OPINI: Keunikan Integrasi Pertanian dan Pariwisata

99
Syamsari Kitta. (Foto/Ist)

SULSELSATU.com, THAILAND – Masyarakat Indonesia terkhusus warga Takalar telah lama mengenal nama Bangkok, ibu kota Thailand. Selain karena Thailand bagian dari ASEAN, warga Takalar juga mengenalnya karena produk pertanian yaitu ayam bangkok dan jambu bangkok.

Iklim, tanah dan topografi sama dengan di Indonesia dan Takalar khususnya. Thailand juga negara agraris. Sepanjang jalan menuju provinsi-provinsi sekitar Bangkok terlihat lahan pertanian padi, buah-buahan dan tambak membentang luas.

Namun bukan hanya aspek budidaya pertanian yang maju tapi Thailand serius menggarap mulai dari pengolahan limbah pertanian sampai pada pengintegrasian pertanian dengan pariwisata.

Objek-objek wisata berbasis pertanian dan kelautan seperti taman bunga yang luas, pementasan gajah, serta wisata bahari dipenuhi oleh UKM penjual buah segar dengan potongan-potongan kecil yang hygienis seperti mangga, jambu air, jambu bangkok, nanas disuguhkan sebagai cemilan.

Inilah keunikannya, cemilannya bukan gorengan atau produk olahan dari industri makanan modern seperti yang banyak terlihat di Indonesia, tapi buah segar hygienis. Kalaupun ada produk olahan pertanian, itu adalah hasil olahan UKM yang sudah terregistrasi dan tersertifikasi.

Pemanfaatan limbah pertanian pun menjadi bagian yang menarik. Pemanfaatan limbah sekam padi diubah menjadi produk bernilai tinggi sudah dilakukan di negeri ini.

Demikian pula pemanfaatan limbah pertanian lainnya menjadi produk kerajinan tangan seperti batok kelapa, limbah kayu, hal yang sama memang banyak kita jumpai di objek wisata di pulau Jawa dan Bali namun belum dikembangkan dengan baik di Takalar.

Di negeri ini, dari pusat sampai daerah telah mengembangkan produk utama dan limbah menjadi ladang bisnis dan pembuka lapangan kerja, dan inilah keunikan selanjutnya yang bisa kita seriusi sebagai suatu model.

Mereka menggarap dengan serius, sementara di Takalar dan umumnya daerah di Indonesia masih fokus pada produk utama seperti beras, jagung. Itulah sebabnya selama setahun pemerintahan, kami berusaha mengajarkan melalui dinas pertanian dan lingkungan untuk memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomis sebab selama ini hanya menjadi sampah yang membebani.

Dan tahap selanjutnya bekerja sama dengan Dekranasda Takalar akan mengajak berbagai kalangan untuk mengubah limbah menjadi produk kerajinan tangan.

Objek wisata berbasis pertanian dan bahari di negeri ini lingkungannya bersih, asri, indah tertata dengan infrastruktur yang baik dari pusat Kota Bangkok sampai ke daerah.

Namun bukan hanya keasrian, keindahan dan infrastruktur yang ditawarkan, lebih dari itu, keunikan beberapa objek wisatanya dilengkapi dengan edukasi melalui film dan teater sehingga wisata sekaligus memajukan kesenian dan para pengunjung pun mengerti karena bertambah pengetahuannya.

Objek Wisata Taman Bunga dilengkapi dengan pementasan seni alat musik Thailand, budayanya dan juga perjuangan bangsanya sehingga pengunjung mendapatkan tambahan pengetahuan tentang Thailand dan masayatakat dan budayanya.

Contoh lain saat wisatawan mengunjungi peternakan madu, pengelola tidak hanya mempengaruhi pengunjung untuk membeli madu tapi juga diberikan penjelasan detail tentang peternakan lebah, cara menghasilkan madu, manfaat madu sampai kepada produk turunan madu, dengan penjelasan detail seperti ini para pengunjung membeli karena kesadaran atas dasar ilmu dan pengetahuan.

Tentu banyak di antara kita telah mengunjungi negeri ini bahkan negara-negara lebih maju, tapi yang lebih penting bahwa negara seperti Thailand ini sama dengan Indonesia.

Kita bisa berlomba dengan negara-negara tetangga tersebut untuk maju dan bisa mengejar kehebatan negara maju karena Indonesia dari pusat sampai kabupaten/kota memiliki potensi yang luar biasa banyaknya dan bukanlah sebuah aib jika meniru keseriusan negara lain dalam mengintegrasikan pertanian dan pariwisata secara apik, memasarkan potensi pertaniannya dengan baik dengan perencanaan matang.

Bangkok, 1 Januari 2019

Penulis: Syamsari Kitta
Editor: Kink Kusuma Rein

Rekomendasi Berita

Baca Juga