HKN ke-54, Nurdin Abdullah Prihatin Masalah Gizi Buruk

19

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah bertindak sebagai inspektur upacara pada peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-54 Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Lapangan Upacara Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (13/11/2018).

Tema yang diangkat pada tahun ini “Aku Cinta Sehat”, dengan subtema “Ayo Hidup Sehat Mulai Dari Kita”.

Tema ini sejalan dengan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), yang menekankan pada upaya promotif dan preventif sebagai pendekatan pembangunan kesehatan.

“Kesempatan ini juga merupakan momentum yang baik untuk kita merenungkan dan introspeksi terhadap apa yang telah kita capai dalam pembangunan kesehatan,” kata Nurdin Abdullah menyampaikan sambutan seragam Menteri Kesehatan RI.

Nurdin Abdullah juga mengatakan, Indonesia sekarang sedang menghadapi transisi epidemiologi. Terkait dengan penyakit, Indonesia menghadapi tiga beban penyakit (triple burden of diseases).

Beban penyakit yang diukur dari tahun yang hilang akibat kematian dini, telah bergeser dari penyakit menular ke arah penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes, kanker, dan sebagainya; namun di sisi lain muncul ancaman penyakit infeksi baru, seperti flu burung, ebola, TB resisten obat, dan lain-lain.

Di sisi lainnya lagi, Indonesia juga masih dihadapkan pada masalah penyakit menular yang belum selesai, seperti demam berdarah, TB, malaria, HIV/AIDS, filariasis, kecacingan, dan lain-lain.

Terkait dengan masalah gizi, lndonesia menghadapi beban ganda (double burden of nutrition probiem). Di satu sisi, menghadapi masalah under-nutrisi (gizi kurang, pendek/ stunting, dan kurus); namun di sisi lain, juga dihadapkan pada masalah over-nutrisi, yakni masalah obesitas/kegemukan.

Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan bahwa berbagai indikator pembangunan kesehatan mengalami perbaikan, namun juga masih ada indikator yang perlu terus diperbaiki dan ditingkatkan.

Angka stunting pada balita telah turun dari 37,2 persen tahun 2013 menjadi 30,8 persen pada tahun 2018.

Hal ini sejalan dengan perbaikan pada beberapa indikator kesehatan ibu dan anak, seperti antenatal Care, persalinan oleh tenaga kesehatan, perawatan ibu nifas, dan pelayanan kesehatan pada bayi dan balita.

“Momentum HUT kesehatan nasional ini tentu kita melihat data tentang data ibu melahirkan problem anak kurang gizi. Inikan kita masuk dalam rangking lima secara nasional, tentu kita prihatin dengan status ini, saya sih mengatakan bahwa sebenarnya tidak sulit untuk mengatasi ini,” sebutnya.

NA menyebutkan, banyak daerah yang melakukan contoh baik, ada diantaranya, health care center, ambulance mobile, ada lagi inovasi daerah lainnya.

“Tentu kita berharap, kabupaten yang masih tinggi status gizi rendah, terus kematian ibu melahirkan dan kematian anak, ya kenapa kita tidak melihat daerah-daerah yang bisa menurunkan angka kematian ibunya, kita jangan malu mencontoh dan jangan malu membuat sebuah terobosan dari hasil pengembangan orang, yang penting bagi kita, ini adalah program kemanusian,” paparnya.

Penulis: Jahir Majid
Editor: Awang Darmawan

Rekomendasi Berita

Baca Juga