2019, Mubalig Muhammadiyah Butuh Penerjemah Dakwah Milenial

Muhammadiyah, Muhammadiyah Puasa, Awal Puasa, Awal Ramadan, Hari Idul Fitri, Idul Adha, Ramadan 1438 H, Haedar Nashir, Abdul Mu'ti, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Hisab Hakiki, Wujudl Hilal, Sulsel, Media di Sulsel, Sulselsatu
Muhammadiyah. (INT)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Di tahun 2019, para mubalig Muhammadiyah butuh penerjemah dalam menyampaikan materi dakwah. Hal tersebut disampaikan Ahmad Husain, anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel.

Ia menilai bahasa-bahasa dakwah yang umumnya digunakan sudah mulai usang, sekalipun sama-sama menggunakan bahasa Indonesia.

Menurutnya, penggunaan bahasa di tataran akar rumput mengalami perubahan. Bahasa formal atau bahasa baku kini terbatas pada dunia akademik, jurnalistik dan lingkungan atau forum yang sengaja mengutamakan kebakuan berbahasa.

“Di jaman milenial, bahasa digunakan dinamis, pengguna bahasa bebas merekonstruksi bahasa, bukan saja pada struktuk kalimat, tetapi bahkan kata,” kata Husain, Senin (7/1/2019).

Menurut Husain, para mubalig yang menargetkan segmen milenial, butuh penerjemah yang membantunya menyampaikan materi yang ‘usang’ menjadi konten yang segar.

“Belum lagi jika membicarakan kemajuan dunia teknologi komunikasi, konten dakwah punya kesempatan untuk tersebar luas, tidak lagi terbatas pada ruang-ruang pengajian,” ujar dia.

Namun, sebelum lebih lanjut bicara dunia teknologi komunikasi, persoalan bahasa perlu diselesaikan terlebih dahulu. Karena sekalipun seorang mubalig memanfaatkan teknologi komunikasi, kontennya akan hambar jika dalam persoalan bahasa tidak ada kecocokan dengan khalayak, akseptabilitas gagasannya rendah.

“Perlu ada kecocokan bahasa antara muballigh dengan publik, maka bahasa yg digunakan adalah bahasa yg populis, akseptabel,” ujar Husain.

Dengan begitu, menurut dia, penerjemah bahasa milenial bagi mubalig sangatlah penting. Tak perlu bersusah payah mengikuti arus bahasa yang bergerak cepat. Dalam artian, komunikasi saat ini menjadi ‘barang’ yang spesifik. Tidak lagi jadi basic skill bagi seorang muballigh, sbagaimana mereka bisa melatih retorika untuk memukau khalayak.

“Sekalipun tetap ada mubalig yang sukses mengkomunikasikan poin-poin dakwah, tidak menafikan ada orang yang memiliki kecerdasan seperti itu,” tutur Husain.

Editor: Awang Darmawan