Sidang Advokat Lucas, Ahli Digital Forensik Patahkan Bukti KPK

286

SULSELSATU.com, JAKARTA – Terdakwa perkara dugaan perintangan terhadap penyidikan, Lucas kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019). Di persidangan kali ini, kuasa hukum Lucas menghadirkan saksi ahli digital dan audio forensik, Ruby Alamsyah.

Keterangan yang disampaikan pleh saksi ahli tersebut seolah meruntuhkan semua keterangan ahli akustik KPK dan barang bukti yang diajukan KPK di persidangan.

Di hadapan majelis hakim, Ruby menjelaskan bahwa di dunia internasional analisis suara yg disimpan dalam format digital lebih akurat dianalisis melalui forensik digital yang menaungi forensik audio dengan software-software digital yang telah teruji. Sementara, ilmu akustik yang digunakan oleh KPK tidak tepat dan tidak dikenal dalam ilmu forensik suara (audio).

“Selama ini dalam proses penegakan hukum baik di Polri atau di Kejaksaan lebih menggunakan forensik audio atau forensik digital,” katanya.

Menurut Ruby, metode Itakuro Saito Distance yang digunakan oleh ahli akustik KPK tidak dikenal sebagai teori atau metode dalam forensik audio atau forensik digital.

Ia juga menambahkan, dalam melakukan analisis suara pada forensik audio sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) mesti menganalisis 2 buah file rekaman suara yang disadap (unknow announcer) dan file rekaman suara yang diambil langsung dari orangnya (know announcer). Rekaman itu mesti minimal 20 suku kata dan suku katanya masing-masing sama.

Hal ini berbeda dengan yang dilakukan ahli akustik KPK di persidangan yang hanya menganalisis 15 suku kata dan itu pun suku kata yang berbeda.

“Dalam proses digital forensik sesuai SOP ada 4 tahapan secara kumulatif wajib dilakukan, yaitu tahap Collecting-Examination-Analysis-Report. Ketiadaan salah satu dari proses ini termasuk tidak adanya laporan yang dibuat oleh si penganalisis mengakibatkan hasilnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara professional sebagai ahli,” jelas Ruby.

Ia menyebut, dalam teknologi digital semua hal termasuk suara yang tersimpan di dalam device digital (HP, laptop, harddisk, dll) semua bisa dimodifikasi frekuensi Pitch, Formant dan Spectogram.

“Bahkan suara presiden Obama dan Putin pun bisa dimanipulasi oleh orang lain seolah-olah yang berbicara adalah Obama asli,” ujar Ruby.

Disamping itu, lanjut dia, barang bukti digital yang telah diforensik oleh penyidik mesti divalidasi lagi kembali nilai HESH (DNA suara) oleh ahli untuk memastikan keaslian sampel suara barang bukti.

Kuasa hukum terdakwa, Irwan Muin mengatakan, seluruh keterangan saksi membantah fakta di persidangan sebelumnya sebab ahli akuistik KPK hanya menerima data digital rekaman suara tanpa melakukan validasi keaslian HESH sampel suara.

Disamping itu proses pemotongan sampel-sampel suara secara digital yang dilakukan oleh KPK tidak dibuatkan laporan secara tertulis sehingga tidak diketahui siapa pejabat di KPK yang melakukan proses forensik tersebut.

“Ahli juga menyebut bahwa secara profesional keahlian hasilnya tidak sah dan tidak bisa diajukan sebagai barang bukti dalam proses peradilan, serta akibatnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara profesional,” katanya.

Editor: Awang Darmawan

Rekomendasi Berita

Baca Juga