iklan Kareba Parlementa

Ngeri! Ini Sejarah Gunung Krakatau dan “Anaknya” yang Sekarang Siaga

Iklan Humas SulSel

SULSELSATU.com, JAKARTA – Seluruh warga Desa Tanjung Pulau Sabesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, pada Kamis (27/12/2018) malam dievakuasi alias diungsikan ke sebuah tempat. Desa ini merupakan perkampungan warga terdekat dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Evakuasi itu menyusul status Gunung Anak Krakatau naik level dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Gunung Anak Krakatau sudah mengalami gempa tremor atau gempa yang bisa mengindikasikan aktivitas vulkanik gunung api yang akibatnya mengerikan.

Krakatau
Gunung anak Krakatau (Foto/Twitter/Sutopo_PN).

Melansir CNN Indonesia, Jumat (28/12/2018), jika gempa tremor terjadi, maka mengindikasikan sebuah gunung berpotensi meletus. Berdasarkan data dari Stasiun Sertung, dekat kawasan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, gempa tremor terjadi terus menerus dengan amplitudo 9-35 mm (dominan 25 mm).

Baca juga: Gunung Anak Krakatau Siaga, Seluruh Warga Desa Pulau Sabesi Dievakuasi

Selain mengalami kegempaan tremor, Gunung Anak Krakatau juga terpantau mengeluarkan asap hitam tebal serta awan panas ke kawasan sekitarnya.

Ilustrasi abad 19 akan letusan Gunung Api Perbuatan di Pulau Krakatau, Agustus 1883. (DEAGOSTINI/GETTY IMAGES/DEA PICTURE LIBRARY)

Pantauan dari pos pengamatan periode pengamatan 26 Desember 2018, pukul 00.00 sampai dengan 24.00 WIB, menunjukkan visual gunung jelas hingga kabut 0-III.

Jauh sebelum hari ini, Anak Krakatau sudah berada di Level II sejak 2012 silam. Gunung itu kembali aktif dengan erupsi pada pertengahan 2018.

Dihimpun berbagai sumber, Anak Krakatau ‘lahir’ pada 11 Juni 1927 dengan komposisi magma basa muncul di pusat kompleks Krakatau.

Kelahiran Anak Krakatau ini hanya berjarak sekitar 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883. Saat itu letusan Krakatau bersama letusan Gunung Tambora (1815) disebut-sebut mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Bahkan The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Erupsi Krakatau pada 1883 itu disebut sebagai ledakan yang paling besar, paling keras, dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern.

Suara letusannya terdengar sampai 4.600 kilometer dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Krakatau memulai erupsi besarnya pada Mei 1883. Saat itu terdengar dentuman keras selama beberapa jam di Batavia (Jakarta), Bogor, Purwakarta, Palembang, hingga Singapura. Terlihat asap setinggi 11 kilometer dan debu vulkanik yang dibawa angin sejauh 550 kilometer.

Erupsi kembali terjadi pada 26 Agustus 1883. Krakatau meletus dengan magnitudo 6 skala VEI. Esok harinya pukul 10.02 WIB, erupsi paling dahsyat terjadi. Letusannya menciptakan kaldera bawah laut selebar 7 kilometer dan kedalaman mencapai 250 meter.

Letusan Krakatau ini juga menciptakan gelombang tsunami setinggi 30 meter. Jalaran tsunami terjauh mencapai Port Elizabeth di Afrika Selatan.

Selama 20 jam 50 menit setelah letusan pertama, Krakatau masih mengamuk. Tubuh gunung lalu ambruk ke dasar laut, memicu tsunami yang menghancurkan pesisir Banten dan Lampung, menghabiskan sekitar 163 desa. Jumlah korban tewas tercatat mencapai 36.417 orang.

Kekuatan Erupsi setara 21.574 bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Jutaan kubik abu vulkanik menyebabkan gelap berkepanjangan dan menyebabkan bencana susulan lain seperti kegagalan panen dan kelaparan, wabah penyakit, hingga pemberontakan Petani Banten 1888.

Krakatau Purba

Letusan Krakatau 1883 disebut bukan yang terdahsyat. Berbagai sumber menyebutkan, ratusan tahun sebelumnya diprediksi ada Gunung Krakatau Purba, induk dari Krakatau yang meletus pada 1883.

Jejak Krakatau Purba dilihat dari sejumlah catatan sejarah, salah satunya teks Jawa Kuno berjudul ‘Pustaka Raja Parwa’ yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Dalam buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.

Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, Pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan Pulau Sumatera,” salah satu isi buku Pustaka Raja Parwa.

Sejumlah ahli geologi memperkirakan Gunung Batuwara itu adalah Krakatau Purba. Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda.

Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir menyebabkan terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin lantaran tidak ada sinar matahari. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.

Letusan Krakatau Purba ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal, dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki.

Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Editor: Hendra Wijaya

Iklan PDAM
...

Populer

VIDEO: Istri dan Mertua di Makassar Jadi Korban Pembacokan

SULSELSATU.com - Satu keluarga di Jalan Barawaja, Kecamatan Panakukkang, Makassar dibacok pada Jumat (23/10). Dalam keterangan video, ada tiga korban dalam pembacokan tersebut yang merupakan...

VIDEO: Detik-detik Angin Puting Beliung di Babelan Bekasi

aSULSELSATU.com - Angin puting beliung terjadi di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jumat (23/20) pukul 13.10. Angin puting beliung tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur Bekasi....

Sejarah Singkat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Selasa (19/11/2018) hari ini, umat Muslim di seluruh dunia memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa dikenal dengan Maulid Nabi...

7 Jurus Menghadapi Orang yang Benci Sama Kita

SULSELSATU.com, Setiap orang yang membenci kita memiliki alasannya masing-masing. Bisa jadi karena kita terlalu berlebihan, kita memiliki sikap dan sifat yang tidak disukai oleh...

Bupati, Elit Partai Hingga Pengusaha “Patungan” Beli Ambulans untuk NasDem Makassar

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Dibakarnya mobil ambulans milik NasDem Kota Makassar belum lama ini menjadi perhatian banyak publik. Kesimpulan banyak warga khususnya di Kota Makassar...

OPINI: Tantangan Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh Triliana s. Utina (Mahasiswa Universitas Gorontalo) Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat dunia mendefinisikan makna hidup, penyebaran virus corona (Covid-19) yang semakin hari semakin meningkat menjadi...

Catat! Berikut Menu Diet Seminggu yang Ampuh

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Baik Diet OCD maupun Diet Mayo, Bagi Sahabat Sehat yang sedang berniat untuk diet, tak ada salahnya untuk mengadopsi gaya hidup...

SMRC Rilis Survei Pilwali Makassar 2020, Ini Hasilnya

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei untuk Pilwali Makassar tahun 2020. Survei dilakukan dari 21 sampai 25 September 2020,...

VIDEO: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Kolom Abu 500 Meter

SULSELSATU.com - Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Jumat (10/4/2020) sekitar...

Artikel Lainnya

Ini Respons Humas Soal Dugaan Intimidasi Sosialisasi Syamsul Bachri di Sinjai

SULSELSATU.com, SINJAI - Terkait dugaan larangan untuk anggota DPR RI Syamsul...

Rentan Penyakit, Petugas Kebersihan di Parepare Rutin Diperiksa Kesehatannya

SULSELSATU.com, PAREPARE - Pemkot Parepare melalui Dinas Kesehatan (Diskes) rutin melakukan...

Upacara HUT RI ke-75 Pemkot Makassar, Rudy: Ayo Perang Lawan Covid-19

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Pemerintah Kota Makassar menggelar Upacara Pengibaran Bendera Merah...

Begini Kondisi Terkini Gadis Tunawicara yang Diberi Perawatan Intensif di Rumah Sakit

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Gadis difabel bisu (tunawicara) berinisial NTP (26) masih...

Target Lolos PKM, Unibos Buat Ini

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Dalam pengembangan dan inovasi kreativitas mahasiswa, Universitas Bosowa...

Terkini

Dewan Sahkan Ranperda Penyusunan Produk Hukum Jadi Perda

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyusunan Produk Hukum...

Bukan Penebar Fitnah, Ketua RT/RW di Banta-Bantaeng Setia Dukung Adama

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Calon wakil wali kota Makassar, Fatmawati Rusdi mendapat...

VIDEO: Gadis di Jeneponto Dilamar Pakai Helikopter

SULSELSATU.com- Seorang gadis asal Kabupaten Jeneponto dilamar kekasihnya menggunakan helikopter. Gadis tersebut...

VIDEO: KM Basmalah Nyaris Tenggelam di Danau Towuti

SULSELSATU.com - KM Basmalah nyaris tenggelam saat bertolak dari Pelabuhan Timampu...

Pengusaha Milenial Yakini Danny-Fatma Bisa Pulihkan Ekonomi Makassar

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Program perekonomian yang dicanangkan pasangan M Ramdhan Pomanto-Fatmawati...