OPINI: Agama yang Kehilangan Tuhan

74
Ketua Lakkang Institut dan Dai LD-Nurain, Uje Jaelani. (Foto/Ist)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Di sekolah-sekolah, di universitas-universitas, di instansi-instansi baik pemerintah dan swasta dan di ruang ruang sosial lainnya terjadi penguatan komitmen terhadap agama (fundamentalisme agama).

Bisa kita lihat dari sikap religiusitas yang massif dipertontonkan, mulai dari semakin banyaknya perempuan mengenakan hijab, para laki-laki yang memelihara jenggot karena memaknai itu sebagai sunnah Rasul, rumah-rumah ibadah tak henti-hentinya dibangun dan dipercantik, munculnya gerakan ngaji bersama, gerakan shalat subuh berjemaah, tabligh dan dakwah terdengar di mana-mana dari dunia nyata sampai di dunia maya, dan sikap religiusitas itu sebagian diakomodir dalam bentuk kebijakan pemerintah baik pusat dan daerah.

Hal ini menjadi penanda kebangkitan komitmen terhadap agama yang termanifestasi dalam bentuk sikap religiusitas dalam beragama yang berlangsung secara massif.

Namun di sisi lain, ada ketimpangan dari menguatnya komitmen terhadap agama, tindak kekerasan, kesewenang-wenangan dan ketidak pedulian terhadap orang lain masih terus berseliweran, seakan tak pernah ada jeda, Saling tuduh dan tuding, caci dan maki, sesat menyesatkan demi berebut yang paling benar dan kesucian, sampai pukul dan melukai hingga menumpahkan darah di antara mereka menjadi hal yang enteng.

Di tengah masyarakat religius di sisi lain mempertontonkan hal yang kontradiktif, aksi bom bunuh diri sempat marak menteror masyarakat karena menganggap sebagai wujud doktrin jihad, kumpulan massa agamais berkumpul untuk marah lalu menuntut dan menghukumi orang yang ia anggap sebagai penista agama meskipun kata maaf sudah berulang kali keluar dari mulut orang yang ia sebut penista tapi tak juga ada ampun maaf bagi si penista.

Tak hanya sampai di situ, mimbar-mimbar masjid kerap menjadi panggung untuk melontarkan kebencian, caci maki, kafir mengkafirkan bahkan seruan menumpahkan darah, serta dengan mudahnya kabar-kabar bohong (hoax) yang provokatif menyebar ke mana-mana.

Komitmen terhadap agama atau euforia religiusitas dan kesalehan global saat ini belum mampu berjalan lurus dengan moralitas di tengah kehidupan masyarakat, euforia terhadap agama belum mampu membangun pranata sosial yang manusiawi, keimanan yang dipertontonkan nir-kasih sayang.

Lantas, apakah kesalahan telah melupakan Tuhan? atau orang-orang yang beragama telah membuat agama kehilangan Tuhan?

Syahdan, kesalehan yang dimunculkan adalah kesalehan minus cinta, dan kesalehan minus cinta adalah kesalahan destruktif, kesalehan yang menghancurkan. Itulah sebabnya dia menyerupai kebencian, sifat bejat manusia yang justru ibarat kanker di tubuh agama, ia tumbuh merusak dari dalam.

Jika kita mengacu pada perkataan Erich Fromm, seorang ahli ilmu jiwa, cinta yang sehat adalah cinta yang memiliki care (kepedulian), responsibility (bertanggung jawab), respect (penghormatan), dan knowledge (ilmu pengetahuan), sementara puncak ajaran tiap agama-agama adalah realisasi cinta.

Tuhan dalam agama menjadi pijakan nilai absolut, di mana kasih dan sayang adalah basis utama dari nilai ketuhanan. Komitmen terhadap agama dan sikap religiusitas yang dipertontonkan ternyata belum bisa menjadi spirit cinta jika kita mengacu pada cinta yang dimaksudkan Erich Fromm, yang menumbuhkan kepedulian, bertanggung jawab, penghormatan dan pengetahuan.

Sementara dalam ajaran agama disebutkan realisasi dari kesalehan ritual individu adalah kesalehan sosial di mana pemeluk agama mampu memanusiakan manusia dengan spirit cinta atau ‘Rahmatan Lil ‘Aalamin’. Mampu menerima dan berdamai.

Lantas apakah apakah manusia telah membuat agama kehilangan Tuhan?

Penulis: Uje Jaelani (Ketua Lakkang Institut dan Dai LD-Nurain)
Editor: Kink Kusuma Rein

Rekomendasi Berita

Baca Juga