TOKOH: Wardayani, Tenaga Pengajar yang Terus Belajar

19
Instruktur Program Praktik CNC Akademi Teknik Sorowako (ATS), Wardayani. (Foto/Ist)

SULSELSATU.com, SOROWAKO – Semasa kanak-kanak di bangku SD, Wardayani memiliki cita cita menjadi seorang guru.

Baginya menjadi seorang guru terkesan keren, bisa mengajari anak-anak menjadi pintar.

Namun setelah menimba ilmu di bangku kuliah, wanita asal Malili ini berfikir ulang kembali.

Tak perlu menjadi seorang guru, cukuplah bisa mengajar dan bisa membagi ilmunya kepada siapapun.

Peran orang tua juga sangat mendukung, sosok bapak yang paling bersemangat untuk mengantarnya kemanapun agar tercapai impiannya.

Hingga saat ini akhirnya mampu mencapai impiannya sebagai instruktur program praktik CNC di Akademi Teknik Sorowako (ATS).

Pengalaman mendampingi mahasiswa tak dianggapnya hanya untuk mengajar saja, melainkan juga berbagi ilmu.

“Saya berpikir seperti itu karena mahasiswa zaman sekarang lebih suka metode seperti itu,” ucap wanita yang memiliki hobi jalan-jalan ini.

Dengan cara itu kata Wardani, mereka menjadi lebih terbuka, tidak merasa tertekan, bisa diajak kerja sama tapi tetap sopan dan menyenangkan.

Namun di sisi lain dengan berbagi ilmu tak membuat ilmu yang kita miliki berkurang tetapi justru malah makin bertambah.

“Dukanya yah tipe mahasiswa itu kan beda-beda, kadang sudah lakukan metode yang bisa mereka pahami tapi tetap tidak bisa, anggap aja itu tantangan,” ujarnya.

Kesukaannya pada mengajar menurutnya karena hidup itu belajar. “Setiap hari kita belajar tetapi kadang kadang kita akan dapat jawaban yang salah,” kata dia.

Menurutnya tantangan menjadi seorang pengajar tentu harus mau mengarahkan kepada jawaban yang benar apapun aspeknya.

Sebagai seorang perempuan, anak dari pasangan bapak A. Lukman dan ibu Sumiati ini yakin ilmu dan pengalaman ngajar itu akan terpakai sampai masa depan hingga punya anak.

Ia juga mengatakan bahwa madrasah pertama khususnya anak adalah ibunya, jika tidak bisa atau tidak tahu, tidak mengerti cara mengajar yang baik tentu dampaknya buruk bagi masa depan.

“Mengajar itu tidak gampang butuh proses dan pengalaman,” tutur wanita kelahiran Malili, 2 Desember 1990 ini.

Proses dan pengalaman itu berawal saat Wardayani masuk sebagai programmer dan operator mesin CNC tetapi tetap menangani mahasiswa praktik pada Januari 2016 di ATS.

Pada Agustus 2018 ia diangkat sebagai laboran CNC produksi dan Desember 2018 diangkat sebagai instruktur program praktek CNC. Selama tiga tahun teknisnya mendampingi mahasiswa praktek.

Wardayani merupakan lulusan dari D3 ATS tahun 2008 lulus tahun 2011, selanjutnya mendapat beasiswa yang disponsori oleh PT. Vale Indonesia untuk melanjutkan studi S1 di ITS Surabaya tahun 2012 lulus maret 2015.

Mendapatkan sertifikat Insinyur Profesional IPP Desember 2018, dan saat ini masih mengurus untuk wisuda insinyur.

“Semoga ilmu yang saya dapatkan sekarang bisa bermanfaat, bisa dibagi ke orang banyak, baik itu ilmu dunia maupun ilmu agama,” katanya.

Ia berharap ilmunya menjadi amal jariyah, yang bisa membanggakan orang tua.

“Karena dengan cara ini bisa berbakti kepada orang tua, khususnya almarhum bapak rahimahullah, dan bisa menjadi sosok muslimah yang cerdas,” tuturnya.

Ia juga berharap dapat melanjutkan pendidikan S2 di Jepang.

Editor: Kink Kusuma Rein

Rekomendasi Berita

Baca Juga