulis: Azis Kuba

Rekomendasi Berita

Baca Juga