Polda Bakal Evaluasi Internal Pasca Kijang Divonis Bebas

53
Dirnarkoba Polda Sulsel, Kombes Pol Hermawan. (Sulselsatu/Hermawan Mappiwali)

SULSELSATU.com, MAKASSAR– Dirnarkoba Polda Sulsel, Kombes Pol Hermawan bakal melakukan evaluasi di jajaran internalny soal proses penetapan tersangka Syamsul Rijal alias Kijang sebagai bandar narkoba pada tahun 2018 lalu.

Hal ini diungkap Hermawan usai mengetahui bahwa empat saksi kunci yang menjadi dasar Polres Pinrang menetapkan Kijang sebagai DPO 2016 lalu justru mencabut keterangannya saat bersaksi di PN Makassar.

Para saksi menerangkan, keempat pelaku dibujuk oleh pemilik sabu sebenarnya, Puang Salihin untuk menunjuk Kijang sebagai pemilik sabu tersebut. Sebagai imbalan, biaya hidup para saksi dan keluarganya bakal ditanggung Puang Salihin.

Namun Salihin yang lolos dari jeratan hukum justru mengingkari janjinya sehingga para saksi buka mulut.

Sementara Penyidik Polres Pinrang yang tiga kali dipanggil ke Persidangan sebagai saksi tidak pernah hadir.

Atas sejumlah informasi inilah yang membuat pihak Polda Sulsel bakal melakukan evaluasi di jajaran internalnya.

“Infonya saya tampung buat evaluasi,” ujar Kombes Hermawan, Selasa (12/2/2019) petang.

Hermawan juga mengakui bahwa proses penangkapan Kijang merupakan hasil upaya persuasif dengan keluarga Kijang di Kalimantan Utara, sehingga pada akhirnya Kijang menyerahkan diri pada bulan Mei 2018 lalu.

“Memang hasil koordinasi kita dengan keluarga tersangka. Betul upaya persuasif,” imbuh Hermawan.

Sebelumnya, perburuan Kijang sebagai bandar narkoba dilakukan oleh penyidik Polres Pinrang. Namun, kasus ini diambil alih oleh Polda Sulsel pasca mengamankan Kijang.

Namun belakangan, Kijang divonis bebas oleh hakim Pengadilan Negeri Makassar lantaran tidak ada bukti yang kuat yang mendukung Kijang sebagai bandar narkoba.

Padahal sebelumnya, jaksa penuntut umum, Hariani menuntut majelis hakim memvonis Kijang dengan hukuman enam tahun penjara serta denda Rp1 miliar subsider 2 bulan penjara. Jaksa menuntut Kijang melanggar pasal pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dalam dakwaan pertama.

Berikut bunyi pertimbangan majelis hakim yang diketuai Rika Mona Pandegirot selaku hakim ketua, serta Cening Budiana dan Aris Gunawan selaku hakim anggota:

“Menimbang bahwa dari fakta hukum yang terungkap di persidangan terutama saksi Edy, Ilo, Mustafa Awing yang merupakan narapidana dalam perkara narkotika di Pinrang yang perkaranya sudah diputus dengan hukuman 16 tahun.

“Dalam berita acara penyidikan menerangkan bahwa barang bukti yang dihadirkan dalam perkara para saksi milik terdakwa dan terdakwa adalah bos dari saksi-saksi namun dalam persidangan, saksi-saksi telah mencabut keterangannya dalam BAP tersebut khusus tentang kepemilikan barang bukti bukanlah milik terdakwa tapi milik Puang Salihin yang pada saat itu juga sempat diamankan bersama saksi-saksi dan saksi-saksi juga sudah membuat surat pernyataan yang diserahkan di persidangan.”

“Menimbang bahwa saksi-saksi menunjuk atas perintah dari Puang Salihin yang keberadaannya tidak diketahii lagi dimana. Dan saksi-saksi tega menunjuk terdakwa karena dijanjikan biaya hidup saksi-saksi dan keluarga akan ditanggung Salihin tapi setelah proses persidangan selesai Salihin tidak pernah memenuhi janjinya,” demikian putusan majelis hakim.

Penulis: Hermawan Mappiwali
Editor: Hendra Wijaya

 

Rekomendasi Berita

Berita Terkini

Ini Empat OPD yang Jadi Lokus Kunjungan Benchmarking Diklatpim Asal Selayar

SULSELSATU.com, PAREPARE - Sebanyak 40 peserta pendidikan kilat pimpinan...

Luncurkan Gerakan ANTIK, Manajemen Hotel Aston Bersihkan Pantai Losari

SULSELSATU.com, MAKASSAR - Jelang ulang tahun yang ke-7, Aston...

Taufan Ajak Peserta Diklatpim Asal Selayar Tanamkan Jiwa Integritas

SULSELSATU.com, PAREPARE - Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe...

Baca Juga