Demonstrasi Massa Rompi Kuning di Prancis Juga Intimidasi Jurnalis

34
Gerakan rompi kuning Prancis. (Int)

SULSELSATU.com, PRANCIS – Unjuk rasa massa rompi kuning di sejumlah kota di Prancis kian beringas. Tidak hanya memprotes pemerintahan Presiden Emmanuelle Macron, demonstran juga mengintimidasi para jurnalis.

Diberitakan AFP, dalam demonstrasi yang berlangsung di Rouen pada Sabtu (12/1/2019), sejumlah demonstran memukuli petugas keamanan pengawal wartawan stasiun televisi LCI. Satu dari petugas keamanan itu sampai patah hidungnya.

Dua wartawan AFP juga diintimidasi saat meliput aksi massa rompi kuning di Toulon. Selain mendapat ancaman, dua wartawan itu juga dipaksa mencari pengungsi di restoran. Tidak dijelaskan maksud dari pemaksaan mencari pengungsi itu.

Wartawan stasiun televisi France 3 yang meliputi demonstrasi di Marseille bahkan sempat dilarang menjalankan pekerjaannya. Demonstran disebut memaki-maki mereka.
Bahkan, wartawati koran La Depeche du Midi yang meliputi aksi rompi kuning di Kota Toulouse sempat diancam akan diperkosa.

Bukan hanya menyerang wartawan yang sedang meliput, massa juga menyasar kantor media di Prancis. Semisal yang terjadi kepada koran L’Yonne Republicaine. Demonstran memblokade tempat percetakan koran itu. Ancaman serupa juga terjadi untuk koran La Voix du Nord yang dihalang-halangi distribusinya.

Tindakan massa rompi kuning ini mendapat kecaman beberapa pihak. Salah satu yang mengecam adalah organisasi Reporters Without Borders.

“Kita menghadapi situasi serius yang terancam jadi lebih buruk,” kata Sekjen Reporters Without Borders Christophe Deloire.

“Kami meminta kepada yang merasa jadi juru bicara massa rompi kuning untuk ikut mengecam meningkatnya kekerasan kepada jurnalis selama demonstrasi,” tambahnya.

Kecaman yang sama juga dilontarkan Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner.

“Dalam demokrasi kita, media bebas. Dalam negara kita, kebebasan untuk mendapat informasi tidak terpisahkan. Menyerang jurnalis sama dengan menyerang keduanya (demokrasi dan negara),” katanya seperti dilansir Kumparan.

Demonstrasi massa rompi kuning yang berlangsung pada Sabtu (12/1) adalah kali kesembilan sejak pertama kali terjadi pada November 2019.

Naiknya harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, dan kebijakan pajak yang memberatkan kelas menengah dan pekerja menjadi pendorong utama gerakkan tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

 

Rekomendasi Berita

Baca Juga