VIDEO: Saat Jaksa KPK ‘Babak Belur’ Hadapi Ahli Digital Forensik

989

SULSELSATU.com, JAKARTA – Sidang perkara dugaan perintangan terhadap penyidikan dengn terdakwa advokat Lucas kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019). Sidang digelar dengn agenda mendengarkan keterangan dari saksi ahli digital dan audio forensik, Ruby Alamsyah.

Di persidangan ini, saksi ahli banyak memberikan keterangan yang membuat jaksa KPK ‘babak belur’. Semua keterangan terkait barang bukti rekaman suara yang diduga merupakan rekaman percakapan Lucas dengan Eddy Sindoro pada persidangan diragukan kebenarannya.

Seperti, saat saksi ahli menyebut jika barang bukti rekaman suara yang dihadirkan KPK sangat meragukan jika tidak divalidasi. Menurut Ruby, barang bukti digital yang telah diforensik oleh penyidik mesti divalidasi lagi nilai HESH (DNA suara) oleh ahli untuk memastikan keaslian sampel suara barang bukti.

“HESH itu bisa berubah kalau file tersebut telah termodifikasi baik secara sengaja maupun tidak sengaja,” kata Ruby menjawab pertanyaan jaksa KPK soal kemungkinan rekaman suara bisa dimodifikasi atau tidak.

“HESH, meski tidak dimodifikasi juga bisa berubah jika tidak menggunakan software yang tepat,” imbuhnya.

Menurut dia, dalam dunia digital forensik diharuskan menggunakan aplikasi atau tools forensik yang mendukung dan telah teruji untuk membuka sebuah file audio. Software-software tersebut harus terakreditasi secara internasional sehingga tidak merubah nilai HESH file.

Selain itu, dibutuhkan ahli forensik dengan keahlian yang tepat untuk membuka sebuah file.

Kemudian, jaksa bertanya “Bagaimana jika suatu file sudah diproteksi sistem read only. Itu kan kita tidak bisa mengubahnya?”

Saksi ahli pun menjawab jika terlebih dahulu harus diketahui software yang digunakan untuk memproteksi file tersebut.

“Mohon maaf jaksa, bukannya saya under estimate tapi jawaban saya itu harus memastikan hal tadi. Karena tools atau tekniknya salah atau berbeda itu tetap bisa merubah (HESH),” katanya.

Ruby juga menyebutkan jika seorang ahli audio forensik belum pasti ahli digital forensik. Olehnya itu, ahli audio forensik tetap harus didampingi oleh ahli digital forensik untuk membuka file digital yang akan digunakan sebagai barang bukti.

“Sehingga, proses digital forensik biar ahli digital forensik yang lakukan dan selanjutnya proses audio forensik dilakukan oleh ahli audio forensik. Agar supaya tahapan Collecting-Examination-Analysis-Report itu benar-benar terjaga sehingga proses penegakan hukum itu menjadi sah sesuai dengan peraturan hukum dan sesuai dengan bidang ilmiahnya,” jelas dia.

Ruby juga menjelaskan dalam menganalisis sebuah rekaman suara atau audio umumnya menggunakan tiga metode, yakni Pitch, Formant dan Spectogram. Ketiga metode ini harus dilakukan untuk memastikan apakah rekaman suara tersebut identik atau tidak.

“Proses analisis dengan menggunakan metode itu juga wajib disertai sampling minimal 20 kata,” katanya.

Dalam proses tanya jawab itu, saksi ahli sempat meralat pertanyaan jaksa soal aplikasi yang bisa digunakan untuk menganalisis audio dengan ketiga metode tadi. Jaksa keliru mengatakan metode Anova (Analysis of Variance) yang disebutnya sebagai sebuah aplikasi.

“Bukan (aplikasi). Anova itu metode, bukan nama aplikasi,” kata Ruby tegas meralat pernyataan jaksa.

Kuasa hukum terdakwa, Irwan Muin mengatakan, seluruh keterangan saksi membantah fakta di persidangan sebelumnya sebab ahli akuistik KPK hanya menerima data digital rekaman suara tanpa melakukan validasi keaslian HESH sampel suara.

Disamping itu proses pemotongan sampel-sampel suara secara digital yang dilakukan oleh KPK tidak dibuatkan laporan secara tertulis sehingga tidak diketahui siapa pejabat di KPK yang melakukan proses forensik tersebut.

“Ahli juga menyebut bahwa secara profesional keahlian hasilnya tidak sah dan tidak bisa diajukan sebagai barang bukti dalam proses peradilan, serta akibatnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara profesional,” katanya.

Video Editor: Andi Hermanto
Editor: Awang Darmawan

Rekomendasi Berita

Baca Juga