Kualitas Pendidikan Tak Merata, Ini Dampak Dampaknya

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat, Muhammad Ramli Rahim. (INT)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim, menilai kualitas pendidikan di Kota Makassar sangat jauh dari merata.

Dia menyebut, hal ini sebagai efek dari adanya pengkastaan sekolah, seperti Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Sekolah Standar Nasional (SSN), Sekolah Unggulan, dan Sekolah Favorit.

Pengkastaan sekolah sendiri, kata Ramli, mengakibatkan terjadinya kesenjangan sekolah di mana sekolah yang satu dengan lainnya memilik kualitas yang berbeda sehingga berujung pada tingginya biaya pendidikan di sekolah tersebut.

“Sekolah berbiaya tinggi karena transportasi jadi jauh. Orang yang tinggal di samping sekolah, tidak bisa lulus di sekolah unggulan harus sekolah di tempat yang jauh. Sementara mereka yang tinggal di tempat yang jauh berusaha untuk masuk ke sekolah unggulan karena perbedaan kualitas sekolah,” kata Ramli kepada Sulselsatu.com, Rabu (21/11/2018).

Selain itu, stigma masyarakat yang menganggap bahwa anak yang menempuh pendidikan di sekolah unggulan pasti pintar, sementara anak yang bersekolah di sekolah tertinggal pasti bodoh.

“Jadi, mereka (siswa) belum bikin apa-apa sudah ada stigma terkait di mana mereka sekolah,” kata mantan Ketua IGI Sulsel ini.

Motivasi orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah favorit menjadi berlebihan. Hasilnya adalah mereka menggunakan segala macam cara supaya anak mereka diterima di sekolah favorit.

“Salah satu caranya adalah mereka (orangtua) mengupayakan jalan yang tidak benar untuk lolos ke sekolah-sekolah favorit. Akhirnya saat ini ditemukan orang-orang yang bersekolah di sekolah-sekolah favorit itu mayoritas berasal dari kelas menengah ke atas secara ekonomi,” lanjutnya.

Bukan hanya itu, jurang antara sekolah favorit dengan bukan favorit juga semakin jauh. Karena sekolah-sekolah favorit biasanya diisi oleh siswa yang berasal dari keluarga kaya. Bahkan, kata Ramli, orangtua siswa kerap menyumbangkan banyak hal ke sekolah sehingga fasilitas sekolah akan selalu lebih baik di sekolah favorit dibanding di sekolah yang tidak favorit.

Hal inipun dipandang bakal merusak karakter siswa dan orang tua. Sebab banyak dari yang berupaya masuk ke sekolah-sekolah favorit dengan cara-cara yang tidak fair.

“Jadi, baru masuk sekolah sudah merusak dirinya sendiri dan orang tuanya. Belum lagi berlakunya nota-nota dinas. Karena dia anaknya ketua DPR, anaknya anggota dewan, kemudian mereka bisa menikmati sekolah dengan fasilitas yang baik dengan guru yang baik,” tandasnya.

Penulis: Asrhawi Muin
Editor: Hendra Wijaya