Mukhtar Tompo Fasilitasi Perguruan Tinggi Implementasikan Hasil Riset untuk Petani

29

SULSELSATU.com, GOWA – Resah dengan tumpukan hasil riset yang tinggal mendebu di perpustakaan kampus, membuat Universitas Muhammadiyah Makassar berupaya menyosialisasikan hasil riset yang mereka miliki.

Salah satu upaya tersebut dengan menggandeng Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk menggelar Diseminasi Teknologi Produksi Biji Botani Bawang Merah di Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa, di Kantor Camat Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Minggu, (11/11/2018).

Ketua Panitia kegiatan tersebut, Hadisaputra mengungkapkan bahwa desiminasi ini juga merupakan wujud konkret dari gerakan amar ma’ruf nahi munkar Persyarikatan Muhammadiyah. Hadi mengutip ayat Alquran Al-Imran 104 untuk menjelaskan salah satu latar belakang terlaksananya agenda tersebut.

“Laporan penelitan merupakan hasil dari kerja-kerja observasi faktual dan empiris berdasarkan metode ilmiah yang berupaya untuk menjawab keresahan atau problematika masyarakat. Karena itu, Muhammadiyah berpikiran bahwa laporan hasil penelitian tersebut harus diimplementasikan ke masyarakat,” jelas Dosen Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar ini.

Gayung bersambut, salah satu kader Muhammadiyah di DPR RI, Mukhtar Tompo, berinisiatif mendorong impelementasi hasil riset perguruan tinggi ke masyarakat.

Melalui salah satu mitra kerjanya di Komisi VII, Kemenristekdikti, digelar acara diseminasi hasil penelitian teknologi produksi pertanian, bekerjasama dengan Lembaga Penelitian, Pengambangan, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Unismuh Makassar.

Atas agenda yang digelar Muhammadiyah melalui Unismuh Makassar ini, Camat Tombolo Pao, Baharuddin Lewa, menyampaikan kesyukurannya dan ungkapan terima kasihya. Ia mengatakan kalau agenda ini sangat membantu masyarakat Tombolo Pao.

Pasalnya, agenda ini akan memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait budi daya dan pemanfaatan teknologi terkait tanaman bawang merah. Terlebih riset yang dicoba untuk diimplementasikan ini memang merupakan hasil riset atas tanah Tombolo Pao.

“Sosialisasi dan upaya implementasi ini untuk membuat kita semakin mengerti tentanga tanaman. Soal tanam kita sudah tahu dan tanah kita sudah pasti subur sekali. Hanya saja kita mau budidayakan atau tingkatkan lagi dengan teknologi. Ini yang akan kita dapatkan hari ini. Terlebih penelitiannya memang dilakukan di Tombolo Pao dan sudah mengantarkan penelitinya jadi doktor,” katanya.

Penelitian yang diseminasikan ini merupakan hasil penelitian Dr. Abubakar Idhan yang dilaksanakan di tanah Tombolo Pao selama dua tahun, yaitu sejak tahun 2014 hingga 2015.

Penelitian yang mengantarkan Ketua Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian pada Masyarakat Unismuh Makassar ini menjadi doktor menemukan bahwa kondisi tanah Tombolo pao memiliki keunggulan lebih dibanding tanah lain.

Dalam paparannya, Abubakar menjelaskan, masalah utama dalam produksi biji botani bawang merah di Indonesia adalah masih minimnya kemampuan berbunga dan menghasilkan biji tanaman bawang.

Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, yakni faktor genetik varietas,dan faktor cuaca, terutama panjang hari yang relatif pendek, kurang dari 12 jam. Rata-rata temperatur udara yang cukup tinggi di Indoensia, yakni di atas 18 derajat celcius juga kurang mendukung terjadinya inisiasi pembungaan.

“Tanah wilayah Tombolo Pao, merupakan tanah spesial spesifik yang memungkinkan peningkatan produksi bawang merah berkualitas di wilayah ini meski tanpa perlakuan kimia. Semua faktor pendukung ada di Tombolo Pao ini,” kata Idhan.

Karena itu, lanjut Ketua LP3M Unismuh Makassar ini, masyarakat Tombolo Pao harus mengetahui teknologi biji botani ini.

“Bayangkan saja, harga benih bawang itu 3 juta perkilogram. Kalau masyarakat sini, bisa menghemat daripada membeli dengan harga mahal, yaitu dengan memngaplikasikan teknologi biji botani ini,” tutup Abubakar Idhan.

Editor: Awang Darmawan

Rekomendasi Berita

Baca Juga