Bermaksud Lecehkan Islam, Politisi Belanda Ini Malah Jadi Mualaf

22
Joram van Klaveren. (int)

SULSELSATU.com, BELANDA – Seorang mantan politisi Belanda sayap kanan, Joram van Klaveren memutuskan untuk menjadi mualaf setelah bertahun-tahun memproklamirkan kebencian tentang Islam. Pria 40 tahun itu terkenal luas dengan anti-Islamnya.

Tangan kanan politisi anti-Islam Geert Wilders itu dulunya dikenal karena mengatakan bahwa Islam adalah “kebohongan” dan Al-Quran adalah “racun.”

Selama bertahun-tahun, saat menjadi anggota parlemen untuk Partai Kebebasan Wilders (PVV) yang dipimpin Geert Wilders, Joram van Klaveren melakukan kampanye tanpa henti melawan Islam di Majelis Rendah parlemen Belanda.

Yang menarik, Joram van Klaveren mengaku dirinya memutuskan untuk menjadi mualaf saat sedang menulis buku yang tadinya dimaksudkannya untuk menjadi sebuah buku anti-Islam.

“Selama penulisan itu, saya menemukan semakin banyak hal yang membuat pandangan saya tentang Islam goyah,” kata Joram van Klaveren dalam wawancara di acara show TV Belanda, NieuwLicht seperti dilansir Detik dari Independent, Kamis (7/2/2019).

Pada 26 Oktober 2018, menjelang perilisan bukunya “Apostate: From Christianity to Islam in the Time of Secular Terror”, dia pun resmi menjadi mualaf.

Dengan menjadi mualaf, Joram van Klaveren mengikuti jejak Arnoud van Doorn, bekas rekannya di PVV yang menjadi penasihat kota Den Haag. Sama seperti Arnoud, Joram van Klaveren membuat keputusan untuk menjadi mualaf saat menulis sebuah buku anti-Islam.

Pada tahun ini, Joram van Klaveren juga telah menulis sebuah buku mengenai keagamaannya dan bagaimana dia menjadi mualaf.

Van Klaveren dilahirkan pada 23 Januari 1979 di Amsterdam. Dia mempelajari ilmu agama di VU University Amsterdam dan pernah bekerja sebagai pengajar. Sebagai anggota Partai Kebebasan Wilders (PVV), dia menjadi anggota parlemen mulai 17 Juni 2010 hingga 21 Maret 2014.

Namun dia keluar dari PVV setelah Wilders menanyakan para pendukung apakah mereka menginginkan lebih sedikit orang Maroko di Belanda. Saat itu, dalam kampanye politik pada tahun 2014, massa pendukung menjawab “lebih sedikit”, Wilders pun tersenyum dan berujar: “Jadi kita akan bereskan soal ini.”

Wilders kemudian dinyatakan bersalah pada tahun 2016 atas dakwaan diskriminasi. Hukumannya saat ini sedang dalam proses naik banding.

Editor: Hendra Wijaya

 

Rekomendasi Berita

Baca Juga