Erupsi Gunung Karangetang, Masih Ada Ratusan Warga Terisolir

21

SULSELSATU.com – Memasuki hari ke-5 masa tanggap darurat Gunung Karangetang di Kabupaten Sitarp, Sulawesi Utara, ratusan orang dilaporkan masih mengungsi. Bahkan masih banyak penduduk di sekitar gunung berapi itu yang terisolir.

Berdasarkan keterangan tertulis Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB , Sutopo Purwo Nugroho yang diterima Suara.com, Senin (11/2/2019), Gunung Karangetang erupsi sejak 4 Februari pekan lalu.

Sutopo menyebut, ada empat kecamatan yang terdampak erupsi Gunung Karangetang, yakni Kecamatan Siau Barat Utara, Siau Tengah, Siau Timur, dan Siau Timur Selatan. Kecamatan yang paling parah terkena dampak erupsi Gunung Karangetang adalah Kecamatan Siau Barat Utara.

“Seluruh penyintas berasal dari kecamatan ini. Sedangkan untuk tiga kecamatan lain hanya terdampak abu vulkanik,” kata Sutopo.

Dari data BNPB, para penyintas mengungsi di shelter Passeng, jumlahnya ada 132 jiwa atau 34 kepala keluarga, terdiri dari 69 orang laki-laki dan 63 perempuan.

Lalu di pengungsian SD GMIST Batubulan ada 42 orang atau 11 kepala keluarga, terdiri dari 20 laki-laki dan 22 perempuan. Ada juga 42 orang yang mengungsi di rumah-rumah kerabat.

Total jumlah penyintas per 10 Februari 2019 adalah 216 jiwa, bertambah 3 jiwa dari hari kemarin.

Selain itu, terdapat 499 jiwa yang masih terisolir di Kampung Batubulan di mana 42 jiwa berstatus penyintas dan 457 jiwa tetap tinggal di rumah masing-masing.

Lokasi terisolir adalah Kampung Batubulan. Rombongan Bupati, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencoba mengakses Kampung Batubulan. Perjalanan laut ditempuh dari Pelabuhan Pehe ke dermaga Batubulan selama 30 menit.

Kapal nelayan terkadang tidak dapat merapat karena kondisi tinggi gelombang dan cuaca. Saat ini, BPBD menyewa kapal nelayan untuk mendistribusikan bantuan ke Kampung Batubulan.

Bila sudah sampai di dermaga Batubulan, maka pengunjung perlu berjalan kaki menempuh medan curam sejauh 900 meter. Akses ini berupa jalan setapak yang dibeton sekkitar 80 hingga 100 cm, kondisi jalanan berlumut. Kendaraan roda dua bisa melintas namun perlu ekstrahati-hati.

Lokasi pengungsian warga Kampung Batubulan, yakni SD GMIST dinilai masih aman dari aliran lava, yakni berjarak sekitar 1 hingga 1,5 km dari lava. Namun aktivitas Gunung Karangetang masih perlu diwaspadai karena sifatnya fluktuatif.

Sutopo juga menyatakan, anak-anak di Kampung Batubulan dapat kembali bersekolah mulai Senin (11/2/2019) hari ini di SD GMIS dengan pembagian jadwal menyesuaikan dengan kondisi penyintas.

“Masyarkat setempat butuh air bersih dan air minum. Selama ini mereka mengandalkan air tadah hujan,” katanya.

Pasokan aliran listrik di Kampung Batubulan juga terbatas. Pengiriman genset melalui jalur laut sulit dilakukan. PLN juga kesulitan menyediakan listrik di Kampung Batubulan karena kases jalur darat yang tertutup aliran lava. Saat ini warga mengandalkan genset sebanyak empat unit, dengan BBM yang terbatas.

Rekomendasi Berita

Baca Juga