Kejayaan Kakao Sulsel Pupus, Ini Penyebabnya

Kepala Dinas Perkebunan Sulsel, Andi Parenrengi. (Sulselsatu/Jahir Majid)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Produksi Kakao di Sulsel dinilai menunjukan angka yang kurang baik beberapa tahun terakhir ini. Padahal Sulawesi Selatan digadang-gadang sebagai salah satu daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia.

Hal tersebut diakui langsung oleh Kepala Dinas Perkebunan Sulsel, Andi Parenrengi. Menurutnya, saat ini produksi kakao Sulsel hanya 700-800 kilogram per hektar selama setahun. Padahal, jika dimaksimalkan produksi bisa mencapai 2-3 ton per hektarnya.

Ia menambahkan bahwa masalah utama kakao di Sulsel terletak pada kualitas bibit yang ditanam. Selama ini, bibit unggul yang ditanam didatangkan dari Pulau Jawa.

“Padahal Sulsel punya varietas unggul sendiri. Biar bagaimana pun kita bangun emtrisnya, kalau semua sumber benih bukan dari Sulsel akan susah juga. Makanya kita dorong semua benih berasal dari Sulsel,” katanya, usai menghadiri rapat koordinasi tentang kakao di kantor Wagub Sulsel, Selasa (18/12/2018).

Parenrengi menyebutkan, tahun ini pihaknya sudah menyiapkan 5 juta bibit melalui APBD 2018 dan 1 juta bibit juga akan disebar di awal tahun 2019. Untuk pengembangan sudah ada beberapa daerah yang dijadikan wilayah komoditas.

Pusat pengembangan kakao sendiri diantaranya ada di Bosowa Sipulu (Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu Raya). Total lahan kakao di Sulsel sendiri mencapai 230 ribu hektar.

Hanya saja untuk mengembalikan kejayaan produksi kakao di Sulsel, pihaknya masih membutuhkan hingga 50 haktare lahan baru. Selain itu, masalah antisipasi hama dan busuk buah, pigaknya masih terus melakukan sosialisasi langsung ke petani.

“Kita akan melakukan pendampingan untuk membuat pestisida alami dan pupuk nabati dari kakao sendiri. Kalau kita bisa maksimalkan, produksi bisa 2 sampai 3 ton tentu diawali dengan bibit bersertifikat,” jelasnya.

Penulis: Jahir Majid
Editor: Awang Darmawan